Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

2514

1001indonesia.net – Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia aktif berjuang untuk mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka. Ki Hajar memandang pendidikan merupakan bidang yang paling sesuai untuk dijadikan landasan dalam perjuangan itu.

Oleh orang-orang semasanya, Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai pendidik sejati. Atas kiprahnya, hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Riwayat

Bernama kecil R.M. Suwardi Suryaningrat. Lahir pada Kamis Legi, 2 Mei 1889. Ayahnya, Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat, adalah putra dari Paku Alam III.

Ia menikah dengan R.A. Sutinah yang terhitung saudara sepupunya. Pada 23 Februari 1928, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara tanpa menyertakan gelar kebangsawanan.

Sejak kecil, Suwardi sudah menggemari kesenian dan kesusastraan. Hal ini ia warisi dari keluarganya. Ciri khas keluarga Pakualaman adalah ketertarikannya pada bidang kesusastraan dan kesenian yang indah.

Kakeknya sendiri, Paku Alam III, menulis sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa, Serat Darmo Wirayat. Ayahnya, Pangeran Suryaningrat, bersama pamannya yang juga ayah Nyi Hajar, Pangeran Sastraningrat, menggubah Sastra Gending karya Sultan Agung.

Sejak kecil Suwardi hidup dengan kesederhanaan. Meski masuk dalam keluarga Pakualaman, tapi keluarganya tidak termasuk berada seperti keluarga Pakualaman lain.

Namun, semangat belajarnya sangat tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikannya di E.L.S. (Europeesche Lagere School), ia mendapat beasiswa di Sekolah Dokter Bumiputera (STOVIA) selama kurang lebih 5 tahun. Sayang, ia tidak berhasil menamatkan sekolahnya karena sakit selama empat bulan yang membuat ia tidak bisa belajar sehingga ia tidak naik kelas. Beasiswanya dicabut, dan ia terpaksa meninggalkan sekolah tersebut karena tidak bisa membiayai sendiri sekolahnya.

Keluar dari STOVIA, Suwardi Suryaningrat sempat bekerja di pabrik gula Bojong di Purbalingga, yang hanya dijalani selama setahun. Ia kemudian kembali ke Yogyakarta pada tahun 1911 bekerja di bidang kesehatan sebagai pembantu apoteker di Apotek Rathkamp.

Kiprah perjuangan Suwardi Suryaningrat pertama-tama tidak dalam dunia pendidikan, melainkan dalam bidang jurnalistik dan politik. Sambil bekerja sebagai asisten apoteker, ia mulai menekuni dunia jurnalistik. Pada awal kariernya, ia bekerja di dua koran yang berbeda, yaitu koran berbahasa Jawa Sedyatama dan koran berbahasa Belanda Midden Java, dari tahun 1909 hingga 1911.

Karier jurnalistiknya semakin berkembang ketika pada1912, ia bertemu Douwes Dekker yang memintanya mengelola surat kabar De Expres di Bandung. Ia juga menjadi anggota redaksi harian Kaoem Moeda, pembantu umum Oetoesan Hindia, pembantu harian Tjahaja Timoer, dan pengasuh Het Tijdschrif di Bandung.

Sementara itu, aktivitas politiknya bermula di organisasi Budi Utomo sebagai seksi propaganda untuk menggugah kesadaran masyarakat mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa.

Ia kemudian keluar dari Budi Utomo dan pindah ke Sarikat Islam. Ia pernah menjadi ketua Sarikat Islam cabang Bandung.

Kemudian bersama Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij pada 25 Desember 1912. Indische Partij merupakan organisasi politik pertama di Indonesia yang beraliran nasionalisme Indonesia, dan bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Namun, izin untuk menjadikan Indische Partij berbadan hukum ditolak oleh pemerintah pendudukan Belanda yang menganggap partai ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan membuat rakyat bersatu melawan pemerintah kolonial.

Pada 1913, terjadilah peristiwa penting. Saat itu, pemerintah Belanda akan merayakan kemerdekaan yang ke-100 tahun setelah lepas dari Prancis dengan biaya dibebankan pada rakyat jajahan. Suwardi yang saat itu baru berumur 24 tahun menyampaikan protesnya melalui tulisan yang berjudul Als ik eens Nederlands was (Andaikan aku seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres milik Douwes Dekker. Berikut petikan dari tulisan tersebut:

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikit pun.

Tulisan dengan nada kritis yang sangat termashyur ini menggambarkan keberanian dan kecerdasan penulisnya dalam menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang dirasa merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Tulisan Suwardi Suryaningrat di atas disusul oleh tulisan Cipto Mangunkusumo di harian De Expres pada 26 Juli 1913 dengan judul Kracht of Vrees (Kekuatan atau Ketakutan). Dua hari kemudian Suwardi Suryaningrat menulis di harian yang sama berjudul Een voor Allen, maar ook allen voor Een (Satu untuk semua, tetapi juga semua untuk satu).

Douwes Dekker yang baru datang dari Belanda memberi apresiasi kepada kedua temannya dalam sebuah tulisan di De Expres pada 5 Agustus 1913 berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en R.M. Soewardi Suryaningrat (Dua Pahlawan kita: Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat).

Akibat dari tulisan-tulisan tersebut, pemerintah kolonial memutuskan untuk menangkap dan mengasingkan ketiganya; Cipto diasingkan ke Banda, Suwardi Suryaningrat ke Bangka dan Douwes Dekker di Kupang. Atas permintaan mereka sendiri, ketiganya kemudian diasingkan ke negeri Belanda.

Suwardi menggunakan waktunya di negeri Belanda dengan banyak belajar mengenai pendidikan dan pengajaran dengan mendalam hingga ia memperoleh akta mengajar pada 1915. Dalam studinya ini, ia banyak mempelajari pemikiran tokoh-tokoh pendidikan dunia, seperti Montessori, Froebel, dan Tagore.

Pada 18 Agustus 1917, pemerintah Belanda mengakhiri masa pengasingannya, tapi ia tidak segera dapat kembali karena sedang berlangsung Perang Dunia I. Baru pada 6 September 1919, ia menginjakkan kaki kembali di tanah air.

Di tanah air, Suwardi giat kembali berjuang. Ia bergabung dengan National Indische Partij yang berkedudukan di Semarang. Ia juga aktif kembali sebagai jurnalis dengan menjadi redaktur majalah De Beweging dan Persatuan Hindia, pemimpin harian De Expres, serta memimpin majalah berbahasa Jawa Penggugah yang diserahkan kepadanya oleh dr. Cipto Mangunkusumo.

Di Yogyakarta, Suwardi Suryaningrat aktif dalam Paguyuban Selasa Kliwon. Salah satu keputusan yang dihasilkan oleh paguyuban ini adalah secara aktif menebar benih jiwa merdeka pada masyarakat melalui jalan pendidikan. Untuk itu dilakukan pembagian tugas. Ki Ageng Suryomentaram kebagian tugas mendidik orang dewasa, sementara Suwardi mendapat jatah mengadakan pendidikan bagi anak-anak.

Suwardi Suryaningrat mewujudkan tugasnya dengan mendirikan perguruan diberi nama National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922 dengan candra sengkala Lawan Sastra Ngesti Mulya, artinya dengan ilmu pengetahuan mencapai kemuliaan yang bertepatan dengan tahun Caka 1852.

Dengan berdirinya sekolah Taman Siswa, Suwardi Suryaningrat lebih aktif di ranah politik beralih ke bidang pendidikan dalam perjuangannya.

Baca juga: Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa

Pasca Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Pada 19 Desember 1957, ia mendapat gelar Doctor Honoris Causa  dari Universitas Gajah Mada. Atas kiprahnya, ia dikenang sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Ki Hajar Dewantara meninggal pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Yogyakarta. Untuk melestarikan semangat perjuangan Ki Hajar, para penerus Perguruan Taman Siswa mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya di Yogyakarta.

Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara ingin membangun suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia sebagai upaya memerdekakan manusia baik secara lahiriah maupun batiniah. Menurutnya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, serta didasarkan atas kebebasan yang asasi.

Menurut Ki Hajar, pendidikan pemerintah kolonial saat itu tidak cocok untuk bangsa Indonesia karena bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman, dan ketertiban). Pendidikan dengan karakter semacam ini dalam praktiknya merupakan suatu perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budi pekertinya karena selalu hidup di bawah paksaan atau tekanan. Pendidikan seperti ini tidak akan membuat anak-anak memiliki kepribadian.

Ki Hajar Dewantara memahami pendidikan sebagai daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Dengan kata lain, pendidikan itu merupakan upaya untuk membentuk manusia yang berbudi pekerti, berpikiran, dan bertubuh sehat.

Tujuan pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara pada akhirnya adalah manusia Indonesia yang merdeka. Ki Hajar yakin, kondisi bangsa Indonesia yang belum bisa bersatu melawan penjajah bisa diubah melalui pendidikan. Pendidikan adalah kunci bagi perubahan agar bangsa Indonesia sadar akan kondisinya yang terjajah dan mau berjuang bersama mewujudkan kemerdekaan.

Bagi Ki Hajar, kemerdekaan adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia, dan pendidikan adalah jalan untuk mencapainya. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam arti luas sebagai kondisi di mana manusia dapat hidup harmonis, baik dengan dirinya, sesamanya, maupun lingkungannya. Untuk tujuan ini, pendidikan harus berangkat dari keunikan dan potensi yang dimiliki masing-masing orang.

Ki Hajar Dewantara menawarkan sistem mengajar yang dinamai sistem among yang menyokong kodrat alam anak-anak didik, bukan dengan “perintah-larangan”, tetapi dengan tuntunan, agar lahir dan batin anak didik dapat berkembang menurut kodratnya sendiri dengan subur dan selamat. Sistem among ini didasarkan pada dua hal, yaitu:

  1. Kemerdekaan sebagai syarat untuk untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin, hingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri sendiri);
  2. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.

Pemikiran ini ia realisasikan dalam Perguruan Taman Siswa yang ia dirikan. Dalam kongres Taman Siswa tahun 1946, ia mengemukakan lima asas Taman Siswa yang merupakan pengembangan dari pemikiran di atas. Kelima asas itu disebut dengan istilah Panca Dharma Taman Siswa, yaitu:

1. Asas Kemerdekaan
Bahwa manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan bebas merdeka, dalam arti memiliki hak asasi yang bersifat asli untuk hidup dan menyelenggarakan kehidupannya. Namun, kebebasan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak boleh disalahgunakan. Oleh karena itu, asas kemerdekaan mendorong manusia untuk bersikap disiplin dan berbudi luhur, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

2. Asas Kodrat Alam
Bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk Tuhan adalah satu dengan kodrat alam ini. Artinya, manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam ciptaan Tuhan. Manusia hanya berhasil dalam hidupnya selama ia mengikuti dan mematuhi kodrat alam yang memiliki banyak hal positif baginya, termasuk penyediaan fasilitas dalam mencapai kemudahan dan keberhasilan hidup manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa dalam kesatuan dan keterpaduannya dengan alam.

3. Asas Kebudayaan
Tingkat kemajuan individu dan masyarakat dapat dilihat dari seberapa maju kebudayaan yang telah diciptakannya. Kebudayaan juga merupakan pembentuk identitas suatu bangsa. Oleh karena itu, penting sekali bagi suatu bangsa untuk memelihara atau melestarikan budayanya. Tapi, tidak berarti asal memelihara kebudayaan bangsa dari pengaruh luar. yang perlu dilakukan adalah membawa kebudayaan bangsa itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia, serta kepentingan hidup rakyat lahir dan batin pada tiap-tiap zaman dan keadaan.

4. Asas Kebangsaan
Cinta kebangsaan tidak boleh bertentangan dengan nilai kemanusiaan, tapi harus menjadi bentuk dan perbuatan kemanusiaan yang nyata. Oleh karena itu, cinta pada bangsa tidak mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain, melainkan mengandung rasa satu dengan bangsa sendiri, rasa satu dalam suka dan duka, rasa satu dalam kehendak menuju kepada kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa.

5. Asas Kemanusiaan
Menyatakan bahwa darma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang harus terlihat pada kesucian hatinya dan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk Tuhan.

Bagaimana kelima asas tersebut saling berhubungan dan bagaimana penerapannya dalam pendidikan dijelaskan Ki Hajar Dewantara dalam kutipan berikut:

Berilah kemerdekaan kepada anak-anak kita: bukan kemerdekaan yang leluasa, tetapi yang terbatas oleh tuntutan-tuntutan kodrat alam yang nyata, dan menuju ke arah kebudayaan, yaitu keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Kemudian agar kebudayaan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan, akan tetapi jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 12 =