Sriwijaya, Kerajaan Maritim di Nusantara

1131
Sriwijaya
Candi Muara Takus dibangun pada masa kerajaan Sriwijaya berdiri. (Sumber: Flickr/Dandin)

1001indonesia.net¬†–¬†Kerajaan Sriwijaya berkembang di abad ke-8 sampai dengan abad ke-12, kurang lebih sezaman dengan Mataram Hindu. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan maritim yang mempunyai armada dan aktivitas perdagangan melalui laut yang amat intensif dengan pusat di muara sungai Musi Palembang.

Kerajaan Sriwijaya ini juga menjadi rumah bagi pertumbuhan peradaban berbasis Buddhisme. Sriwijaya mempunyai interaksi perdagangan, pengetahuan dan kebudayaan dengan India, China, Khmer dan Timur Tengah. Catatan I-Tsing menunjukkan pertalian ini dalam catatan perjalanannya ke Sriwijaya.

Dalam perkembangannya, kebesaran Sriwijaya terletak pada aktivitas dan interaksi maritimnya yang amat kuat. Dalam pola ini, kerajaan Sriwijaya didukung dan mendapat partisipasi dari kekuatan-kekuatan regional seperti India, China, Khmer (Kamboja). Jejak-jejak kebesaran ini terdapat pada catatan dan prasasti yang menunjukkan kebesaran Sriwijaya.

Karena sifat maritimnya, jejak-jejak seperti candi tidaklah banyak didapatkan, atau mungkin masih tersimpan di dalam lapisan tanah. Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo menjadi sumber rujukan. Kemudian, candi raksasa Muaro Jambi, Muara Takus, Biaro Bahal menunjukkan asal Sriwijaya yang lebih ke dalam, yaitu Jambi. Juga ditunjukkan adanya imaji kawasan yang dapat menunjuk kawasan-kawasan yang mungkin ada di dalam wilayah Sriwijaya.

Titik penting Sriwijaya juga terletak pada upayanya untuk menjangkau dinasti di Jawa, yaitu Mataram Hindu. Melalui Balaputra Dewa dan Samaratungga, pertalian antar-peradaban dijalin dan simbol-simbol antar-peradaban dinyatakan secara bersama dalam Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Upaya menjangkau Mataram Hindu juga dilatarbelakangi hubungan saling mendukung.

Sriwijaya juga dihargai karena mengembangkan tata pemerintahan yang mendukung orientasi maritim, yaitu dengan mengikuti muara yang tenang serta pelabuhan-pelabuhan. Model ini sekaligus mengikut alur-alur pelayaran yang menjadi urat nadi interaksi antar-kekuatan regional. Tidak bisa dikatakan perang, namun tata pemerintahan ini memungkinkan diambilnya tindakan cepat dalam perdagangan, dan tindakan yang perlu diambil dalam suatu perselisihan.

Yang tidak dapat dipungkiri juga dari peran Sriwijaya adalah peran pengetahuan. Baik dalam susastra, ilmu bintang, ilmu pelayaran, dan menjadi kerajaan besar pertama di mana bahasa melayu digunakan sebagai bahasa komunikasi harian atau lingua franca.

LEAVE A REPLY

2 × 5 =