Cincin Api Dunia

877
Gunung Merapi, salah satu gunung berapi dalam lintasan Cincin Api Dunia
Gunung Merapi merupakan gunung berapi paling aktif, pola letusannya jadi alat ukur aktivitas vulkanik cincin api Indo-Pasifik. (Sumber: Flickr/Richard Arculus)

1001indonesia.net – Minggu pagi 26 Desember 2015, telepon genggam berdering (atau ber-buzz) hampir bersamaan di mana-mana. Ada kabar bahwa Aceh mengalami gempa yang luar biasa besar, dinyatakan sebesar 9,1 skala Richter.

Sekitar pukul 09.00, televisi menyusul dengan siaran mengenai dampak gempa. Liputan terutama mengenai Banda Aceh menunjukkan dampak kerusakan yang luar biasa.

Di beberapa tempat, air laut mulai naik. Tidak ada yang menduga bahwa kemudian terjadi tsunami yang luar biasa besar yang meluluhlantakkan sebagian besar bangunan dan infrastruktur Banda Aceh dan wilayah-wilayah pesisir lain.

Hubungan telepon genggam pun terputus, dan hanya kembali mulai terhubung pada Selasa 28 Desember 2015. Para ahli menunjuk kejadian ini sebagai tumbukan antara lempeng Andaman-Sumatra.

Sesudah gempa ini, menyusul letusan-letusan gunung berapi, besar dan kecil, di berbagai wilayah Nusantara, termasuk Merapi, Soputan, Sinabung, dan Kelud. Hal ini semakin menunjukkan bahwa Indonesia adalah lintasan pergerakan tektonik dan gunung berapi. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Cincin Api.

Disebut cincin api karena ada suatu lintasan gunung api aktif dan lempeng yang terkait dengan gunung-gunung tersebut. Cincin api dunia ini melintasi Nusantara, dan kemudian terkait dengan cincin api Asia-Pasifik. Nusantara menjadi tempat pertemuan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Selain gunung api yang sangat aktif, apalagi dibandingkan dengan belahan dunia lain, pergerakan lempeng bumi juga aktif. Kejadian gempa bumi, naik-turun permukaan bumi, perubahan suhu, kesemuanya memberikan informasi adanya intensitas aktif lintasan cincin api ini.

Sesungguhnya, cincin api ini dapat diamati dengan melihat kejadian terdahulu dan kejadian 20 tahun terakhir.

Pada September 2011 sampai dengan Oktober 2012, Kompas melakukan ekspedisi, yang dinamai Ekspedisi Cincin Api, yang menunjukkan lintasan sejarah ini dan juga dunia budaya manusia yang terkait dengannya.

Ekspedisi tersebut “menyinggahi” Gunung Tambora (meletus April 1815), patahan Toba-Sibayak-Sinabung-Tarutung, Gunung Krakatau (meletus 1883), Gunung Agung-Batur-Gunung Rinjani, Gunung Semeru-Penanggungan-Bromo-Ijen-Kelud, Gunung Merapi-Merbabu-Lawu-Sindoro-Sumbing-Dieng, Tangkuban Perahu-Salak-Papandayan-Galunggung, Kerinci-Dempo-Merapi-Sorik, Rokatenda-Egon-Lewo Tobi-tsunami Ende dan Larantuka, Sangihe-Ambon-Ibu-Soputan, Sesar Darat Liwa-Padang-Aceh dan Palu, Mentawai-Nias-Simeulue.

Dari sekitar 127 gunung aktif di Nusantara, 30 di antaranya ada di Jawa.

Kenyataan ini memberikan lintasan sejarah manusia Nusantara yang juga unik. Kemampuan adaptasi dibentuk selama berabad-abad. Memasuki masa modern, mungkin, adaptasi ini diinduksi oleh pemerintah. Meski demikian, daya adaptasi ini sudah tersimpan dalam bentuk folklore, bangunan, alat transportasi, ilmu falak, yang amat mewakili kekayaan nusantara. (ed)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 20 =