Kuskus Beruang, Hewan Endemik Sulawesi yangSemakin Jarang Terlihat

40
Kuskus Beruang
Kuskus Beruang (Foto: klikhijau.com)

1001indonesia.net – Kuskus beruang (Ailurops ursinus) merupakan hewan endemik Sulawesi. Saat ini, satwa ini terancam punah karena perburuan dan habitatnya yang hilang. Apalagi kuskus betina hanya beranak 1 sampai 2 kali dalam setahun.

Kuskus beruang adalah hewan arboreal. Hidupnya di ketinggian hutan hujan tropis. Pohon yang dijadikan tempat tinggal biasanya sangat tinggi, bisa mencapai 400 meter.

Kuskus beruang bisa berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan bantuan ekornya yang bisa mencengkram benda, seperti dahan pohon. Ekornya yang seperti tangan sangat membantunya saat berpindah dari satu pohon ke pohon lain.

Selain arboreal, kuskus beruang juga termasuk hewan marsupialia (berkantung). Kantung di perut kuskus betina digunakan untuk membawa anaknya.

Jika kukus jenis lain termasuk hewan norkturnal (mencari makan di malam hari), kukus beruang termasuk hewan diurnal (mencari makan di siang hari). Meski demikian, satwa ini suka sekali tidur siang dan beristirahat di pohon.

Warna bulunya bervariasi, dari hitam, kecokelatan, hingga abu-abu. Mukanya bulat dengan daun telinga yang kecil. Binatang ini termasuk pendiam, hanya bersuara jika merasa terancam.

Kuskus beruang suka sekali makan daun yang masih muda, buah yang belum matang, dan bunga-bungaan. Daun dan buah yang belum matang lebih mudah dicerna oleh kuskus. Supaya pencernaannya lancar, satwa ini biasanya tidur di siang hari. Jadi, mereka tidur siang bukan karena malas, tapi untuk memperlancar pencernaan.

Kuskus beruang hidup di Kepulauan Togian, Pulau Peleng, dan Kepulauan Talaud. Saat ini, populasi hewan endemik Sulawesi ini mengalami penurunan, padahal bberapa tahun lalu masih dijumpai menikmati dedaunan di kebun warga.

Penurunan populasi kuskus beruang ini disebabkan adanya degradasi habitat dan perburuan. Kebun warga atau hutan yang menjadi tempat hidup binatang ini telah banyak mengalami perubahan, terutama dibuka untuk pertanian dan permukiman.

Sementara perburuan juga dilakukan oleh oknum masyarakat dengan motif ekonomi, untuk dijual kembali sebagai hewan konsumsi atau dijadikan peliharaan manusia.

Binatang ini memiliki gerakan yang lamban, bahkan ia bisa berjam-jam menghabiskan waktunya di satu pohon. Karena sifatnya yang lamban ini membuat kuskus mudah ditangkap.

Hewan ini juga jinak, tidak menyerang sebagaimana hewan liar lainnya. Sifat ini membuat warga menjadikan kuskus sebagai hewan peliharaan di rumah.

Baca juga: Anoa, Satwa Asli Sulawesi yang Langka dan Terancam Punah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.