Fort Rotterdam, Peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang Masih Berdiri Kokoh

161
Fort Rotterdam
Foto: Pixabay.com/ELG21

1001indonesia.net – Benteng Fort Rotterdam merupakan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo berusia ratusan tahun dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. Letaknya di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tak jauh dari Pantai Losari.

Benteng ini dibangun oleh Kerajaan Gowa-Tallo. Mulanya bernama Benteng Ujung Pandang atau Benteng Panyyua. Tempat bersejarah ini dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa X (sebagian menyebutnya sebagai Raja Gowa IX) bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung dengan gelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng.

Saat Kerajaan Gowa harus mengakui kekalahan kepada pihak penjajah, benteng ini diserahkan kepada VOC sesuai dengan perjanjian Bongayya pada 18 November 1667. Namanya kemudian diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama itu untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda.

Baca juga: Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda di Bukittinggi

Ketika awal dibangun, benteng ini berbahan dasar tanah liat. Kemudian pada 1634, ketika periode pemerintahan Raja Gowa XIV Sultan Alauddin, konstruksi benteng diganti dengan material batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst di daerah Maros.

Bentuk Benteng Ujung Pandang seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Penyu yang dapat hidup di darat maupun di laut menyimbolkan kejayaan Kerajaan Gowa, baik di daratan maupun di lautan.

Saat dikuasai VOC, benteng tersebut dimanfaatkan sebagai pusat pertahanan sekaligus penampungan rempah-rempah untuk kawasan Indonesia timur. Sekitar 200 tahun Belanda menggunakan benteng ini sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan berbagai macam aktivitas.

Fort Rotterdam ini pernah digunakan sebagai tempat untuk menawan Pangeran Diponegoro sejak 1833 hingga wafatnya pada 8 Januari 1855. Di tempat inilah, Pangeran Diponegoro menyusun catatan tentang budaya Jawa, misalnya wayang, mitor, sejarah, dan ilmu pengetahuan.

Pada 1937 kepemilikan Benteng Rotterdam oleh Dutch Indies Goverment diserahkan kepada Fort Rotterdam Foundation. Benteng ini terdaftar sebagai bangunan bersejarah pada 23 Mei 1940.

Benteng Fort Rotterdam juga pernah digunakan sebagai kamp tawanan perang Jepang selama Perang Dunia II. Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), benteng ini digunakan sebagai pusat penelitian ilmu pengetahuan dan bahasa.

Pada 1945-1949, Benteng Fort Rotterdam kembali beralih fungsi menjadi pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menghadapi pejuang-pejuang Indonesia.

Kemudian pada 1970-an, benteng ini dipugar secara ekstensif dan sekarang menjadi pusat budaya, pendidikan, tempat untuk acara musik dan tari, serta tujuan wisata bersejarah.

Dari tahun 1950 hingga tahun 1999, benteng ini diubah kembali namanya menjadi Ujung Pandang. Pada 13 Oktober 1999, namanya berubah lagi menjadi Fort Rotterdam berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999.

Sampai sekarang, peninggalan yang telah berusia hampir 500 tahun ini masih berdiri kokoh. Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Sekarang bangunan ini telah menjadi aset kepemilikan nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh, dan menjadi salah satu objek wisata sejarah andalan di Kota Makassar.

Baca juga: Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda di Bukittinggi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.