Pelanduk Kalimantan, Ditemukan Kembali setelah 170 Tahun “Menghilang”

42
Pelanduk Kalimantan
Foto: Muhammad Suranto

1001indonesia.net – Burung pelanduk kalimantan (Malacocincla perspicillata) ditemukan kembali setelah lebih dari 170 tahun “menghilang”. Penemuan itu dilaporkan dalam jurnal BirdingASIA, 25 Februari 2021, yang diterbitkan oleh Oriental Bird Club, lembaga amal konservasi burung yang berbasis di Inggris.

Tentu saja, seperti yang dilansir Kompas.id, burung endemik Kalimantan ini tidak pernah benar-benar menghilang atau punah, seperti yang diketahui oleh masyarakat adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. Meski demikian, belum adanya riset yang memadai mengenai spesies ini semenjak “ditemukan” 170 tahun silam membuat burung ini seakan-akan “hilang” dari pengamatan.

Pelanduk kalimantan ditemukan oleh dua pehobi burung, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, pada 15 Oktober 2020. Mereka menjumpai jenis burung yang tak dikenali sewaktu berjalan-jalan di hutan dekat tempat tinggal mereka. Karena rasa penasaran, mereka menangkap jenis tersebut.

Keduanya kemudian membawa pulang burung itu. Mereka lalu bertanya kepada teman-temannya mengenai burung yang ditemukannya. Setelah memotret burung itu dari berbagai sudut, mereka melepasnya. Berikutnya, mereka melaporkan temuannya ke kelompok pengamat burung, BW Geleatus dan Birdpacker.

Hasil foto-foto burung kemudian menjadi perbincangan hangat di kelompok Geleatus. Pada 8 Oktober 2020, para pengamat burung ini pun membuat grup WA khusus dengan nama ‘New Species’.

Perbincangan dalam grup semakin intensif. Mohammad Irham, Peneliti Ornitologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada 9 Oktober 2020 menyatakan, burung itu berasal dari keluarga Malacocincla.

Keesokan harinya, Panji Gusti Akbar, dari Kelompok Ornitologi Indonesia Birdpacker, mencurigai burung itu adalah pelanduk kalimantan (Malacocincla perspicillata). Panji kemudian berkonsultasi dengan banyak peneliti ornitologi, dan hasilnya semua yakin burung tersebut adalah jenis pelanduk kalimantan. Penemuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal BirdingAsia Vol. 34 tahun 2020.

Temuan burung endemik Kalimantan tersebut mengejutkan para ahli biologi, sebab telah 170 tahun menghilang. Burung ini pertama kali ditemukan seorang ahli geologi dan naturalis Jerman, Carl A.L.M. Schwarner, ketika ketika mengumpulkan berbagai spesimen. Kemudian digambarlah burung itu oleh ornitologi asal Prancis, Charles Lucian Bonaparte, sekitar tahun 1850.

Sejak saat itu, belum ada lagi informasi yang jelas dan lengkap terkait burung pelanduk kalimantan.

Meski sempat dianggap “hilang”, sebenarnya pelanduk kalimantan tidaklah punah. Burung tersebut masih bisa dijumpai di Pegunungan Meratus, meski saat ini semakin jarang dijumpai.

Berbeda dengan rangkong atau burung enggang yang dikeramatkan dan sangat erat dengan kehidupan masyarakat Dayak, burung pelanduk dianggap sebagai burung biasa dan dibiarkan hidup di alam liar. Masyarakat Dayak tidak memburunya atau menangkapnya.

Baca juga: Burung Enggang, Burung yang Dikeramatkan oleh Suku Dayak

Tidak adanya koleksi rujukan ilmiah atau spesimen Malacocincla perspicillata menyulitkan peneliti kita untuk mencocokkan dan mengidentifikasinya. Selain itu, sifat spesies ini yang tidak mencolok membuatnya kurang teramati. Itu sebabnya, burung itu sempat dianggap “hilang”.

Jangankan di kalangan masyarakat umum, bahkan di kalangan pehobi burung pun, pelanduk kalimantan belum dianggap memiliki keistimewaan khusus. Selain itu, belum banyak pehobi burung yang mengetahui keberadaannya karena informasi mengenai burung ini sangat terbatas.

Penemuan spesies ini dapat membangkitkan optimisme semua pihak untuk terus mengungkapkan dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, khususnya burung, di Indonesia.

Namun, yang juga perlu disadari, burung pelanduk dapat terjaga, salah satunya dikarenakan tidak ada yang menangkap dan memburunya. Jangan sampai, publikasi atasnya justru mendorong adanya perburuan liar yang mengancam keberadaannya.

Baca juga: Kuau-Kerdil, Merak Mini Asli Pulau Kalimantan yang Terancam Punah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 + eighteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.