Microhyla Sriwijaya, Temuan Spesies Baru di Belitung dan Lampung

79
Microhyla sriwijaya
Spesies katak kecil bermulut sempit ditemukan pada 2018 dan 2019 di perkebunan kelapa sawit Pulau Belitung dan Lampung di Sumatera bagian tenggara oleh tim herpetologi. (Foto: Farits Alhadi/BRIN)

1001indonesia.net – Spesies katak kecil bermulut sempit ditemukan belum lama ini di Pulau Belitung dan Lampung. Dalam bahasa Inggris, spesies amfibi itu dinamakan Sriwijaya Narrow-mouth Frog dengan nama ilmiah Microhyla sriwijaya.

Nama “sriwijaya” pada katak itu mengacu pada Kerajaan Sriwijaya. Dalam catatan sejarah, Sriwijaya menjadi kerajaan pemersatu pertama yang mendominasi wilayah kepulauan Melayu.

Populasi katak bermulut sempit dari Lampung dan Pulau Belitung itu membentuk kelompok tersendiri dibandingkan dengan semua jenis katak mulut sempit yang ada di muka bumi ini.

Katak jantan dewasa jenis Microhyla sriwijaya berukuran kecil dengan panjang moncong 12,3 hingga 15,8 mm. Jenis katak itu moncongnya tumpul dan bulat dan memiliki tanda punggung berwarna cokelat kemerahan atau oranye dengan tuberkel kulit yang menonjol.

Spesimen katak itu ditemukan pada 2018 dan 2019 di perkebunan kelapa sawit Pulau Belitung dan Lampung di Sumatera bagian tenggara oleh tim peneliti herpetologi. Hasil pengidentifikasian spesies katak dari genus Microhyla itu telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 2 September 2021.

Upaya penemuan dan pengidentifikasian katak Microhyla sriwijaya melibatkan Rury Eprilurahman dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang mengerjakan disertasi tentang katak bermulut sempit. 

Selain itu, Museum Zoologi Bogor, UGM, Universitas Bengkulu, Belitung Biodiversity Observer Foundation, Universitas Delhi di India, Universitas Kyoto di Jepang, serta University of Texas at Arlington di Amerika Serikat juga terlibat dalam penelitian mengenai jenis katak mulut sempit dari Belitung dan Lampung.

Saat ini Indonesia memiliki sembilan spesies Microhyla. Di antaranya M. achatina (Jawa), M. berdmorei (Kalimantan dan Sumatera), M, mukhlesuri (Sumatera), M. gadjahmadai (Sumatera), M. heymonsi (Sumatera), M. malang (Kalimantan), M. orientalis (Jawa, Bali, Sulawesi, dan Timor), M. palmipes (Bali, Jawa, dan Sumatera), dan M, superciliaris (Sumatera).

Dari beberapa spesies katak bermulut sempit tersebut, empat spesies, yakni M. achatina, M. gadjahmadai, M. orientalis, dan M. palmipes, merupakan jenis endemik Indonesia.

Terkait status konservasi, habitat amfibi di Pulau Belitung sudah cukup terancam, terutama oleh kegiatan antropogenik yang mengakibatkan kerusakan habitat beberapa jenis amfibi.

Selain itu, jenis katak tropis termasuk sensitif terhadap perubahan suhu. Perubahan iklim dan penggunaan lahan dapat mengurangi daerah layak huni bagi katak tersebut.

Penemuan ini mengingatkan kita akan pentingnya merawat hutan sebagai habitat alami beragam flora dan fauna di seluruh daerah di Indonesia. Beberapa satwa endemik di Indonesia menempati wilayah yang sangat terbatas. Kerusakan hutan yang menjadi habitat alami satwa tersebut sangat membahayakan kelestariannya.

Baca juga: Penemuan Spesies Kodok Merah Baru di Gunung Ciremai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.