Burung Enggang, Burung yang Dikeramatkan oleh Suku Dayak

51896
burung enggang
Burung Enggang

1001indonesia.net – Burung enggang atau rangkong gading (Rhinoplax vigil) dalam bahasa Inggris disebut helmeted hornbill. Nama hornbill merujuk pada paruh burung-burung dalam jenis rangkong yang memiliki tanduk atau cula. Oleh masyarakat Dayak, enggang termasuk burung yang dikeramatkan.

Di dunia, terdapat sekitar 54–62 spesies rangkong yang tersebar di wilayah Asia dan Afrika. Sekitar 13 spesies di antaranya dapat ditemukan di Indonesia, dan beberapa di dalamnya merupakan spesies endemik, seperti rangkong Sumba (Rhyticeros everetti) dan rangkong atau julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), dan kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus).

Perlu dicatat bahwa rangkong gading bukanlah spesies endemik Indonesia, karena wilayah persebarannya juga meliputi Malaysia, Thailand, Myanmar, Brunei, dan pernah tercatat di Singapura meskipun kini diduga punah di negara tersebut.

Burung enggang gading tersebar di Semenanjung Thailand-Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Spesies ini memiliki balung (kasque) padat berwarna kuning keemasan hingga kemerahan, bukan berongga seperti enggang lain. Paruhnya besar dengan warna kuning hingga oranye kemerahan, pangkal hitam, dan ujung berwarna gading/putih.

Warna bulu tubuh dominan hitam, namun bagian leher dan bawah tubuh berwarna putih. Sayap memiliki bulu terbang putih dengan ujung hitam. Ekornya panjang, dengan dua helai bulu tengah yang sangat memanjang, dan berpola putih dengan pita hitam lebar di bagian tengah.

Rangkong gading termasuk dalam famili Bucerotidae dan bertubuh besar. Panjang tubuhnya mencapai 110–120 cm, belum termasuk dua helai bulu ekor tengah yang dapat memanjang hingga tambahan 50 cm, sehingga total panjangnya bisa mencapai 170 cm. Berat jantan sekitar 3 kg, sementara betina sekitar 2,7 kg. Makanan utamanya adalah buah-buahan, namun sesekali mereka juga memakan serangga, kadal kecil, atau hewan kecil lainnya.

Burung yang termasuk dalam spesies yang dilindungi ini hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan suku Dayak. Makna burung enggang bagi suku Dayak menjadi salah satu tanda kedekatan masyarakat Nusantara dengan alam sekitarnya.

Masyarakat suku Dayak sangat menghormati burung enggang, dan menganggapnya sebagai panglima burung. Hampir seluruh bagian tubuh burung enggang menjadi lambang dan simbol kebesaran dan kemuliaan suku Dayak.

Burung enggang juga dianggap sebagai lambang perdamaian dan persatuan. Oleh karena itu, burung enggang dapat kita temukan di hampir setiap ruang masyarakat Dayak, seperti pada patung, ukiran, lukisan, pakaian, rumah, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, juga di makam-makam.

Bagi orang Dayak, enggang juga menjadi simbol seorang pemimpin yang ideal. Hal ini dikarenakan burung enggang terbang dan hinggap di gunung-gunung dan pepohonan yang tinggi, bulu-bulunya indah, dan suaranya terdengar ke mana-mana.

Sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyatnya. Secara keseluruhan, burung enggang menyimbolkan watak seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Tari enggang mengambarkan kehidupan sehari-hari burung enggang. (Sumber: titahkusumas.blogspot.id)
Tari enggang mengambarkan kehidupan sehari-hari burung enggang. (Sumber: titahkusumas.blogspot.id)

Di masa lalu, bagian tubuh enggang digunakan dalam ritual dan simbol status. Saat ini, komunitas Dayak tertentu seperti Punan Aput di Long Sule dan Long Pipa telah meninggalkan penggunaan produk dari enggang karena menganggapnya sakral dan tidak dapat digantikan dengan uang.

Bulu ekornya yang memiliki warna hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai kostum dalam tari-tarian saat upacara adat. Para penari adat menggunakan bulu enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.

Burung yang panjangnya bisa mencapai lebih dari satu meter ini juga menjadi lambang kesetiaan dan kerukunan. Hal ini berangkat dari cara hidupnya yang unik. Burung enggang hidup berpasang-pasangan dan tidak dapat hidup tanpa pasangannya.

Burung enggang betina suka bertelur di bagian atas tunjang pohon yang memiliki lubang. Rangkong gading tidak akan membuat lubang sendiri, melainkan menggunakan lubang alami yang ada di pepohonan dengan tinggi minimal 5 meter.

Sarangnya ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Saat mengerami telurnya, rangkong gading betina tinggal di dalam sarang. Selama waktu pengeraman yang berlangsung lama ini (sekitar 4 bulan), enggang jantan akan memberi makan enggang betina melalui lubang kecil tersebut.

Sekarang, burung yang berperan dalam penyebaran benih pohon di hutan ini menjadi burung yang sangat langka dan sangat sulit ditemui di hutan Kalimantan. Penyusutan populasi enggang berakibat pada pelambatan pertumbuhan benih-benih pohon.

Habitat burung ini sebagian telah rusak oleh penebangan liar dan pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Belum lagi ulah para pemburu liar. Harga paruh dan bulu burung enggang yang sangat mahal menarik orang untuk memburunya.

Proses reproduksi enggang berlangsung lama. Dalam satu musim kawin, burung ini umumnya hanya menghasilkan 1–2 butir telur, dan hanya satu ekor anak yang biasanya berhasil tumbuh dewasa. Hal ini sangat berbeda dengan unggas pada umumnya yang dapat bertelur lebih banyak dan lebih sering.

Kesemuanya berdampak pada makin langkanya enggang di hutan-hutan Kalimantan. Berdasarkan data daftar merah IUCN, sejak 2015, rangkong gading berstatus kritis (critically endangered).

Jika hal ini dibiarkan, di kemudian hari sangat mungkin kita hanya mengenangnya melalui gambar dan rekaman video saja, sementara burung aslinya sudah punah dari muka bumi. (cs)

Burung Enggang

Baca juga: Burung Bidadari, Satwa Endemik Halmahera yang Terancam Punah

1 Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × four =