Gunung Bromo, Pesona Alam dan Budaya Menjadi Satu

525
Gunung Bromo
Gunung Bromo (Foto: anekatempatwisata.com)

1001indonesia.net – Gunung Bromo yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, merupakan salah satu gunung Indonesia yang paling banyak menyedot pengunjung. Gunung ini bahkan masuk dalam tiga gunung terbaik di dunia yang dapat didaki tanpa menggunakan jasa porter (pengangkut barang).

Keindahan alam yang eksotis menjadikan Gunung Bromo sebagai tujuan wisata impian. Pemandangan gunung yang menawan di tengah hamparan pasir ditambah dengan tradisi lokal yang masih terpelihara sampai kini membuat lokasi ini memiliki daya tarik yang kuat. Tidak heran, kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik yang domestik maupun asing.

Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif. Suhu udara malam di sekitar gunung termasuk dingin, berkisar 4 derajat celcius dan bisa turun menjadi 0 derajat saat musim kemarau. Pada pagi hari, kita akan mendapatkan pemandangan matahari terbit yang luar biasa indahnya.

Taman Nasional

Gunung setinggi 2.392 m dpl ini terletak di atas kaldera Tengger berupa lautan pasir yang sangat luas, berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Taman nasional ini yang paling mudah dikunjungi dibanding taman nasional lain di Indonesia. Dengan luas 800 kilometer persegi, taman nasional ini berada di empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang.

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, kawasan ini merupakan cagar alam dan hutan wisata. Kawasan hutan ini berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Mengingat kawasan ini dihuni oleh berbagai macam flora-fauna yang kaya yang sebagian merupakan jenis endemik serta memiliki keunikan budaya maka pada 12 November 1992, pemerintah Indonesia meresmikan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi Taman Nasional.

Suku Tengger

Masyarakat yang mendiami sekitar Gunung Bromo adalah Suku Tengger. Suku yang beragama Hindu ini menyucikan Gunung Bromo. Nama Bromo merujuk pada Dewa Brahma, salah satu dewa Trimurti dalam agama Hindu. Berbagai upacara suci dilaksanakan di gunung ini. Konon katanya, tradisi mereka berasal dari Kerajaan Majapahit. Sampai sekarang tradisi ini masih dipertahankan.

Sebagian masyarakat Suku Tengger bekerja sebagai petani. Dalam suhu pegunungan yang begitu dingin, bisa dibilang mereka adalah petani yang tangguh. Karena ramainya wisatawan yang mengunjungi kawasan Gunung Bromo, sebagian orang dari suku ini bergerak dalam industri pariwisata. Mereka menyewakan kuda, menjadi sopir mobil jip, ataupun menyewakan rumah mereka sebagai tempat penginapan.

Yadnya Kasada

Upacara suku Tengger di Gunung Bromo yang paling menarik perhatian adalah upacara Yadnya Kasada. Upacara sesembahan bagi Sang Hyang Widhi dan para leluhur ini dilaksanakan setiap tanggal 14-15 bulan Kasada dalam penanggalan tradisional suku Tengger. Warga suku Tengger dari 38 desa di 4 kabupaten sekitar Gunung Bromo secara bersama-sama melaksanakan upacara ini.

Puncak acara Yadnya Kasada dilaksanakan di Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo tepat pada tengah malam hingga dini hari. Dalam upacara ini, masyarakat suku Tengger akan mempersembahkan sesaji, berupa hasil bumi, hewan ternak, dan uang. Di pura ini, para tetua dan tokoh adat memimpin sembahyang untuk mendoakan sesaji yang setelahnya akan dilarung di Kawah Gunung Bromo.

Pada pukul 5 dini hari, sesaji dibawa mendaki ke bibir kawah. Di sanalah sesaji itu kemudian dilemparkan ke dalam kawah Gunung Bromo. Ritual ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan Suku Tengger sejak dahulu kala dan terus dipertahankan hingga sekarang.

Upacara tradisional suku Tengger yang dilaksanakan untuk mengangkat dukun atau tabib yang ada di setiap desa ini selalu dipadati oleh para pengunjung, baik dari suku Tengger sendiri maupun para wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung jalannya upacara.

LEAVE A REPLY

12 − ten =