Ki Ageng Suryomentaram, Hidup dan Karyanya

1963
Ki Ageng Suryomentaram, Hidup dan Karyanya
Ki Ageng Suryomentaram

1001indonesia.net – Di kalangan masyarakat Jawa, Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang filsuf dan tokoh spiritual yang sangat terkenal. Ia adalah seorang pemikir kritis yang berangkat dari kearifan Jawa.

Ki Ageng dijuluki Sang Plato dari Jawa karena gagasannya jelas dan logis. Hal tersebut membuat dirinya berbeda dari pemikir Jawa lainnya yang lebih condong ke arah mistisisme. Posisinya sangat penting bagi pencerahan masyarakat Jawa dalam membentuk pribadi yang cerdas dan cendekia tanpa harus kehilangan jati diri ketimurannya.

Riwayat Ki Ageng Suryomentaram

Ki Ageng Suryomentaram lahir pada hari Jumat Kliwon, 20 Mei 1892, dengan nama kecil Bendara Raden Mas Kudiarmaji. Ia adalah anak ke-55 dari 79 putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwana VII, raja dari Kasultanan Yogyakarta. Ibunya adalah seorang garwa ampean bernama Bendara Raden Ayu Retnomandaya, putri Patih Danureja VI atau Pangeran Cakraningrat.

Sedari kecil sudah tampak kecerdasan BRM Kudiarmaji. Seperti putra-putri Sultan lainnya, ia menempuh pendidikan setingkat pendidikan dasar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan keraton. Atas saran ibunya, ia kemudian mengambil kursus bahasa Belanda, Arab, dan Inggris. Ia juga mengikuti persiapan dan ujian sebagai Klein Ambtenaar, dan kemudian magang bekerja di gurbernuran selama 2 tahun.

BRM Kudiarmaji gemar belajar dan membaca buku-buku sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Ia mendapat bimbingan dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dalam bidang agama Islam.

Di usia 18 tahun, BRM Kudiarmaji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram. Kedudukannya sebagai pangeran membuat ia mendapat banyak fasilitas, seperti tempat tinggal, gaji bulanan, kendaraan, pengawalan, dan tanah.

Namun, segala kesenangan dan  fasilitas yang ia terima belum membahagiakan dirinya. Pangeran Suryomentaram merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Ia merasakan lingkungan keraton dan kedudukannya sebagai pangeran membuat relasinya dengan manusia lain bersifat semu. Orang-orang baik kepadanya karena kedudukannya sebagai seorang pangeran, bukan karena pribadinya. Akhirnya, ia sendiri merasa tidak mengenal jati dirinya sendiri.

Pangeran Suryomentaram merasa lingkungan keraton dengan segala aturan dan tradisinya telah mengungkungnya. Ia berpikir bahwa kungkungan inilah yang menjadi penyebab atas kegelisahannya. Maka, jika ia ingin mengenal atau bertemu dengan dirinya sendiri, ia harus membebaskan diri dari kungkungan tersebut.

Pangeran yang satu ini pribadinya memang berbeda dari para bangsawan lainnya. Di kala bangsawan lain menikmati kedudukan dengan segala harta dan kuasanya, Pangeran Suryomentaram justru merasa tidak nyaman.

Makin lama Pangeran Suryomentaram semakin tidak betah tinggal di istana. Terlebih lagi setelah ia mengalami beberapa kejadian yang tidak mengenakan hatinya. Diam-diam, ia meninggalkan keraton dan pergi ke luar daerah. Ia kemudian menjadi pedagang batik dan stagen (ikat pinggang), lalu mengganti namanya menjadi Natadangsa.

Saat Pangeran Suryomentaram mulai menikmati hidupnya sebagai orang biasa, ia dipanggil kembali ke istana. Ayahnya mengirim utusan untuk menjemputnya. Mereka mendapati Sang Pangeran sedang menggali sumur di daerah Kroya dan mengajaknya pulang. Dengan berat hati, perintah ayahnya tersebut ia turuti. Namun, kehidupan keraton membuat kegelisahannya kembali muncul.

Berbagai upaya ia lakukan untuk mengatasi kegelisahannya. Ia membagikan harta kekayaannya karena ia merasa segala miliknya yang ia dapat bukan karena usahanya, tapi karena ia dilahirkan sebagai putra sultan, menjadi perintang bagi kebahagiaannya. Ia bertirakat ke tempat-tempat yang dikeramatkan, dan berguru ke mana-mana. Namun, semua usaha yang ia lakukan tidak menghilangkan kegelisahannya.

Penampilan keseharian Ki Ageng Suryomentaram: celana pendek dan menyelempangkan kain bermotif parang rusak barong. Pada masa itu, motif ini hanya dikenakan oleh para raja. Ki Ageng mengenakannya sebagai simbol perlawanan.
Penampilan keseharian Ki Ageng Suryomentaram: celana pendek dan menyelempangkan kain bermotif parang rusak barong. Pada masa itu, motif ini hanya dikenakan oleh para raja. Ki Ageng mengenakannya sebagai simbol perlawanan.

Pada 1921, saat usia Pangeran Suryomentaram menginjak 29 tahun, ayahandanya meninggal. Setelah kakaknya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sultan Hamengkubuwana VIII, Pangeran Suryomentaram mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran. Permohonan ini dikabulkan.

Ia kemudian hidup sebagai seorang petani di Desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga, di lereng Gunung Merbabu. Sejak itu, ia dikenal sebagai Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin.

Waktu Perang Dunia I selesai, Ki Gede Suryomentaram bersama teman-temannya mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon. Sarasehan tersebut dihadiri oleh 9 orang termasuk Ki Gede sendiri. Di antara yang hadir adalah Ki Hajar Dewantara. Sarasehan ini banyak membicarakan masalah yang terjadi di Hindia Belanda saat itu.

Keputusan dari sarasehan ini di antaranya adalah perlunya pendidikan bagi rakyat. Maka diputuskan untuk mendirikan sekolah-sekolah rakyat. Sekolah-sekolah tersebut selanjutnya disebut sebagai Taman Siswa dan dipimpin oleh Ki Hadjar Dewantara. Karena Taman Siswa belum memiliki gedung maka Ki Ageng meminjamkan rumahnya di Yogyakarta untuk digunakan sebagai ruang kelas dan asrama.

Di lain pihak, Ki Gede Suryomentaram mendapat tanggung jawab untuk mendidik orang tua. Dalam salah satu pertemuan, atas usulan Ki Hadjar Dewantara, Ki Gede Suryomentaram mendapat nama baru, yaitu Ki Ageng Suryomentaram.

Di Balik Pembentukan PETA

Ki Ageng Suryomentaram dikenal aktif menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Ia juga menentang Indonesia dijadikan ajang peperangan antara Belanda dan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras untuk membentuk tentara. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Ki Ageng Suryomentaram berperan penting dalam pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Kisahnya dimulai saat Ki Ageng Suryomentaram dan teman-temannya berembug tentang bagaimana caranya agar bangsa Indonesia tidak dijajah lagi. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa agar tidak dijajah lagi maka bangsa ini harus memiliki tentara yang terlatih. Masa pendudukan Jepang dinilai waktu yang baik untuk membentuk tentara karena saat itu, pihak Jepang sendiri sedang mengkonsolodasi kekuatannya. Lagipula, bangsa Jepang adalah bangsa Asia yang kemampuan perangnya sama dengan bangsa Eropa sehingga mereka bisa diminta untuk melatih tentara sukarela yang akan dibentuk.

Gagasan ini awalnya awalnya ditolak oleh Gurbernur Yogyakarta yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Yamauchi. Namun, seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano menyanggupi akan mengajukan permohonan tersebut langsung ke Tokyo. Permohonan yang ditandatangai oleh 9 orang tersebut dikabulkan oleh pemerintah Jepang di Tokyo. Maka terbentuklah Tentara Sukarela yang namanya kemudian diubah menjadi Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Nantinya, tentara ini menjadi modal yang sangat penting yang dimiliki Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya pasca-proklamasi kemerdekaan.

Ki Ageng Suryomentaram juga menyusun tulisan mengenai dasar-dasar ketentaraan sebagai bekal atau pedoman bagi tentara-tentara Pembela tanah Air agar “berani mati” atau berani berperang membela tanah airnya. Tulisan tersebut ia sebut sebagai Jimat Perang. Tulisan ini ia ceramahkan ke mana-mana, dan kemudian dipopulerkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya di radio.

Kawruh Beja atau Kawruh Jiwa

Setelah Indonesia mendapatkan kedaulatan penuh, Ki Ageng Suryomentaram aktif memberikan ceramah. Ki Ageng sebenarnya sudah mulai memberikan ceramah sejak lama. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti karena berkecamuknya perang Pasifik yang meluas sampai ke Nusantara.

Kawruh Beja (pengetahuan tentang kebahagiaan) yang kemudian lebih dikenal sebagai Kawruh Jiwa adalah inti pemikirannya. Ki Ageng Suryomentaram tidak memaksudkan kebahagiaan sebagai keberlimpahan materi atau tingginya kedudukan seperti yang menjadi pandangan umum manusia Indonesia saat ini. Ki Ageng Suryomentaram memaksudkan kebahagiaan sebagai penemuan dan pemahaman yang mendalam akan diri sendiri. Kebahagian ini adalah kebahagiaan yang bebas, kebahagiaan yang tidak terikat tempat, waktu, dan keadaan.

Kegiatan memberikan ceramah tersebut berlangsung sampai suatu kali ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, Ki Ageng Suryomentaram jatuh sakit. Ia lalu dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu dan kemudian dibawa pulang karena penyakitnya tidak kunjung membaik. Ki Ageng Suryomentaram meninggal pada Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962.

Banyak hasil pemikiran Ki Ageng Suryomentaram yang telah dibukukan, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Sebuah komunitas dengan nama Pelajar Kawruh Jiwa secara rutin mengadakan pertemuan untuk menghayati dan mempelajari wejangan-wejangan beliau. Warisan pemikiran yang ditinggalkannya sangat berharga khususnya bagi jiwa-jiwa yang mengupayakan kebebasan dan kebahagiaan.

LEAVE A REPLY

seventeen − three =