Tarsius, Primata Mungil dari Sulawesi yang Terancam Punah

1825
Tarsius, Primata Mungil dari Sulawesi yang Terancam Punah
Tarsius tumpara atau tarsius siau masuk dalam kategori 25 primata paling terancam punah di dunia.

1001indonesia.net – Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, hutan-hutan Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik tanaman maupun hewan-hewannya. Di antara keanekaragaman hayati tersebut, banyak di antaranya yang merupakan jenis endemik, atau yang hanya hidup di Sulawesi saja. Salah satu jenis satwa endemik yang hidup di Sulawesi adalah tarsius.

Tarsius merupakan jenis primata terkecil di dunia. Satwa ini hanya hidup di kepulauan Asia Tenggara, yaitu Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Filipina. Menurut Groves dan Shekelle (2010), di Sulawesi setidaknya terdapat 11 jenis tarsius, yaitu T. tarsier (tarsius spectrum), T. fuscus (balao cengke), T. sangirensis (tarsius Sangihe), T. pumilus (the pygmy tarsier), T. dentatus (the Diana tarsier), T. pelengensis (the Peleng tarsier), T. lariang, T. tumpara (tarsius Siau), T. wallacei (the Wallace’s tarsier), serta 2 jenis lain yang belum diberi nama. Masyarakat lokal Sulawesi menyebut tarsius dengan nama tangkasi.

Tarsius merupakan satwa nokturnal yang hidup di malam hari. Pada siang hari, mereka lebih banyak tidur. Satwa ini memang memiliki ciri atau karakter yang mendukung untuk hidup di malam hari. Tangkasi memiliki mata yang sesuai dengan penglihatan malam, warna tubuhnya tidak mencolok, dan memiliki bunyi/suara yang efektif untuk berkomunikasi di antara anggota kelompok maupun dengan kelompok lain.

Tarsius memiliki sifat pemalu. Warna bulunya bervariasi, tergantung dari jenisnya, yaitu merah tua, coklat, sampai keabu-abuan. Ekornya panjang, sekitar 135-275 mm, dan tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Ukuran tubuhnya kecil. Tinggi badan plus kepalanya hanya sekitar 85-160 mm. Akan tetapi, kaki belakangnya sangat panjang, yaitu dua kali ukuran tubuhnya. Kaki inilah yang membantu tarsius dalam menangkap mangsanya.

Variasi ukuran, bentuk, dan warna jenis-jenis tarsius yang ada di Sulawesi. ( Sumber: Shekelle et al. 2008; Foto: tn-babul.org)
Variasi ukuran, bentuk, dan warna jenis-jenis tarsius yang ada di Sulawesi. ( Sumber: Shekelle et al. 2008; Foto: tn-babul.org)

Setiap tangan dan kakinya memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Jari-jarinya yang membesar di bagian ujung dengan kulit bagian dalam yang unik membuat dirinya mampu menempel di permukaan selicin apa pun. Matanya sangat besar, berdiameter sekitar 16 mm atau sama besar dengan ukuran otaknya.

Satwa ini memiliki kepala yang unik, yaitu mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri layaknya burung hantu.

Tarsius merupakan satwa jenis insektivor atau hewan yang makanan utamanya adalah serangga. Selain itu, juga memakan vertebrata kecil seperti ular dan cicak.

Hidup tarsius dihabiskan di atas pohon. Baik saat bersarang, mencari makan, atau bahkan saat melahirkan, semuanya dilakukan di atas pohon. Primata kecil ini tidak biasa berjalan di atas tanah. Mereka langsung melompat ketika berada di tanah.

Mereka bersarang di pepohonan secara berkelompok. Sarangnya berupa rongga yang ada di pohon-pohon. Biasanya ia keluar pada sore hari, melakukan aktivitas mereka sepanjang malam, dan kembali ke sarang menjelang pagi.

Dalam mencari makan maupun berinteraksi dengan kelompok lain, tarsius memiliki cara unik. Mereka melakukannya dengan berpindah tempat dengan cara melompat dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya.

Sebagai hewan pelompat, kaki belakangnya yang panjang memainkan peran yang maksimal. Tarsius mampu menangkap mangsanya yang sedang terbang dengan lompatan vertikal. Lompatan tarsius dewasa bisa mencapai ketinggian 3 meter.

Tarsius Tumpara
Tarsius Tumpara

Satwa unik dari Sulawesi ini termasuk dalam kategori sangat rentan dan dilindungi. Salah satu jenis tarsius Sulawesi yang paling terancam adalah tarsius tumpara. Satwa ini merupakan endemik pulau Siau, Sulawesi Utara. Baru ditemukan tahun 2002 melalui penelitian yang dilakukan oleh Museum Zoologi Bogor.

Namun semenjak penemuannya, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan menempatkan satwa ini ke dalam daftar merah (Red List) dengan status Critically Endangered. Red List adalah daftar flora dan fauna yang terancam punah dan dilindungi dari seluruh dunia. Ada 3 kategori dalam Red List, dan Critically Endangered (sangat terancam punah) adalah kategori yang paling gawat. Begitu terancamnya, bahkan tarsius tumpara masuk ke dalam kategori 25 primata paling terancam punah di dunia.

Faktor-faktor utama yang menyebabkan kerentanan satwa ini adalah hilangnya habitat. Perburuan liar, baik untuk diperdagangkan maupun dipelihara, juga menjadi ancaman bagi kelangsungan satwa ini. Bentuknya yang unik seperti beruang mini membuat primata ini banyak digemari untuk dipelihara. Sebagai satwa endemik, tarsius sangat sulit untuk hidup di daerah lain yang bukan habitatnya. Sementara habitat aslinya sudah banyak yang rusak atau berubah.

1 Komentar

  1. Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wanted to say that I have truly enjoyed surfing around
    your blog posts. In any case I will be subscribing to your rss feed and I hope you write again soon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − eleven =