Tanpa Upaya Serius, Hutan Hujan Tropis Sumatra Bisa Dicoret dari Daftar Warisan Dunia

135
Hutan Hujan Tropis Sumatra

1001indonesia.net – Hutan Hujan Tropis Sumatra telah diakui sebagai situs alam warisan dunia oleh UNESCO pada 2004. Akan tetapi, sejak 10 tahun lalu, kawasan hutan di Pulau Sumatra itu masuk dalam daftar merah warisan dunia atau berada dalam kategori bahaya (world-heritage in danger list). Jika tidak ada upaya serius untuk menjaga kelestariannya, Hutan Hujan Tropis Sumatra bisa dicoret dari daftar situs alam warisan dunia.

Hutan Hujan Tropis Sumatra melingkupi tiga taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tiga taman nasional ini merupakan salah satu area konservasi terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Kawasan Ekosistem Leuser, Penyangga Kehidupan Manusia

Di dalam kawasan hutan itu terdapat salah satu gunung berapi terbesar di Indonesia, yaitu Gunung Kerinci (3.805 mdpl) dengan berbagai pesona alamiahnya. Di kawasan gunung tersebut terdapat Danau Gunung Tujuh, danau tertinggi di Asia Tenggara.

Dengan total luasan 2.595.124 hektare, Hutan Hujan Tropis Sumatra menjadi rumah bagi aneka jenis flora dan fauna yang sangat beragam. Di kawasan ini hidup sekitar 10.000 spesies tanaman. Tujuh belas di antaranya merupakan jenis tanaman endemik.

Satwa yang ada di kawasan itu juga sangat beragam. Ada 201 spesies mamalia yang hidup di Hutan Hujan Tropis Sumatra, 22 spesies di antaranya adalah satwa endemik yang tidak ditemukan di pulau lain di Indonesia, dan 15 spesies lainnya hanya ditemukan di wilayah Indonesia. Juga terdapat 580 spesies burung yang hidup di hutan ini.

Keanekaragaman hayati dan keberadaan satwa serta flora endemik menunjukkan betapa pentingnya keberadaan hutan itu. Hutan Hujan Sumatra menjadi tempat tinggal bagi gajah sumatra, harimau sumatra, orangutan sumatra, dan badak sumatra. Keempat jenis satwa endemik tersebut keberadaannya semakin langka dan bahkan terancam dari kepunahan.

Pada 2004, Hutan Hujan Tropis Sumatra ditetapkan sebagai situs alam warisan dunia oleh UNESCO. Badan dunia itu menyanjungnya sebagai kawasan yang memiliki “outstanding universal value” dan “exceptional biodiversity”. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Aloysius Budi Kurniawan (Kompas.id), beberapa tahun kemudian, kawasan itu mengalami sejumlah ancaman serius.

Merujuk catatan UNESCO, Aloysius Budi Kurniawan mengungkapkan, setidaknya ada lima ancaman serius yang membahayakan kelestarian Hutan Hujan Tropis Sumatra. Kelima ancaman tersebut adalah pembangunan jalan di dalam area hutan atau taman nasional, gangguan perluasan lahan pertanian, pembalakan liar, perburuan satwa, dan lemahnya kebijakan lembaga institusi serta pemerintah.

Catatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan juga menyebut, sejak 2011 terdeteksi ada ancaman serius terhadap kelestarian spesies kunci yang ada di kawasan tersebut, seperti harimau, badak, orangutan, dan gajah, serta ancaman terhadap tutupan dan lanskap hutan. Ancaman tersebut diakibatkan oleh perambahan hutan, penebangan liar, serta perburuan liar.

Hutan Hujan Tropis Sumatra telah mendapat pengakuan dari dunia. Namun, yang perlu dimengerti, pengakuan itu bukanlah tujuan akhir bagi kita, tetapi semestinya menjadi dasar bagi pemerintah dan kita semua untuk merawat kelestariannya.

Jika dunia saja mengakui kekayaan dan peran penting Hutan Hujan Tropis Sumatra, maka sudah seharusnya kita yang memilikinya lebih peduli dan bertanggung jawab untuk menjaganya.

Baca juga: Sekolah Adat Samabue, Melindungi Hutan Menjaga Kearifan Lokal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.