Jejak Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di Kepulauan Nusantara

220
Jejak Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di Kepulauan Nusantara
Prasasti Kedukan yang menggunakan aksara Pallawa merupakan jejak tertua penggunaaan Bahasa Melayu dalam media tulis. (Foto: wacana.co)

1001indonesia.net –  Bahasa Melayu merupakan salah satu dari kira-kira 500 bahasa dalam rumpun bahasa Austronesia yang ditemukan di daerah yang terentang dari Selandia Baru menyeberangi lautan Teduh ke Asia Tenggara, bahkan menyeberangi Samudera Hindia ke Madagaskar.

Bahasa Melayu termasuk subkelompok Indonesia dalam bahasa Austronesia. Subkelompok ini mencakup bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, dan sebagian besar bahasa lain di Indonesia. Sebenarnya bahasa Melayu bukan bahasa suku bangsa terbesar di Indonesia. Namun, karena alasan sejarah dan sosial, ia menjadi lingua franca (bahasa perhubungan) bukan saja di Kepulauan Indonesia, melainkan juga di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Sejarah

Kita tak tahu di mana tepatnya bahasa ini mula-mula berkembang. Catatan tertua dari bentuk bahasa Melayu tertulis ditemukan pada prasasti batu di Sumatra Selatan. Prasasti Melayu kuno ini adalah titah yang diperintahkan untuk diabadikan pada batu oleh para penguasa.

Yang tertua di antaranya adalah Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di dekat Palembang. Prasasti bertanggal 682 M tertulis dalam huruf Pallawa yang berasal dari India. Prasasti ini dipercaya untuk memperingati ekspedisi melawan kerajaan Khmer. Beberapa kata pinjaman dari bahasa Sanskerta.

Namun, pengetahuan tulisan Pallawa di kalangan para penutur bahasa Melayu sangat terbatas. Sebagian besar dari mereka tidak dapat menulis. Namun, sebagai bahasa percakapan atau bahasa lisan, bahasa ini tumbuh subur, baik di istana kerajaan maupun di kalangan rakyat jelata.

Bahasa ini memiliki ciri luar biasa karena dapat disederhanakan sehingga menghasilkan bahasa Melayu pasar yang dapat digunakan oleh semua kalangan untuk kebutuhan sehari-hari. Hal itu yang sangat mungkin menjadi alasan mengapa bahasa Melayu dapat tersebar ke seluruh Kepulauan Indonesia.

Dapat dikatakan sejak kira-kira tahun 1000 M, bahasa ini menjadi bahasa percakapan (lingua franca) yang umum digunakan banyak orang di wilayah ini, terutama mereka yang terlibat dalam perdagangan.

Masuknya Islam

Ketika pedagang dan penyiar Islam tiba di sekitar tahun 1300 M dan memulai proses penyebaran Islam, mereka menemukan bahasa Melayu yang harus mereka pelajari. Namun, karena di antara orang Melayu tidak dikenal kemampuan menulis, maka para mubaligh mulai mengajar mereka menggunakan tulisan yang mereka gunakan, yaitu tulisan Arab.

Contoh tertua yang masih ada dari bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab adalah prasasti pada batu yang ditemukan di negeri Trengganu di pantai timur Semenanjung Melayu. Belum ada kepastian tanggal batu Trengganu, tetapi pasti sekitar abad ke-14 M. Ada titah yang mendorong ketaatan pada Islam, tetapi mengeluarkan undang-undang yang lebih banyak dari tradisi India atau Jawa.

Para pedagang dan mubaligh juga membawa serta jenis alat tulis baru, seperti kertas, pena, dan tinta. Alat tulis tersebut tidak seperti daun tal yang biasa digunakan masyarakat Nusantara, yang relatif lebih mudah dibuat.

Di tangan orang Melayu, aksara Arab diubah dan huruf khusus diciptakan untuk bunyi yang ditemukan dalam bahasa Arab. Tulisan Arab-Melayu dikenal sebagai Aksara Jawi, digunakan untuk penulisan naskah hingga abad ke-19. Seperti aksara Arab, tulisan Jawi tradisional tak mudah dibaca karena kurang alat bantu visual, seperti huruf kapital, titik, alinea, serta tanda petik.

Baca juga: Aksara Pegon, Bentuk Akulturasi Budaya Islam dan Jawa

Bahasa Melayu Tradisional

Melayu tradisional merupakan istilah pada bahasa Melayu yang tersebar di Kepulauan Indonesia hingga abad ke-19. Beribu-ribu naskah yang ditulis dalam bahasa Melayu Tradisional dengan aksara Jawi masih ada hingga sekarang. Hal ini menunjukkan kestabilan selama berabad-abad. Anak-anak sekolah dapat diajari membaca dan memahami bahasa Melayu yang digunakan hampir 400 tahun yang lalu tanpa kesulitan berarti.

Aksara Latin

Aksara utama ketiga dan terakhir yang digunakan untuk menulis dalam bahasa Melayu adalah aksara Latin atau Romawi. Aksara ini diperkenalkan oleh orang Belanda dan Inggris sejak abad ke-17 dan setelahnya.

Para misionaris Kristen yang memelopori perkembangan sistem ejaan Romawi. Terbantu oleh perkembangan percetakan massal, tulisan Latin menggeser tulisan Jawi dalam banyak bidang. Bahkan kini, penggunaan tulisan Jawi nyaris hilang di Indonesia.

Dalam beberapa hal, penerimaan dan penggunaan aksara Latin berfungsi memperkuat peran Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi di Kepulauan Indonesia.

Bahasa Indonesia

Hindia Timur dan Malaya menjadi jajahan kekuasaan kolonial yang berbeda. Namun, hal ini tidak memengaruhi penggunaan bahasa Melayu di kedua daerah tersebut. Bahasa Melayu menyebar melewati batas kedua negara.

Dalam perkembangan waktu, bahasa ini semakin banyak ditulis dalam aksara Latin. Sejak itu, bahasa Melayu yang digunakan di satu wilayah menjadi semakin mirip dengan bahasa Melayu yang digunakan di wilayah lain. Hal ini membuat orang Melayu yang berada di daerah kekuasaan Belanda dan Inggris dapat saling berhubungan tanpa kesulitan dalam berbahasa.

Ketika istilah “Indonesia” mulai digunakan pada tahun 1920-an, bahasa Melayu yang digunakan di Hindia Timur dikenal sebagai “bahasa Indonesia”. Istilah tersebut kemudian dikukuhkan dalam Sumpah Pemuda yang diucapkan oleh pemuda nasionalis Indonesia pada 28 Oktober 1928. Bagian ketiga dari sumpah tersebut berbunyi, “Kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Pada 1942, penjajah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda. Kemudian pada 1945, saat Indonesia merdeka, bahasa Belanda yang selama pendudukan kolonial Belanda digunakan sebagai bahasa pemerintahan, dibuang dan diganti dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Demikian pula ketika Malaysia merdeka, bahasa Melayu menjadi bahasa perserikatan. Namun, karena Inggris dan Belanda masing-masing telah mengenalkan ejaannya masing-masing untuk bahasa Melayu, ejaan indonesia dengan Malaysia sedikit berbeda. Hal itu kemudian diperbaiki melalui persetujuan yang berlaku tahun 1972 untuk membakukan ejaan kedua negara.

Kini setelah bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia baku diajarkan di sekolah, bahasa Melayu pasar menghilang. Bahasa Melayu yang telah digunakan selama 1000 tahun di kawasan ini kini menjadi bahasa nasional Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Diperkirakan, penutur bahasa Melayu terbesar kelima di dunia.

Sumber: Russel Jones, “Bahasa Melayu: Lingua Franca,” dalam John H. McGlynn, Indonesia Heritage 10: Bahasa dan Sastra, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.

LEAVE A REPLY

three × 4 =