Kasuari, Burung Endemik Papua yang Unik dan Berbahaya

68
Burung Kasuari
Burung Kasuari (Foro: Ist)

1001indonesia.net – Kasuari (Casuarius casuarius ) merupakan jenis burung endemik di wilayah Papua, Papua Nugini, dan Australia. Burung berukuran besar ini merupakan burung darat. Dengan kata lain, burung ini tidak bisa terbang.

Burung berbulu hitam ini memiliki tiga spesies, yaitu kasuari gelambir-ganda atau kasuari selatan (Southern Cassowary), kasuari gelambir-tunggal atau kasuari utara (Northern Cassowary), dan kasuari kerdil. Kasuari kerdil merupakan salah satu hewan endemik Indonesia, dapat ditemukan di hutan-hutan papua.

Sebenarnya ada satu spesies lainnya, Pygmy Cassowary. Namun, spesies yang diperkirakan hidup di zaman es ini telah lama punah. Fosilnya ditemukan di daratan Australia.

Umumnya berat burung kasuari berkisar 58 kilogram dengan tinggi 1,5 meter. Di antara tiga jenis yang ada, kasuari selatan adalah yang paling besar. Jenis ini merupakan burung paling tinggi ketiga dan paling berat kedua di dunia setelah burung unta dan emu.

Kasuari Selatan bisa memiliki tinggi antara 150-180 cm. Berat jenis betinanya rata-rata 58,5 kg, sementara pejantan sekitar 29-34 kg. Beberapa kasuari selatan betina bahkan bisa memiliki tinggi mencapai dua meter.

Sementara itu, kasuari kerdil adalah spesies paling kecil dengan tinggi antara 90-150 cm dan berat antara 17,6-26 kg.

Sayap burung ini terlalu kecil untuk menopang badan yang berat itu untuk bisa terbang ke udara. Bagian mahkota, bulu-bulu kasar, dan sayap kecilnya yang melengkung di bawah tubuh berfungsi untuk melindungi sisi tubuhnya saat menembus vegetasi lebat.

Dengan kepala yang merunduk ke depan dan leher serta bahu yang hampir horizontal, burung ini dapat dengan mudah bergerak cepat menerobos semak belukar. Kaki serta kuku yang keras dan tajam adalah senjata utama burung ini.

Foto: jalaksuren.net

Lari burung ini lumayan cepat, kecepatannya hingga 50 kilometer per jam. Kasuari mampu melompat hingga 2 meter.

Burung ini memiliki pendengaran yang sangat baik. Mereka dapat mendengar kehadiran manusia dari jauh. Setelahnya, mereka akan menghilang ke dalam hutan untuk menghindari manusia. Sebab itu, bukti keberadaan burung kasuari sering kali hanya dapat dilihat dari sisa-sisa kotoran dan jejak tiga jari seperti dinosaurus dalam hutan yang berlumpur.

Bulu kasuari berbeda dengan bulu burung lainnya. Bulunya berwarna hitam menyerupai rambut manusia. Oleh masyarakat Papua, bulunya dimanfaatkan sebagai hiasan kepala atau sebagai penghias noken.

Di balik bulunya terdapat kulit berwarna biru terang yang sama seperti pada leher dan kepalanya. Warna merah pola pada tengkuk sama dengan gelambirnya.

Pewarnaan ini baru muncul setelah anak kasuari mencapai umur dua hingga empat tahun. Anak kasuari yang baru menetas memiliki warna krem dengan belang hitam, lalu berubah menjadi cokelat ketika menginjak umur lima bulan.

Foto: greeners.co

Kasuari memiliki tiga jari pada tiap kakinya dan masing-masing dilengkapi dengan cakar tajam. Cakar pada jari tengah bisa mencapai panjang 12 cm. Oleh orang Papua, bagian tulang, paruh, dan kukunya dijadikan senjata tradisional.

Burung kasuari berkembangbiak dengan bertelur. Telur kasuari berwarna hijau dengan berat sekitar 650 gram. Burung kasuari hanya memiliki satu butir telur selama masa bertelur.

Tugas mengerami telur, membesarkan, dan melindungi anak-anak dari bahaya adalah tugas para pejantan. Pada musim kawin, betina akan kawin dengan beberapa pejantan dan bertelur di sarang mereka. Setelah itu, pejantan akan mengerami telur selama 50-52 hari dan tetap berada di sarang selama sembilan bulan untuk membesarkan anak-anaknya.

Anak burung kasuari memiliki bulu-bulu yang menarik, yakni bergaris-garis hitam dan bulu yang berwarna cokelat muda akan berubah menjadi hitam pekat saat dewasa. Kulit leher dan kepala botak berwarna biru, hijau, terkadang orange tergantung jenisnya. Pada bagian kepala terdapat mahkota tanduk.

Foto: idntimes.com

Meskipun memiliki tampilan indah, burung ini dapat bersikap agresif. Ketika merasa dalam bahaya, burung Kasuari bisa menyerang hewan maupun manusia dengan menendang dan mencakarnya, bahkan bisa sampai menyebabkan kematian.

Seorang pemilik kasuari di kawasan Florida dikabarkan tewas akibat diserang burung peliharaannya pada April 2019. Tak heran jika kasuari disebut sebagai burung paling berbahaya di dunia.

Kasuari merupakan hewan soliter dan memiliki daerah teritorial tertentu. Mereka hidup di lantai hutan untuk mencari makan atau melakukan aktifitas lainnya. Burung ini makan pada pagi dan sore hari di hutan sekunder.

Biasanya burung kasuari mulai berhenti makan sekitar jam sepuluh pagi atau berhenti akibat teriknya matahari, atau karena cukup kenyang. Pada siang hari kasuari melakukan aktifitas bermain dan istirahat, dan mereka banyak dijumpai di hutan primer. Hutan primer sudah menjadi tempat bermain dan istirahat yang baik bagi spesies satwa liar yang hidup di alam bebas.

Burung kasuari memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon. Burung ini menjadi agen penghijau hutan karena biji dari buah yang dimakan akan dikeluarkan kembali bersama kotoran, kemudian tumbuh menjadi tanaman baru. Sebab itu, penting untuk melestarikan populasi burung ini.

Pelaut Belanda membawa burung kasuari pertama kali ke Eropa pada akhir abad ke-16. Di sana, burung kasuari mendapat perlakuan istimewa karena dipelihara dalam kebun binatang pribadi milik Raja Rudolph II.

Baca juga: Cenderawasih, Burung Langka nan Elok dari Papua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 − three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.