Penemuan Spesies Kodok Merah Baru di Gunung Ciremai

264
Kodok Merah
Spesies kodok merah di Gunung Ciremei pertama kali ditemukan tahun 2012 saat TNGC mengadakan lomba foto flora dan fauna Gunung Ciremei. (Foto: Liputan6.com)

1001indonesia.net – Pada 2017, berdasarkan penelitian yang dilakukan LIPI, kodok merah yang ditemukan di Gunung Ciremei (3.078 Mdpl) ditetapkan sebagai spesies baru. Penemuan ini menambah daftar keragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Kodok merah dengan nama latin Leptophryne cruentata merupakan satwa endemis Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Menurut Azis Abdul Kholik, sampai tahun 1976, jumlah spesies yang biasa disebut juga dengan nama kodok darah (bleeding toad) itu diperkirakan sangat melimpah. Namun, setelah terjadinya letusan Gunung Galunggung pada 1987, populasi spesies tersebut jauh menurun.

Kodok merah memiliki ciri khas kulit berwarna hitam yang dipenuhi dengan bintik berwarna merah darah, kuning, atau putih marmer. Pangkal paha berwarna merah, tympanum tidak terlihat jelas. Tubuhnya ramping dengan ukuran antara 2–4 cm.

Berudu kodok merah juga khas jika dibandingkan dengan berudu katak yang lain. Warnanya hitam kelam. Terdapat lapisan transparan pada bagian luarnya. Ukurannya kurang lebih 0,5 cm.

Awalnya spesies yang termasuk dalam jenis amfibi tersebut hanya ditemukan di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun. Namun, pada 2012 kodok merah ditemukan juga di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Spesies tersebut kali pertama dijumpai di Blok Ipukan, Gunung Ciremai. Lembah Ipukan berada di ketinggian 1.200–1.400 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini terletak di Dusun Palutungan, Cisantana, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Penemuan kodok merah terjadi saat TNGC menggelar lomba foto flora dan fauna Gunung Ciremai. Salah satu peserta diketahui mengambil gambar katak tersebut.

Semula peneliti menganggap kodok merah yang baru ditemukan itu berjenis sama dengan kodok merah endemis yang ada di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun.

Seiring waktu, diketahui ada ratusan kodok merah yang tersebar di sana. Sebab itu, pengamatan semakin intensif dilakukan.

Pada 2013, sebelum temuan tersebut dipublikasikan, dilakukan survei biodiversitas oleh tim dari Balai TNGC bekerja sama dengan Yayasan PILI (Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) dan Pertamina. Pengamatan itu dilakukan di empat lokasi yang menjadi habitat katak merah, yaitu aliran Paderek (Curug Cilutung, Curug Cisurian, dan Curug Batu Nganjut) dan aliran Kopi Bojong.

Empat tahun kemudian (2017), dilakukan pengamatan terhadap habitat dan populasi kodok merah oleh PEH Balai TNGC. Dari hasil pengamatan tersebut, ditemukan lokasi baru yang menjadi habitat kodok merah, yaitu di aliran Ciinjuk, mata air Cadas Belang, dan mata air Sigedong.

Di tahun yang sama, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga melakukan penelitian terhadap populasi kodok merah di Gunung Ciremei. Tak hanya meneliti suara katak, periset LIPI juga mengambil sampel salah satu katak untuk meneliti DNA serta perbedaan molekuler dan morfologi satwa tersebut.

Berdasarkan hasil pengujian labotarium terhadap genetik, suara, dan morfologinya, disimpulkan bahwa katak merah yang ada di Gunung Ciremai merupakan spesies baru.

Spesies kodok merah di Gunung Ciremei berbeda dengan yang ada di Gunung Halimun dan Gunung Gede Pangrango. Spesies tersebut justru mirip dengan yang ada di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Spesies katak merah itu lalu diberi nama Latin Leptophryne javanica sp.

Di dunia, kodok merah dianggap sebagai salah satu hewan langka yang terancam punah. Sejak 2004, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist mencatatnya dengan status critically endangered atau tingkat keterancaman yang tinggi.

Namun, di Indonesia sendiri, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya sangat sempit, satwa unik sekaligus endemik ini belum masuk dalam daftar hewan yang dilindungi.

Ciri-ciri khusus

Katak merah di Gunung Ciremei memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan yang ada di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun. Katak tersebut berukuran relatif kecil. Tubuh dan anggota badan cenderung ramping. Ujung jari tangan dan kaki membulat.

Selain itu, tubuh katak merah Gunung Ciremei berbintik putih atau kuning. Warna merah berada di bagian bawah atau perut serta di sela selaput kaki dan tangan. Diketahui, spesies baru kodok merah ini merupakan predator pemakan ulat dan serangga kecil.

Kodok Merah
Kodok merah di Gunung Ciremei ditetapkan sebagai spesies baru yang berbeda dengan yang ada di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun. (Foto: jabar.sindonews.com)

Katak ini juga berperan penting dalam menjaga ekosistem di Gunung Ciremai. Salah satunya, keberadaan katak ini berfungsi sebagai indikator kebersihan sungai dan air di Gunung Ciremai.

Kodok merah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perubahan iklim, dan perusakan hutan. Karena kepekaannya yang tinggi ini, keberadaan spesies tersebut dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.

Baca juga: Orangutan Tapanuli, Spesies Orangutan Baru di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen + 9 =