Hindu, Unsur-unsur Pembentuk Keragaman Peradaban Nusantara

265
Hindu, Unsur-unsur Pembentuk Keragaman Peradaban Nusantara
Candi Prambanan, warisan kerajaan Mataram Hindu dibangun oleh Rakai Pikatan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, dengan ketinggian mencapai 47 meter.

1001indonesia.net – Kerajaan bernuansa Hindu pertama di Nusantara adalah Kutai di Kalimantan Timur, yang didirikan Kudungga sekitar abad IV. Bukti keberadaan Kerajaan Kutai antara lain suatu tugu tempat persembahan yang bertuliskan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta. Açwawarman, nama ini berakar Sanskerta, adalah raja kedua yang sekaligus disebut pendiri wangsa.

Menilik gejala-gejala tersebut, Vlekke (2016: 19) berkesimpulan bahwa terjadi asimilasi gradual budaya Hindu dan praktik-praktik kuno dari suatu kerajaan yang telah ada sebelumnya.

Berpusat di Jawa Barat, pada abad V berdiri Kerajaan Tarumanagara. Rajanya yang terkemuka bernama Purnawarman, seorang penganut Hindu. Kebesaran Purnawarman, yang dianggap perwujudan Dewa Wisnu. Salah satu jasa Purnawarman tergambar dalam Prasasti Ciaruteun yang menceritakan inisiatif raja dalam pembangunan kanal.

Kemajuan peradaban semacam itu mengindikasikan bahwa kontak budaya dengan India tidak berlangsung satu arah.

Dalam pengaruh tradisi Hindu, kita juga mengenal Kerajaan Mataram Kuno yang didirikan pada abad VIII di Jawa Tengah. Raja pertamanya adalah Sanjaya, yang setelah meninggal
digantikan oleh Rakai Panangkaran yang kemudian menjadi penganut Buddha.

Raja Sanjaya meninggalkan antara lain Prasasti Canggal bertarikh 732, ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, menceritakan asal usul kepemimpinannya.

Selain itu, kita dapat menyebut kerajaan besar Majapahit. Terletak di Jawa Timur, Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293, setelah dia menggulingkan Raja Kediri Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol utusan Kublai Khan.

Majapahit mencapai puncaknya di era Hayam Wuruk. Dalam kakawin Nagarakretagama, dikisahkan wilayah Majapahit terbentang dari Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga Semenanjung Malaya. Pengaruh Hindu tampak antara lain pada pembangunan candi-candi sebagai bangunan suci maupun ritual-ritual yang berpadu dengan keyakinan lokal.

Candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Situs Trowulan
Candi peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan.

Meluasnya pengaruh Hindu tidak lepas dari kemungkinan bahwa Hinduisme dijadikan sebagai landasan legitimasi kekuasaan raja, antara lain lewat kehadiran para Brahmana.
Kalangan elite pun menyerap pengaruh Hindu sebagai bagian dari sarana meningkatkan gengsi sosial.

Kontak dengan India bukan hanya membuat orang-orang menyadari pencapaian budaya Hindu, mereka dianggap membawa serta bentuk-bentuk peradaban yang lebih tinggi ke
Nusantara. “Kemungkinan ini sangat jelas tercermin pada penyerapan kata-kata Sanskerta ke dalam Bahasa Jawa Kuno” (Simbolon 2007:10).

Meskipun penyebaran peradaban Hindu merupakan suatu proses yang sangat lambat, asimilasi tradisi Hindu-India dan tradisi lokal di Nusantara menghasilkan bekas mendalam hingga saat ini. Bukan hanya bahwa sekitar 3% penduduk Indonesia kini memeluk Hindu dan sebagian besar dari mereka berada di Bali, tetapi juga bahwa berbagai praktik sosial yang diwarisi generasi sekarang berasal dari masa-masa awal sejarah Nusantara tersebut.

*) Tulisan ini merupakan bagian dari buku Indonesia, Zamrud ToleransiDimuatnya kembali tulisan ini dalam situs 1001 Indonesia sebagai upaya untuk menyebarkan ide-ide yang terdapat dalam buku tersebut pada khalayak yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven − one =