Islam, Unsur-unsur Pembentuk Keragaman Peradaban Nusantara

184
Menara Masjid Kudus Pada masa silam, Masjid Menara Kudus merupakan merupakan pusat dakwah Sunan Kudus pada era Demak, Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Pada masa silam, Masjid Menara Kudus merupakan merupakan pusat dakwah Sunan Kudus pada era Kesultanan Demak, Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. (Foto: Dewan Masjid Indonesia)

1001indonesia.net – Meskipun terdapat perdebatan tentang kapan tepatnya Islam masuk ke Nusantara, cukup pasti bahwa sejak masa Khalifah Utsman (644–656 M) telah terjadi kontak antara Nusantara dan dunia Islam. Orang-orang Muslim, misalnya, telah memainkan peran penting dalam perdagangan di Sumatra di bawah Kerajaan Sriwijaya, yang didirikan pada akhir abad VII.

Sedangkan petunjuk pertama tentang keberadaan kerajaan Islam Nusantara dapat ditelusuri dari bagian utara Sumatra dengan ditemukannya nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir yang wafat pada 1211. Serangkaian nisan yang ditemukan di Jawa Timur juga mengindikasikan bahwa sebagian elite Jawa telah menjadi Muslim pada masa kejayaan Majapahit sekitar abad XIII.

Pengaruh awal Islam masuk ke Nusantara selama beberapa abad, antara lain berasal dari India, Tiongkok, Arabia, Mesir, dan Persia. Ricklefs (2005: 27) menggambarkan dua proses utama kemungkinan persebaran awal agama ini di Nusantara. Pertama, penduduk pribumi mengalami kontak dengan pedagang Muslim dan kemudian menganut agama baru tersebut. Kedua, orang-orang asing Asia (Arab, India, Tionghoa, dan lainnya) Muslim menetap di suatu wilayah dan mengikuti gaya hidup setempat.

Sesudahnya, Islam juga didakwahkan oleh ulama terutama kalangan Melayu dan Jawa
serta penaklukan oleh para penguasa Muslim. Di tengah meningkatnya hubungan politik dan perdagangan di kawasan Nusantara, para pedagang Muslim dan sekelompok sufi asing telah memperkenalkan Islam hingga kemudian menyebar luas.

Hikayat Raja-raja Pasai, yang menceritakan peristiwa-peristiwa bertarikh 1250–1350,
meriwayatkan Raja Meurah Siloo yang memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Malik al-Shalih. Sekitar awal abad XV, Malaka menjadi pusat perdagangan sekaligus penopang penyebaran Islam.

Sedangkan awal abad XVI, berdiri Kerajaan Aceh yang kemudian berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di kawasan barat Nusantara. Agama tersebut juga berkembang di pulau-pulau utama, seperti Kalimantan dan Sulawesi, juga kepulauan penghasil rempah di Maluku.

Di Jawa Tengah, Demak didirikan oleh Raden Patah sebagai kekuatan baru pada tahun 1500 dari puing-puing kebesaran Majapahit. Di bawah Sultan Trenggana, masa kejayaan Kerajaan Demak ditandai oleh misi-misi penyebaran Islam dan pelayaran untuk perdagangan hingga wilayah timur. Masjid Demak, yang telah didirikan sejak era Raden Patah, menjadi lokasi penting kajian Islam yang melibatkan para wali sebagai pemuka agama.

Asimilasi budaya di Jawa terjadi sebagai hasil pertemuan wilayah ini dengan Islam dan tradisi-tradisi lain yang lebih tua. Konversi ke dalam Islam jarang diikuti suatu perubahan radikal. Sejarah konflik antara daerah pesisir dan daerah pedalaman Jawa bukanlah hasil pertentangan antara agama dan budaya, melainkan lebih merupakan pertentangan kepentingan politik dan kepentingan ekonomi.

Proses asimilasi dan akomodasi terus berlangsung setelah mayoritas penduduk Jawa
memeluk Islam; Islamisasi adalah suatu proses yang berlangsung terus hingga
saat ini (Ricklefs 2005: 34).

Setelah munculnya gerakan-gerakan pembaruan pada abad XIX dan XX, proses asimilasi tidak pupus. Gerakan-gerakan Islam bahkan menjadi semakin beragam, dan turut mewarnai pembentukan Indonesia hingga saat ini.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

thirteen − six =