Sekolah Adat Samabue, Melindungi Hutan Menjaga Kearifan Lokal

359
Sekolah Adat Samabue
Kegiatan belajar di Sekolah Adat Samabue di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. (Foto: KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA)

1001indonesia.net – Sekolah Adat Samabue didirikan sebagai sarana untuk mempertahankan hak masyarakat adat atas hutan dan tanah serta kearifan lokalnya. Lembaga pendidikan nonformal yang mengusung pengetahuan lokal ini terletak di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Sekolah ini didirikan untuk memperkuat masyarakat adat, supaya mereka dapat bertahan hidup di daerah mereka sendiri. Ini dikarenakan hutan adat tempat mereka hidup terancam karena adanya izin pertambangan. Padahal hutan memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat setempat sebagai sumber air, sumber makanan, dan juga untuk menjaga keseimbangan alam.

Salah satu sebab terjadinya perampasan hutan ini adalah tercerabutnya bangsa ini dari akar tradisi. Ekosistem tidak lagi dihargai, hanya diperlakukan sebagai objek untuk dieksploitasi.

Ini juga dialami oleh masyarakat adat. Identitas mereka sebagai masyarakat adat mulai luntur. Nilai-nilai tradisi sudah tidak lagi dipegang sehingga mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk melindungi hutan, tempat di mana mereka hidup. Akibatnya, mereka kesulitan hidup di daerah mereka sendiri.

Untuk itulah Sekolah Adat Samabue ini didirikan. Diharapkan pendidikan yang diberikan dengan bertumpu pada ciri khas alam dan budaya setempat ini dapat mengembalikan masyarakat adat pada akar kehidupan mereka, terutama generasi mudanya. Tujuannya, mereka dapat menjadi agen untuk mempertahankan dan memperkuat nilai-nilai yang ada dalam kearifan lokal yang dimiliki komunitas mereka. Jika nilai-nilai ini kuat dipegang, hutan kembali dihargai dan tidak ada lagi perusakan terhadap alam.

Sekolah Adat Samabue juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai luhur menjadi identitas bangsa Indonesia. Jika sadar dengan identitasnya, manusia tidak akan terpecah belah dengan perbedaan suku dan agama karena nilai-nilai luhur kebudayaan Indonesia mengajarkan toleransi. Ini tampak dari relawan yang terlibat dalam sekolah adat ini yang berasal dari beragam suku.

Penguatan nilai kearifan lokal antara lain dilakukan dengan pelajaran dongeng. Ada juga tarian tradisional, praktik membuat masakan tradisional, dan pelajaran sejarah. Kurikulumnya menyesuaikan dengan kebutuhan komunitas. Dalam setiap pelajaran ada nilai-nilai yang ditekankan.

Dengan moto “Semua orang itu guru, alam raya sekolahku,’’ proses belajar tidak terikat dengan gedung, tetapi langsung datang ke lingkungan dan komunitas bimbingan pengasuh, misalnya ikut dalam aktivitas komunitas.

Sekolah Adat Samabue dirintis oleh lima orang pemuda-pemudi adat yang memiliki kepedulian terhadap identitas peninggalan leluhur. Sekolah ini didirikan pada 24 Februari 2016. Nama Samabue diambil dari nama sebuah bukit yang dianggap keramat oleh masyarakat adat Binua Manyalitn. Di bukit ini banyak dilakukan ritual adat.

Sekolah Adat Samabue ini sudah berjalan di tiga komunitas adat, yaitu Binua Manyalitn, Binua Lumut Tangah, dan Binua Kaca. Saat ini ada 120 siswa berusia 4 sampai 15 tahun di Sekolah Adat Samabue. Waktu belajar tergantung kesepakatan agar tidak mengganggu proses belajar di sekolah formal.

Sebetulnya, di era nenek moyang mereka dulu, tidak perlu ada sekolah adat khusus seperti ini untuk belajar adat. Saat itu, lembaga adat masih kuat. Proses internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal berjalan dengan alami. Ditambah lagi keinginan belajar anak muda masa itu juga kuat, dan pengaruh modernisasi dari pihak luar belum begitu kuat.

Namun, sekarang perlu wadah khusus sebagai tempat pembelajaran adat karena lembaga adat mulai luntur dan ketertarikan anak muda mulai teralih. Dengan adanya lembaga pendidikan ini, diharapkan generasi muda semakin kreatif dalam berbudaya dan mampu menggali kembali kearifan lokal yang dimiliki komunitasnya. Keberakaran dan kreativitas dalam berkebudayaan merupakan kunci kuatnya sebuah komunitas.

Di sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan yang mengusung kearifan lokal ini juga meneguhkan semangat kenusantaraan yang ber-bhinneka tunggal ika. Maraknya aksi berlatar suku, agama, ras, dan golongan yang terjadi belakangan ini diakibatkan oleh tercerabutnya bangsa Indonesia dari sifat dasarnya yang toleran dan terbuka pada perbedaan.

Sumber:

  • http://bpan.aman.or.id/2016/09/17/sekolah-adat-samabue/
  • http://perempuan.aman.or.id/2016/12/sekolah-adat-samabue/
  • https://kompas.id/baca/multimedia/2017/02/28/sekolah-adat-samabue/
  • http://nasional.kompas.com/read/2017/03/03/20381541/dongeng.untuk.indonesia

LEAVE A REPLY

ten − 8 =