Akar Tradisi Toleransi dalam Masyarakat Indonesia

212
Akar Tradisi Toleransi dalam Masyarakat Indonesia
Foto: billyhalim/pixabay.com

1001indonesia.net – Kuatnya tradisi toleransi di Indonesia dapat kita telusuri dari sejarah pembentukan peradaban negeri ini. Sejarah Nusantara adalah sejarah pertautan dari beragam peradaban besar, mulai dari Hindu, Buddha, Islam, dan kebudayaan Barat.

Yang terjadi dalam pertautan itu bukan hanya sekadar masuknya budaya-budaya besar ke Nusantara, melainkan sebuah dialog yang aktif dan konstruktif. Dialog itu menghasilkan sesuatu yang baru yang khas Nusantara. Dengan demikian, masyarakat Nusantara sebenarnya tidak melakukan replikasi atas apa yang datang dari luar, mereka justru juga menciptakan kebudayaan baru.

Karena Nusantara menjadi tempat pertautan dari beragam peradaban dan kebudayaan, maka pengalaman keragaman merupakan sesuatu yang inheren dalam masyarakat Nusantara. Kondisi ini menjadi lahan subur bagi pertumbuhan tradisi toleransi di Indonesia.

Dari sejarah Nusantara, kita bisa melihat bahwa masyarakat Nusantara sangat terbuka
terhadap semua kebudayaan yang berasal dari luar. Dengan daya kreativitasnya, kebudayaan-kebudayaan itu kemudian “dikunyah” sehingga menghasilkan bentuk budaya baru yang sesuai dengan kondisi setempat.

Kenyataan ini sangat disadari oleh para pendiri bangsa ketika mereka merumuskan prinsip hidup bersama untuk Indonesia merdeka di pertengahan abad XX. Mereka berhasil menangkap jiwa dari Nusantara, yakni semangat gotong royong, sebuah semangat yang mencoba merangkul semua untuk tujuan dan kebaikan bersama.

Rumusan itu mereka tuangkan dalam lima prinsip hidup bersama yang dikenal sebagai
Pancasila. Kini kita menyadari betul bahwa Pancasila menjadi perekat hidup bersama. Setiap kali ada gangguan dalam kehidupan kolektif, kita selalu diingatkan oleh pesan yang ada dalam Pancasila.

Pembentukan Peradaban

Mari kita ambil contoh Kepulauan Aru di Provinsi Maluku. Satu kepulauan ini saja mencakup sekitar 300-an pulau besar dan kecil. Atau Kepulauan Anambas yang mempunyai jumlah pulau sekitar 238 pulau-pulau kecil, dan berbatasan langsung dengan Vietnam, Malaysia, dan Singapura.

Inilah yang memberikan penjelasan mengenai Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah total mencapai 13.466 pulau. Terdiri atas 5 kepulauan
besar, yaitu Kalimantan, Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Jawa, juga 30 kelompok kepulauan kecil lainnya.

Kepulauan Indonesia terbentuk dari pegunungan yang membujur dari barat ke timur, membuatnya menjadi salah satu wilayah paling vulkanik di dunia.

Lihat juga: Cincin Api Dunia

Indonesia memiliki luas daratan 1.910.000 kilometer persegi dan luas lautan 6.279.000 kilometer persegi, dilewati khatulistiwa, terletak di persilangan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Penduduk Indonesia kini berjumlah sekitar 255 juta orang. Mereka terdiri atas beragam suku, di antaranya Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Madura, Betawi, Minangkabau, Bugis, Banjar, Bali, Aceh, Dayak, Sasak, dan sebagainya. Lebih daripada 700 bahasa daerah memiliki penutur dalam jumlah signifikan, dan terdapat satu bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia, yang berakar dari Bahaya Melayu.

Lihat juga: Jejak Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di Kepulauan Nusantara

Di antara para pemeluk agama, tercatat 87,2% Muslim, 7% Kristen, 2,9% Katolik, 1,7% Hindu, 0,9% Buddha dan Khonghucu, sementara 0,4% lainnya menganut kepercayaan berbeda.

Nama Indonesia, yang berarti pulau-pulau India, dipopulerkan oleh seorang etnolog Jerman Adolf Bastian dan telah digunakan sejak 1884 untuk menyebut semua pulau antara Australia dan Asia. Sempat populer dengan studi-studi Cornelis van Vollenhoven, Indonesia semakin dirujuk menjadi subjek pengetahuan tersendiri.

Di tahun 1930, “Indonesia” dipakai sebagai subjek cita-cita kebangsaan dalam pembelaan Sukarno, dengan judul “Indonesia Menggugat”. Nama inilah yang kemudian dipilih oleh para pejuang kemerdekaan untuk menyebut suatu bangsa baru yang hendak mereka
bentuk dan kemudian diproklamasikan bersama oleh SukarnoHatta pada 17 Agustus 1945.

Pahlawan nasional E.F.E. Douwes Dekker sempat menghidupkan kembali istilah Nusantara dari masa Majapahit, yang diberi makna baru sebagai “kepulauan di antara dua benua
dan dua samudra,” sebagai nama bagi negeri kepulauan ini.

Sejak awal, Indonesia selalu beragam dan terbuka terhadap pengaruh yang datang dari luar. Keberagaman ini melahirkan suatu Indonesia yang kaya, dan sifat keterbukaannya terus membentuk ulang Indonesia menjadi lebih kaya.

Asimilasi tersebut sekaligus menunjukkan adanya energi kreatif yang dimiliki bangsa ini. Indonesia bukan sekadar penerima budaya lain, melainkan pencipta yang  menghasilkan suatu budaya baru.

Merujuk kakawin Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular dari masa Majapahit pada abad XIV,
Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu jua) dijadikan semboyan pada lambang negara Garuda Pancasila.

Tak hanya majemuk secara kultural, Indonesia adalah negara hibrida yang terbentuk sebagai suatu persilangan atau kombinasi di antara beragam budaya berlainan. Indonesia adalah suatu melting pot, tempat berbagai suku dan ras membangun suatu kohesivitas dari bayangan bersama tentang kesatuan di antara mereka.

Inilah juga suatu tempat berlangsungnya suatu dialog antar-peradaban yang berbeda. Mereka saling memberi pengaruh dalam jangka panjang tanpa menimbulkan suatu
guncangan radikal.

Tak pelak, Indonesia masa lalu menyediakan warisan tradisi toleransi yang luar biasa bagi kehidupan kontemporer untuk dapat berdamai dengan perbedaan dan untuk memperkaya peradaban lewat proses memberi dan menerima satu sama lain.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud Toleransi. Dimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − ten =