Panas Bumi, Potensi Besar Energi Terbarukan yang Dimiliki Indonesia

587
Energi Panas Bumi
PLTU Dieng memanfaatkan sumber panas bumi sebagai sumber listrik. (Sumber: Flickr/Geothermal)

1001indonesia.net – Pada 2010, Indonesia menjadi tuan rumah Kongres Dunia untuk Panas Bumi atau “World Geothermal Congress” yang dihadiri oleh sekitar 2.500 partisipan dari 80 negara. Kongres ini dihelat oleh International Geothermal Association. Tentu saja ada alasan kuat mengapa Indonesia diminta menjadi tuan rumah, dan menjadi pihak terdepan dalam pemanfaatan panas yang dihasilkan oleh bumi ini untuk kebutuhan energi dunia.

Panas bumi atau geotermal amat terkait dengan pertemuan lempeng tektonik, pergerakan aktif gunung api, dan juga lintasan pegunungan. Bisa jadi sebuah wilayah menampakkan jenis keaktifan yang berbeda, namun, lintasan panas bumi selalu dapat diduga dalam lintasan Nusantara (lihat Cincin Api Dunia). Geotermal ini dapat diolah menjadi arus listrik. Berbagai macam grid dapat dijadikan pembentuk listrik dari panas bumi.

Dengan mencermati besarnya penggunaan yang terus tumbuh bersamaan dengan kota-kota, peluang terjadinya krisis listrik amatlah besar. Kebutuhan listrik untuk industri dan ekonomi rumah tangga berkisar sekitar 7%-8%—juga dengan melihat kapasitas terpasang, daya tersedia, beban puncak. Grid yang mampu mengolah berbagai macam sumber energi semakin menjadi kebutuhan besar, termasuk mengolah panas dari dalam bumi.

Geotermal merupakan energi panas atau udara panas yang berarti bukan cair atau material. Sumber energi ini bersifat keberlanjutan dan ramah lingkungan. Kendati diyakini memiliki potensi energi panas bumi begitu berlimpah—Greenpeace mencatat bahwa Indonesia memiliki 40% cadangan panas bumi dunia—sisi pemanfaatannya sendiri masih kecil. Indonesia baru memanfaatkan sekitar 5% dari potensi kapasitas 29 gigawatt. Jawa, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara tercatat sebagai titik akses sumber energi geotermal.

LEAVE A REPLY

three × 3 =