Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda di Bukittinggi

80
Benteng Fort de Kock
Foto: heikaku.com

1001indonesia.net – Salah satu benteng peninggalan Belanda di Sumatra Barat adalah Benteng Fort de Kock. Benteng ini dibangun di atas bukit Jirek yang merupakan tanah ulayat Nagari Kurai atau yang sekarang dikenal dengan nama Bukittinggi.

Awalnya, benteng ini dinamai Sterreschans, artinya benteng pelindung. Namanya kemudian diubah menjadi Fort de Kock, diambil dari nama komandan militer dan wakil gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu, yaitu Baron Hendrik Merkus de Kock atau Baron de Kock.

Benteng ini dibangun oleh kepala opsir militer Belanda untuk daerah Padangsche Bovenlande Kapten Bauer pada 1825 untuk menghadapi prajurit Paderi dari Bonjol. Kala itu, terjadi Perang Paderi di wilayah Sumatra Barat yang berlangsung sejak tahun 1821 hingga 1837.

Bentuk benteng ini tidak seperti benteng yang lain. Bentuknya lebih tepat disebut sebagai menara pengintai yang dilengkapi dengan meriam untuk menghadapi para pejuang Paderi.

Ketika itu terjadi, tentara Hindia-Belanda ikut membantu kaum adat. Mereka dengan bebas mendirikan beberapa benteng di wilayah dataran tinggi Minangkabau untuk mengalahkan Kaum Paderi.

Dua benteng yang mereka bangun adalah benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Tetapi ternyata hubungan kaum adat dan Hindia-Belanda tersebut tidak berjalan baik. Kaum adat pun merasa dirugikan karena Kerajaan Pagaruyung menjadi runtuh.

Hampir seluruh bangunan asli benteng Fort de Kock hancur dan tidak tersisa. Pemandangan yang tersisa hanya bekas parit yang pernah ada di sana.

Saat ini, kawasan bersejarah ini menjadi Taman Kota Bukittinggi dan Taman Burung Tropis. Taman di kawasan ini sangat rindang dan hijau sehingga cocok sebagai tempat berlibur bersama keluarga.

Di kawasan ini berdiri sebuah bangunan yang bercat putih. Bangunan ini digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan sekeliling Kota Bukittinggi. Tentu bangunan bercat putih itu bukan bagian dari benteng Fort de Kock. Karena bangunan asli dari benteng tersebut sudah hancur dan tidak ada lagi.

Baca juga: Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen + three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.