Tjokroaminoto, Orang Pertama yang Meneriakkan Indonesia Merdeka

68
Raden Haji Omar Said Tjokroaminoto

1001indonesia.net – Konon, seperti yang dilansir oleh situs resmi Kemdikbud, Tjokroaminoto adalah orang pertama yang meneriakkan Indonesia merdeka. Sosok dan pengaruhnya begitu ditakuti oleh penjajah kolonial Belanda.

Kala itu, Tjokroaminoto memiliki pengaruh yang sangat luas di kalangan masyarakat Jawa sehingga pemerintah kolonial menjulukinya “Raja Jawa tanpa Mahkota” (De Ongekroonde Van Java).

Raden Haji Omar Said Tjokroaminoto lahir di desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur pada 16 Agustus 1882. Ia merupakan putra dari Raden Mas Tjokromiseno, seorang wedana di Kleco, Madiun. Sedangkan kakeknya, Raden Mas Tjorkronegoro, adalah bupati Ponorogo.

Tjokroaminoto  tercatat sebagai lulusan akademi pamong praja Opleidingsschool Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA), sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai bumiputera, di Magelang. Tamat OSVIA, ia menjadi pangreh praja selama tujuh tahun. Pada 1907, ia keluar dari pangreh praja karena tidak setuju dengan sistem feodal yang berlaku saat itu.

Di masanya, banyak orang Jawa yang menganggap Tjokroaminoto sebagai sosok ratu adil. Ia sangat dihormati. Gagasannya dianggap melampaui zaman. Namun, ia sendiri menolak sebutan itu. Sebaliknya, ia mengingatkan rakyat banyak akan nasib mereka yang tertindas, mendorong mereka untuk bekerja keras menciptakan Indonesia merdeka.

Kiprah Tjokroaminoto dalam pergerakan berawal setelah ia bertemu Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surabaya pada 1912. Saat itu, Tjokroaminoto mengusulkan agar nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI), tanpa meninggalkan misi dagangnya. Dengan demikian, organisasi tersebut memiliki cakupannya yang lebih luas. Usul itu langsung diterima.

Haji Samanhudi lalu memintanya untuk membuat anggaran dasar SI. Tanggal 10 November 1912, SI resmi berdiri dengan Haji Samanhudi sebagai ketua dan Tjokroaminoto menjadi komisaris untuk Jawa Timur.

Pada 1915, Tjokroaminoto menjadi ketua central SI yang merupakan gabungan dari SI di daerah-daerah. Sejak saat itu, ia terus berjuang mengukuhkan eksistensi SI. Dalam naungan organisasi ini, ia berjuang untuk menghapus diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi. Dengan kata lain, SI berupaya menghilangkan dominasi ekonomi penjajah Belanda dan para pengusaha keturunan China. Pada Maret 1916, SI diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia Belanda.

Meskipun seorang bangsawan, Tjokroaminoto tidak bersikap seperti layaknya seorang priayi kala itu. Itu sebabnya ia tidak memilih organisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangannya. Budi Utomo merupakan wadah bagi para priayi Jawa.

Sejak lama, Tjokroaminoto bercita-cita agar bangsa Indonesia kelak memiliki pemerintahan sendiri dan terbebas dari belenggu penjajahan. Untuk mewujudkan cita-citanya itu, ia memiliki gagasan untuk membentuk parlemen yang dipilih oleh bangsa Indonesia sendiri. Gagasan Tjokroaminoto ini dilontarkan di tengah-tengah Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam pada 1916.

Tak lama setelah Tjokroaminoto mengusulkan pembentukan parlemen, tepatnya pada 1918, pemerintah kolonial Belanda bersedia membentuk Dewan Rakyat (Volksraad). Tjokroaminoto dan tokoh SI lainnya, yakni Abdoel Moeis dan Agus Salim terpilih sebagai anggota dari dewan itu.

Mereka pun bertekad untuk membentuk parlemen sejati. Ketiganya sempat mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih oleh dan dari rakyat, serta membentuk pemerintahan yang bertanggung jawab terhadap parlemen. Namun, mosi itu ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal inilah yang menjadi penyebab ketiga tokoh wakil SI ini keluar dari Volkskraad dan bersikap nonkooperasi dengan parlemen.

Pada 1923, SI mengadakan kongres akbar di Madiun. Pada kongres ini, SI akhirnya diubah menjadi partai politik dengan nama Partai Sarekat Islam (PSI). Melalui partai ini, Tjokroaminoto bertekad untuk menentang pemerintah Belanda yang semakin kuat menancapkan kapitalisme dan kolonialisme di bumi Indonesia.

Gagasan utama Tjokroaminoto selain kemerdekaan Indonesia adalah kebebasan politik dan perlunya membangkitkan kesadaran hak-hak kaum pribumi. Gagasan nasionalismenya ini bisa dilihat dalam berbagai ceramah dan tulisannya di media massa, seperti Bintang Surabaya, Utusan Hindia, dan Fajar Asia.

Gagasan penting lainnya adalah usaha Tjokroaminoto untuk memadukan Islam dan sosialisme. Uraiannya mengenai hal itu ia ulas dalam tulisan “Apakah Sosialisme Itu” dan “Sosialisme Berdasar Islam” yang dimuat dalam Oetoesan Hindia, kabar resmi SI. Pada November 1924, Tjokroaminoto menerbitkan buku berjudul Islam dan Sosialisme.

Ia juga secara intens melakukan gerakan penyadaran terhadap anak-anak muda yang indekos di rumahnya di Surabaya. Banyak tokoh-tokoh nasional yang merupakan hasil didikannya, di antaranya adalah Kartosuwiryo, Muso, Alimin, Semaun, dan Sukarno. Rumahnya menjadi tempat anak-anak muda bertanya dan berdiskusi.

Tiga Murid Tjokroaminoto
Sukarno, Semaun, dan Kartosuwiryo merupakan murid Tjokroaminoto. Nantinya ketiganya memiliki pemahaman dan mengambil jalan yang berbeda dalam perjuangan mereka. (Foto: Merdeka.com)

Sayang, sebelum melihat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Tjokroaminoto meninggal pada 16 Desember 1934. Sebagai tokoh besar, ia berhasil mewariskan gagasan-gagasan besarnya kepada generasi muda setelahnya, seperti Sukarno, Sjahrir, dan Hatta.

Hal ini diakui oleh Sukarno sendiri.  Baginya, Tjokroaminoto adalah salah satu guru yang amat ia hormati. Menurut Sukarno, kepribadian dan pemahamannya mengenai Islam sangat menarik.

LEAVE A REPLY

five × 3 =