Kakawin Sutasoma, Sastra Religius yang Menginspirasi Nilai Persatuan

1187
Kakawin Sutasoma, Sastra Religius yang Menginspirasi Nilai Persatuan
Lukisan Bali yang menggambarkan salah satu adegan dalam Kakawin Sutasoma. (Foto: Australian Museum)

1001indonesia.net – Kakawin Sutasoma digubah Mpu Tantular sekitar abad ke-14 pada saat kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Prabu Hayam Muruk. Kakawin ini memiliki posisi penting bagi bangsa Indonesia karena menjadi salah satu sumber inspirasi bagaimana mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang dimiliki Indonesia. Dari karya inilah, kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang tersemat pada lambang negara kita berasal.

Kakawin Sutasoma dianggap sebagai salah satu dari  karya sastra Jawa Kuno yang besar dan melampaui zamannya (Mastuti dan Bramantyo, 2009). Diperkirakan mulai ditulis pada tahun-tahun sesudah 1365, ketika Nāgarakrtāgama selesai ditulis, dan sebelum tahun 1389, ketika Prabu Hayam Muruk mangkat.

Digemari Masyarakat Bali

Sampai sekarang, Kakawin Sutasoma masih dihargai dan digemari oleh masyarakat Hindu Bali. Bagi mereka, kakawin ini—seperti wiracarita Mahabharatamenjadi sumber pelajaran rohani. Saat ini, kisah Sutasoma masih hidup dalam berbagai aktivitas masyarakat Bali, seperti dalam tradisi mabasan (pembacaan sastra kuno), drama tari, dongeng anak, dan karya seni lukis.

Ada banyak tuturan, lukisan, pahatan, dan pagelaran wayang yang didasarkan atas Kakawin Sutasoma dalam kebudayaan Bali. Hal tersebut menunjukkan betapa kakawin ini sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Bali. Kedalaman cerita yang dikandung membuat daya tarik kakawin ini tidak lekang oleh waktu.

Karya Sastra Religius

Para peneliti belum berhasil memastikan sumber cerita yang termuat dalam kakawin ini. Namun, berdasarkan kandungan cerita, bisa diketahui bahwa kakawin ini merupakan sastra religius berlatar Buddha Mahayana yang kental sekali dengan ajaran Buddha. Oleh karena itu, hampir bisa dipastikan bahwa Mpu Tantular yang menulis kakawin ini adalah seorang pengikut ajaran Buddha.

Daya tarik utama Kakawin Sutasoma bagi kalangan peneliti adalah informasi yang dikandungnya mengenai religiusitas masyarakat Majapahit kala kakawin ini dibuat. Khususnya mengenai bentuk Buddhisme Mahayana yang ada di Majapahit dan hubungannya dengan Hindu Siwa.

Dalam kakawin ini digambarkan bagaimana Buddhisme Mahayana dan Hindu Siwa dapat hidup berdampingan, saling memengaruhi, dan kemudian menemukan kesatuan atau keidentikan dalam ajaran pokok mereka.

Bhinneka Tunggal Ika

Dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menggagas rumusan konsep keagamaan baru. Sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di daerah Jawa Tengah, Hindu Siwa dan Buddha Mahayana hidup berdampingan. Dari candi-candi tempat pemujaan dua agama tersebut, dapat dilihat bahwa keduanya merupakan aliran keagamaan yang terpisah dengan perbedaan yang jelas.

PancasilaBaru pada masa Mpu Tantular, muncul gagasan untuk menjembatani berbagai aliran keagamaan yang ada di Majapahit pada waktu itu. Dengan ungkapan bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, Mpu Tantular menciptakan rumusan bagaimana persatuan dalam bidang agama dapat diwujudkan tanpa kedua agama tersebut harus melebur menjadi satu.

Terinspirasi oleh upaya yang dilakukan Majapahit, bangsa Indonesia kemudian mengambil ungkapan Bhinneka Tunggal Ika tersebut untuk disematkan pada lambang Garuda Pancasila.

Persatuan yang diupayakan Majapahit dulu diperluas ke dalam berbagai bidang. Tidak hanya bidang agama saja, tapi juga suku, ras, golongan, adat istiadat, dan budaya, sehingga terbentuklah kesatuan dalam kemajemukan. Sebuah persatuan yang tidak menghilangkan warna kebhinnekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × two =