Pulau Weh, Keindahan Alam di Ujung Barat Indonesia

80
Pulau Weh
Foto: Axel Drainville/flickr.com

1001indonesia.net – Ujung barat Indonesia memiliki pesonanya tersendiri. Salah satunya adalah Pulau Weh, salah satu dari 111 pulau terluar di Indonesia. Banyak objek wisata alam di pulau yang dijuluki sebagai surga di ujung barat Indonesia ini.

Pulau Weh (atau We) adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pulau ini terletak di Laut Andaman. Kota terbesar di Pulau Weh, Sabang, adalah kota yang terletak paling barat di Indonesia.

Meski Sabang merupakan kota paling barat di Indonesia, namun pulau paling barat di Indonesia sebenarnya bukanlah Pulau Weh, melainkan Pulau Benggala. Pulau ini menjadi salah satu pulau terluar di Indonesia yang berbatasan langsung dengan perairan India.

Pulau Weh dulunya merupakan bagian dari Pulau Sumatra, tetapi kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Nama Weh sendiri berasal dari bahasa Aceh yang berarti pindah.

Pulau ini mempunyai dua teluk yang dalam dan terlindungi, yaitu Sabang dan Balohan, sebagai pelabuhan alam. Teluk ini juga sebagai sumber air bersih dengan letak yang strategis.

Setelah Terusan Suez dibuka pada 1869, pendatang yang ingin ke Indonesia tidak lagi melalui jalur selatan (Selat Sunda), melainkan melalui rute yang lebih ke utara, yaitu Selat Malaka yang berarti melalui Pulau Weh. Sayangnya tidak ada data tertulis yang merekam di masa tersebut.

Kondisi geografis

Pulau Weh berjarak kurang lebih 32,27 km dari Banda Aceh. Terletak pada koordinat 05 53′ 50″ LU dan 95 20′ 03″ BT. Luas pulau 126,43 m² dan secara administrasi terletak di Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Aceh.

Untuk sampai ke Pulau Weh, pengunjung dapat melalui jalur laut. Perjalanan dapat melalui Banda Aceh ke Pelabuhan Ulee Lheue yang memakan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Balohan, Kota Sabang. Perjalanan ini dapat dilakukan dengan kapal cepat dengan waktu 45 menit atau feri dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam sampai 2 jam. Sesampai di Sabang, pengunjung dapat menyewa mobil atau sepeda.

Keragaman biota

Perairan di pulau ini menjadi tempat bertemunya Samudera Hindia dan Selat Malaka. Tidak heran apabila pulau ini memiliki biota laut yang unik dan beragam. Pemerintah Indonesia telah menetapkan wilayah sejauh 60 km dari tepi pulau baik ke dalam maupun ke luar sebagai suaka alam.

Pada 1997-1999, Conservation International melakukan survei terhadap terumbu karang di wilayah tersebut. Menurut survei, keanekaragaman terumbu relatif sedikit, tetapi keanekaragaman spesies ikan sangat besar.

Pada 13 Maret 2004, spesimen langka dan tidak biasa dari spesies hiu bermulut besar (Megachasma pelagios), terdampar di pantai Gapang.

Hiu bermulut besar merupakan spesies hiu yang sangat langka, memiliki mulut besar yang khas, hidung yang sangat pendek dan lebar. Spesimen tersebut merupakan penemuan yang ke-21 (beberapa mengatakan ke-23) dari spesiesnya sejak penemuannya pada 1976.

Hiu jantan yang berukuran panjang 1,7 meter (5,58 kaki) dan memiliki berat 13,82 kg (30,5 pon) yang membeku dikirim ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk penelitian lebih lanjut. Sampai tahun 2006, hanya terdapat 36 penemuan hiu bermulut besar di Samudra Pasifik, Hindia, dan Atlantik.

Gempa bumi dan tsunami tahun 2004 memengaruhi ekosistem di pulau tersebut. Di Desa Iboih, petak tanaman bakau yang besar hancur. Puing dari daratan ditumpuk di karang-karang sekitarnya sebagai akibat tsunami. Pada 2005, sekitar 14.400 bibit bakau ditanam kembali untuk menyelamatkan hutan bakau tersebut.

Selain ekosistem bawah laut, pulau Weh juga merupakan satu-satunya habitat dari spesies katak yang terancam, bernama Bufo valhallae (genus Bufo). Karena penggundulan hutan di Pulau Weh, jumlah populasi dari spesies tersebut tidak dapat dipastikan.

Baca juga: Pantai Lhok Mee, Pesona Hamparan Pasir Putih di Aceh

Wisata di Pulau Weh

Pulau Weh terkenal akan keindahan alamnya. Pulau ini terbentuk secara vulkanik sehingga di tepi pantai mudah temukan batu-batu khas vulkanik.

Berikut ini beberapa obyek wisata di Pulau Weh

Pantai Anoi Itam

Salah satu yang membuat Pantai Anoi Itam menarik adalah peninggalan sejarahnya. Pantai ini banyak memiliki peninggalan sejarah dari zaman Perang Dunia II.

Hal yang menarik lainnya adalah pasir yang ada di Pantai Anoi Itam mengandung nikel yang beratnya diperkirakan 3 kali lipat dari pantai lain.

Meski Pantai Anoi Itam tidak berpasir putih, keindahan alam di sini tidak kalah dengan pantai-pantai eksotis lainnya.

Pantai Iboih

Pantai Iboih atau yang nama lokalnya Teupin Layeu merupakan salah satu primadona di Sabang. Pantai ini menawarkan bebatuan alam yang eksotis dan pasir putih keemasan. Air pantai begitu jernih hingga dasar laut terlihat dengan mata telanjang.

Aktivitas yang biasa dilakukan di pantai menyelam, snorkeling, berjemur, atau menjelajah pantai.

Pulau Rubiah

Konon nama pulau ini diambil dari nama seorang perempuan, Cut Nyak Rubiah, yang dimakamkan di pulau ini. Pulau Rubiah terkenal wisata bawah laut. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus menyeberang dari Pantai Iboih menggunakan kapal motor.

Aktivitas yang dilakukan menyelam dan snorkeling. Jika beruntung, kita dapat bertemu lumba-lumba.

Danau Aneuk Laot

Danau Aneuk Laot terletak di tengah Kota Sabang. Danau ini berasal dari bekas kepundan gunung berapi yang telah mati. Secara perlahan, kepundan ini terisi oleh air hujan sehingga terbentuklah danau.

Danau Aneuk menjadi sumber mata air untuk penduduk Pulau Weh. Danau Aneuk menawarkan panorama asri yang menyejukkan. Pemandangan sunset di pulau ini sungguh memanjakan mata.

Pantai Sumur Tiga

Dinamalan Sumur Tiga karena dulu di sekitar pantai terdapat tiga buah sumur. Air yang dihasilkan bukanlah air asin melainkan air tawar sehingga sumur tersebut menjadi sumber air bagi warga sekitar.

saat ini sumur tersebut sudah tidak dipergunakan lagi oleh warga sekitar, tetapi menjadi saksi sejarah akan masa lalu yang membanggakan.

Pantai Sumur Tiga memiliki pasir berwarna keputihan. Selain pemandangan indah, pantai ini juga memiliki bentang alam bawah laut yang tidak kalah indah.

Bagi penggemar diving atau snorkeling, pantai ini wajib dikunjungi. Sesuai namanya, Pantai Sumur Tiga memiliki tiga buah sumur dengan air tawar.

Tugu Nol Kilometer

Tugu Nol Kilometer atau disebut juga dengan nama Monumen Kilomeret Nol berbentuk senjata rencong dengan tinggi 22,5 meter. Tugu ini berdiri di atas tebing menghadap ke Samudera Hindia.

Tugu Nol Kilometer diresmikan pada 9 September 1997 oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno. Monumen ini menjadi simbol perekat dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah telah beberapa kali merenovasi tugu tersebut.

Dilansir dari Tempo.co, desain Tugu Kilometer Nol memiliki makna tersendiri. Empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol batas-batas negara, yaitu Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote.

Lingkaran besar pada tugu merupakan analogi dari angka nol. Ada pula motif senjata rencong menjadi simbol bahwa Aceh juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ornamen lainnya yang berbentuk segi delapan menggambarkan landasan ajaran Islam, kebudayaan Aceh, dan Nusantara dalam lingkup yang luas sesuai delapan penjuru mata angin. Setiap bagian tugu ini memiliki pesan-pesan kebangsaan yang menyatukan keberagaman Indonesia.

Baca juga: Tugu Khatulistiwa, Monumen Unik Kebanggaan Masyarakat Pontianak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.