Burung Bidadari, Satwa Endemik Halmahera yang Terancam Punah

260
Burung Bidadari Halmahera
Foto: mongabay.co.id

1001indonesia.net – Burung bidadari (Semioptera wallacii) merupakan salah satu satwa endemik Pulau Halmahera, Maluku Utara (Malut). Keberadaannya kini terancam punah akibat semakin rusak dan berkurangnya kawasan hutan yang menjadi habitat burung itu.

Burung yang menjadi salah satu maskot Maluku Utara itu memiliki penampilan yang sesuai namanya. Burung bidadari, khususnya yang jantan, memiliki corak dan warna bulu yang unik. Sekilas dia seperti memiliki empat sayap karena di bagian leher burung ada sepasang bulu yang bentuknya mirip sayap dan berwarna biru.

Burung jantan mempunyai mahkota warna ungu dan ungu-pucat yang mengilat. Bulu dadanya berwarna hijau zamrud. Sementara yang betina berukuran lebih kecil, bulunya berwarna cokelat zaitun dengan ekor lebih yang lebih panjang dibandingkan burung jantan.

Burung jantan akan menggunakan keindahan bulunya untuk menarik yang betina. Sang jantan membentangkan sayapnya dengan gerak-gerik seperti gerakan menari yang terkesan genit untuk merayu pasangannya. Si betina kemudian akan memilih dan menghampiri pejantan yang paling indah bentangan sayap dan gerakan tariannya.

Tidak cuma penampilannya saja yang unik, burung yang dalam bahasa lokal disebut weka weka itu juga memiliki suara khas yang menggelegar.

Burung pemakan serangga, antropoda, dan buah-buahan ini masuk ke dalam ras burung cenderawasih. Pertama kali ditemukan oleh oleh Alfred Russel Wallace, sang pengembara dan petualang dari Inggris sekitar tahun 1858.

Dari hasil penemuan itu, Wallace lalu mengirimkan sebuah laporan ke para ornitolog di London. Nama wallacii sebagai nama spesies bidadari diberikan sebagai bentuk penghargaan untuk sang penemu. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut wallace’s standardwing.

Terancam Punah

Sangat disayangkan keberadaan burung bidadari saat ini sudah terancam punah. Sebagian kawasan hutan yang merupakan habitat burung bidadari kini telah rusak, antara lain akibat adanya aksinya perambahan hutan dan pembalakan liar.

Selain itu, terjadi alih fungsi kawasan hutan yang menjadi habitat burung bidadari. Alih fungsi itu telah memberangus pepohonan dalam jumlah yang sangat banyak. Semua pohon besar yang menjadi tempat berkembang biak dan mencari makan bagi burung bidadari ditebang habis.

Sejauh ini memang belum ada penelitian khusus mengenai kondisi populasi burung bidadari di Halmahera. Namun, dengan banyaknya kawasan hutan habitat burung bidadari yang rusak atau telah beralih fungsi, bisa dipastikan jumlahnya telah jauh menurun.

Saat ini, burung yang disebut juga dengan nama cerderawasi halmahera ini dapat kita jumpai di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Taman nasional seluas 167.300 hektare itu berperan sangat penting dalam menjaga kelestarian 25 burung endemik yang ada di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + eighteen =