Nepenthes adrianii, Tanaman Endemik Gunung Slamet yang Semakin Langka

133
Nepenthes adrianii
Seorang mahasiswi mengamati tanaman kantong semar yang dikonservasi di green house Baturraden Adventure Forest (BAF) Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (21/10). (Foto: Gatra.com)

1001indonesia.net – Salah satu jenis kantong semar yang merupakan tanaman endemik Gunung Slamet semakin jarang ditemukan di alam. Statusnya sebagai tanaman langka membuat tanaman dengan nama Latin Nepenthes adrianii ini menjadi buruan kolektor. Ini justru semakin membahayakan kelestariannya.

Telah lama kantong semar menjadi tanaman hias yang populer di Indonesia. Munculnya kantong pada ujung daun dengan corak serta warna beragam membuat Nepenthes tampak eksotis. Masyarakat internasional menyebutnya sebagai the exotic pitcher plant atau pemanjat yang eksotis.

Di Indonesia, terdapat beberapa spesies endemik kantong semar. Salah satunya adalah Nepenthes adrianii yang merupakan tanaman endemik Gunung Slamet. Namun, keberadaan tanaman ini semakin langka di habitat aslinya.

Karena keberadaannya yang semakin langka, Nepenthes adrianii masuk ke dalam tumbuhan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Tumbuhan ini juga termasuk dalam Convention on International Trade of Endangered Species (CITES) apendiks I (Tahun 2003) dan II. Sebab itu, perdagangan internasional Nepenthes adrianii yang berasal dari habitat alam harus dikontrol dengan ketat dan hanya diperkenankan untuk kepentingan non-komersial tertentu dengan izin khusus.

Meski demikian, perdagangan tanaman ini masih terus terjadi. Jika kita berselancar di lapak dalam jaringan dengan kata kunci ”Nepenthes adrianii”, akan muncul banyak gambar kantong semar serta sejumlah keterangan.

Padahal, selain langka dan tidak diperbolehkan oleh peraturan untuk mengambilnya dari alam dan memperdagangkannya, belum tentu para pembeli memiliki lingkungan yang cocok untuk merawat kantong semar ini.

Dilansir Kompas.id, Kepala Divisi Studi Lingkungan, Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Hukum Pencinta Alam (Mahupa) Universitas Wijayakusuma Rizki Nur Jamali mengungkapkan, tanaman ini tidak akan berkembang dengan baik jika tidak ditanam di kawasan gunung.

Untuk hidup dengan baik, Nepenthes adrianii butuh ketinggian sekitar 1.000 mdpl dan kelembapan yang tinggi. Media tanam yang digunakan juga harus berupa tanah berhumus tinggi. Dengan kata lain, meski bernilai ekonomis tinggi, tanaman ini sulit untuk dibudidayakan di perkotaan.

Saat ini, jumlah kantong semar endemik Gunung Slamet ini sudah semakin sedikit, hanya sekitar 2.600 tanaman di habitat aslinya. Dan itu sebabnya, para pegiat lingkungan bersama mahasiswa pecinta alam di Banyumas membudidayakannya untuk kemudian dikembalikan ke habitat alam.

Dengan pembudidayaan yang dilakukan di greenhouse Baturraden Adventure Forest (BAF) itu diharapkan dapat menyelamatkan kantong semar di Gunung Slamet dari kepunahan. Selain itu, dibutuhkan juga edukasi ke masyarakat luas tentang tentang pentingnya menjaga kelestarian tanaman ini.

Baca juga: Kantong Semar, Tumbuhan Unik yang Kaya Manfaat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.