Kopi Flores, Kebanggaan Masyarakat Manggarai sejak Zaman Kolonial

1033
Kopi Flores dan Kopi Arabika Bajawa
Kopi Flores dari Manggarai dan Kopi arabika Bajawa dari Ngada merupakan kopi Nusantara yang telah mendunia. (Foto: kopibajawa.com)

1001indonesia.net – Beberapa jenis kopi Nusantara telah mendunia dan dikenal karena cita rasanya yang khas. Salah satunya adalah kopi Flores yang berasal dari hamparan perkebunan di wilayah adat Colol, Nusa Tenggara Timur. Iklim Manggarai Timur yang kering dan sedikit pengaruh angin dari Australia membuat kopi Flores memiliki cita rasa tinggi.

Kopi pertama kali diperkenalkan ke Manggarai, Flores, oleh pemerintah kolonial Belanda dengan sistem tanam paksa pada 1920-an. Sistem itu dengan cepat melahirkan perkebunan kopi terluas se-Manggarai Raya. Letaknya di Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur.

Wilayah dataran tinggi yang diselimuti kabut ini terbukti sangat cocok digunakan sebagai perkebunan kopi. Pada 1937, petani setempat memenangi sayembara Pertandingan Keboen Kopi yang digelar oleh Pemerintah Kolonial. Hamparan kebun di Colol mendapat nilai tertinggi dalam kesesuaian penanaman dan perawatannya. Pemerintah Belanda kemudian menganugerahi selembar bendera tiga warna pada para petani atas keberhasilan mereka membudidayakan kopi.

Dataran tinggi Colol ibarat surga kopi. Hamparan kebun nan luas dengan butiran kopi yang melimpah di tiap pohonnya. Belanda memperkenalkannya sebagai kopi Flores kepada dunia. Hasil panen yang melimpah di era penjajahan membuat pemasaran kopi meluas ke sejumlah Eropa.

Kini setelah puluhan tahun kolonialisme Belanda hengkang dari Indonesia, perkebunan kopi di Flores tidaklah meredup. Letaknya di desa terpencil berjarak 60 kilometer dari Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur atau sekitar 45 kilometer dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai.

Di sini, para petani terampil merawat tanaman secara organik dan mengendalikan hama. Juga mengolah hasil panen mulai dari pemetikan, penyortiran buah, perambangan, pengupasan kulit, pembersihan, fermentasi, pencucian, penjemuran, hingga pengemasan dan penyimpanan.

Kesesuaian mematuhi rangkaian panjang seluruh proses itulah yang diakui para penikmatnya menghasilkan kopi arabika dan robusta bercita rasa tinggi.

Sempat Terbengkalai

Gairah membudidayakan kopi sebenarnya tidak tumbuh dalam sekejap. Hamparan kopi yang begitu luas di wilayah adat Colol sempat belasan tahun terbengkalai setelah hengkangnya pemerintah kolonial Belanda.

Budidaya jalan di tempat seiring tanaman kopi yang kian menua. Hingga tahun 90-an, belum satu pun tanaman diremajakan. Hamparan yang pernah menjadi kebanggaan pemerintah kolonial Belanda sekaligus penyumbang terbesar produksi kopi Flores itu perlahan meredup.

Persoalan tak hanya itu. Petani terpasung dalam kendali kalangan pemodal. Itulah masa-masa kelam saat para petani tak bisa lepas dari jeratan utang. Para tengkulak memanfaatkan ketidakberdayaan petani yang sedang kritis keuangannya.

Mereka datang membeli kopi dengan sistem ijon saat kopi sedang berada pada titik harga terendah, yaitu satu atau dua bulan menjelang panen raya. Biasanya, para petani yang sangat membutuhkan uang tanpa pikir panjang setuju.

Pada saat penen raya, tengkulak akan datang mengambil kopi dengan harga yang telah ditentukan. Tidak peduli di pasar, harga kopi sedang menjulang tinggi. Tengkulak untung besar, sementara petani tidak dapat apa-apa.

Praktik ini terus-menerus terjadi bak lingkaran setan. Melimpahnya kopi di perkebunan ternyata tidak mampu menyejahterakan masyarakat setempat.

Pada 2010, sejumlah relawan dari Delegasi Sosial Keuskupan Ruteng berkunjung ke Colol. Para petani diajak berdiskusi untuk memetakan berbagai persoalan desa. Mata mereka terbuka oleh kondisi tanaman kopi yang tidak lagi produktif, buruknya cara budidaya dan mengolah kopi, serta ketergantungan pada tengkulak telah melemahkan sendi-sendi perekonomian warga desa.

Dalam kesadaran baru, petani bertahap bangkit. Langkah awal adalah meremajakan tanaman dan belajar memperbaiki pola perawatan berkelanjutan. Olahan pascapanen dengan cara tradisional: petik, tumbuk, dan jemur di tanah, disadari telah menurunkan kulaitas kopi. Cara itu berangsur diubah menjadi pengolahan yang benar dan berstandar ekspor.

Pemetikan, misalnya, hanya pada buah merah. Ternak tidak digembalakan di dekat kebun karena kopi memiliki sensitivitas bau yang tinggi. Begitu pula penjemuran beras kopi tak lagi di tanah, tetapi di atas para-para atau lantai jemur khusus.

Maningkatnya kualitas tanaman berdampak mendongkrak nilai jual kopi. Petani membentuk Asnikom untuk melawan jerat rentenir. Asosiasi itu bertugas mencari pasar kopi dan menawar harga yang kompetitif. Melalui pembentukan asosiasi, pengolahan kopi di rumah-rumah petani terus dikawal agar stabil dalam kualitas yang baik. Hasil panen juga dapat dipasarkan lewat satu pintu dengan ketetapan harga yang paling maksimal.

Petani mendapat pelatihan pengolahan kopi di Pusat Penelitian Kopi dan kakao (Puslitkoka) di Jember. Dari hasil pelatihan itu, mereka mengikuti lelang tingkat nasional di Surabaya. Hasilnya, sampel kopi robusta yang dikirimkan Asnikom dinobatkan pada posisi nomor 1 terbaik dan nomor 4 untuk jenis arabika. Kopi Manggarai hanya terlampaui kopi Toraja, Gayo Aceh, dan Bandung.

Hasil kopi asal Colol semakin kebanjiran pesanan, mulai dari AS, Jerman, hingga Taiwan. Penerapan ini menghasilkan kualitas kopi yang spesial. Keunikan kopi arabika Manggarai adalah memiliki cita rasa kuat dan kaya oleh perpaduan herbal, floral, spicy, beri, madu, hingga pepper. Sementara kopi robustanya lebih dinominasi oleh rasa buah-buahan, seperti sirsak dan nangka. Cita rasa itulah yang dipertahankan dengan menjaga standar pengolahan.

Kualitas kopi Flores asal Colol ini semakin diakui ketika mendapat undangan untuk mewakili Indonesia dalam pameran kopi di Boston, Amerika Serikat. Pada 2015, kopi asal Manggarai Timur ini dinobatkan sebagai kopi Indonesia terbaik. Pada tahun ini, kopi Flores ini meraih Juara II dalam festival kopi di Atlanta. Pengakuan ini tentu menguntungkan para petani. Mereka kini tak harus mencari pasar. Para calon pembeli dengan sendirinya datang.

Sumber

  • Kompas, 6 & 14 September 2016.
  • https://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/10/20/kopi-manggarai-timur-terbaik-di-indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 15 =