Kopi Arabika Bajawa, Kopi Asal Ngada Flores yang Mendunia

1318
Kopi Flores dan Kopi Arabika Bajawa
Kopi Flores dari Manggarai dan Kopi arabika Bajawa dari Ngada merupakan kopi Nusantara yang telah mendunia. (Foto: kopibajawa.com)

1001indonesia.net – Pulau Flores menjadi asal beberapa jenis kopi yang telah mendunia. Ada kopi Flores di dataran tinggi Colo yang sudah menjadi kebanggaan petani setempat sejak perkebunannya dimulai oleh pemerintah kolonial Belanda. Di Kabupaten Ngada, terdapat kopi arabika Bajawa yang tak kalah populer. Sebagian besar petani di sana malah lebih dahulu mandiri mengenalkan kopi ini ke dunia internasional dengan mengekspornya ke negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Kopi arabika Bajawa atau yang dikenal dengan label Arabika Flores Bajawa (AFB) merupakan sumber pendapatan utama bagi masyarakat yang mendiami wilayah dataran tinggi Ngada yang terletak di Pulau Flores bagian tengah.

Dataran tinggi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ini berlokasi di pertemuan dua lereng gunung api, yaitu Gunung Inerie dan Gunung Ebulobo. Secara administratif, kawasan tersebut masuk ke dalam dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bajawa dan Kecamatan Golewa.

Perkebunan kopi di dataran tinggi Ngada terletak pada ketiggian antara 1.000 sampai 1.550 meter di atas permukaan laut. Pohon-pohon kopi ditanam pada tanah vulkanik jenis andosol yang subur. Suhu udara berkisar 15 sampai 25º C. Pada saat-saat tertentu, suhu bisa menjadi sangat dingin (di bawah 10º C) karena pengaruh hembusan angin muson tenggara dari Australia.

Kawasan dataran tinggi Ngada memiliki tipe iklim kering dengan curah hujan rata-rata sekitar 2.500 mm per tahun. Bulan-bulan yang kering berlangsung 3–5 pada bulan Juni–Oktober. Kondisi geografis ini dinilai sangat sesuai untuk budi daya kopi arabika.

Masyarakat Ngada atau disebut orang Bajawa mulai membudidayakan kopi Arabika sejak 1977.  Kala itu pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membeli 4 kg bibit kopi propelegitim dan 4 kg bibit kopi arabika dari Jember.

Propelegitim ditanam di halaman kantor Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Ngada. Sementara bibit kopi arabika dikembangkan di perkebunan misi Katolik Malanuza, Boawae, sekitar 30 kilometer arah timur Ngada. Di sana, terdapat sekolah pertanian setingkat sekolah menengah atas.

Pada masa Ngada di pimpin oleh Bupati Matheus John Bey (1978-1988), kopi arabika dikembangkan di Kecamatan Golewa dan Bajawa. Terdapat dataran tinggi di dua kecamatan ini yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Lokasi yang cocok sebagai tempat untuk mengembangkan kopi arabika.

Saat ini, kopi arabika menjadi tanaman favorit di Ngada. Orang Bajawa meyakini budi daya kopi ini telah mendapat restu dari leluhur dan tidak akan tersaingi. Pembudidayaan kopi itu diutamakan dengan cara organik untuk menambah cita rasa kopi sehingga terus menjadi incaran para peminat kopi.

Para petani menanam kopi arabika di bawah lindungan pohon penaung, menggunakan pupuk alami, dan tidak menggunakan pestisida sintetik. Kopi dipanen secara selektif, hanya kopi yang sudah masak atau yang sudah berwarna merah saja yang dipetik.

Kopi arabika hasil olahan kelompok tani di Ngada ini ternyata ternyata memiliki mutu tinggi dan masuk dalam katogeri specialty coffee, terutama karena cita rasanya yang enak, khas, dan unik.

Pada umumnya kopi arabika yang dari dataran tinggi Ngada jika disangrai pada tingkat sedang (medium roasting) akan memiliki komponen-komponen cita rasa utama sebagai berikut: aroma (fragrance) kopi bubuk kering dan kopi seduhan kuat bernuansa bau bunga (floral), rasa (flavor) enak dan kuat, tingkat kekentalan (body) sedang sampai kental, tingkat keasaman (acidity) sedang, serta terdapat kesan rasa manis (sweetness) yang kuat.

Dataran tinggi Ngada menjadi penghasil utama kopi di NTT dengan luas lahan sekitar 6.147 ha, terdiri atas 5.351 ha arabika dan 796 robusta. Produksi kopi arabika sebanyak 500 sampai 700 kg gelondong merah per ha.

Kopi arabika organik adalah salah satu potensi utama Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Bersama dengan kopi Flores di Manggarai dan kopi Hokeng (Flores Timur), kopi arabika Bajawa menjadi andalan Flores, dikenal hingga dunia internasional.

Dibanding dua jenis kopi Flores lainnya, kopi arabika Bajawa yang dikenal sebagai Arabica Flores Bajawa (AFB) memiliki keistimewaan, keunikan, dan kekhasan karena berada di atas 1.000 mdpl. Debu vulkanik dari gunung Inerie membuat aroma kopi menjadi lebih kuat dan harum.

Keunggulan lain yang dimiliki kopi ini antara lain mudah tumbuh, cepat berproduksi, usia produksi bisa mencapai 20 tahun, kapasitas produksi 4-5 kg buah merah per pohon, dan digemari pecinta kopi. Berbagai keistimewaan tersebut menyebabkan harga jual kopi arabika Bajawa relatif tinggi dan stabil.

Saat ini, budi daya kopi di Pulau Flores semakin menjanjikan. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan saat petani belum memiliki daya tawar. Pemasaran yang tidak terkoordinasi membuka peluang tengkulak mempermainkan harga. Perkembangan yang ada saat ini menunjukkan potensi daerah yang dikelola dengan baik akan meningkatkan kesejahteraan para petani lokal.

Sumber:

  • http://internasional.kompas.com/read/2012/06/09/02581595/Cita.Rasa.Kopi.Bajawa.Sihir.Mancanegara

LEAVE A REPLY

two × 5 =