Tirto Adhi Soerjo, Pelopor Pers Nasional dan Organisasi Modern

958
Tirto Adhi Soerjo, Pelopor Pers Nasional dan Organisasi Modern
Tirto Adhi Soerjo (Foto: sindonews.com)

1001indonesia.net – R.M. Tirto Adhi Soerjo adalah pelopor pers nasional dan salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional awal. Namanya diabadikan sebagai Bapak Pers Nasional (1973). Ia mendapat gelar pahlawan nasional pada tahun 2006.

Meski demikian, Tirto sempat tenggelam dalam sejarah republik. Bahan literatur mengenai dirinya sangat sedikit. Di antara yang sedikit itu adalah buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang melambungkan namanya.

Pram mengabadikan kisah Tirto Adhi Soerjo melalui tokoh Mingke dalam buku Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak langkah, dan Rumah Kaca). Tetralogi Buru adalah roman sejarah dengan setting masa awal pergerakan Indonesia. Satu waktu yang menandai awal perubahan gaya perlawanan Indonesia dari cara perlawanan fisik menjadi perlawanan melalui pendidikan dan organisasi modern.

Selain Tetralogi Buru, Pram menulis biografi Tirto Adhi Soerjo dalam buku Sang Pemula. Dalam buku ini, Pram menggambarkan sosok Tirto Adhi Soerjo sebagai penerbit/editor pribumi pertama, salah satu dari pribumi pertama yang mengarang fiksi dalam bahasa Melayu, pendiri Sarekat Prijaji dan Sarekat Dagang Islam, pribumi pertama yang mendirikan badan usaha berbentuk N.V. (Naamloze Vennootschap), bangsawan pribumi pertama yang berprofesi sebagai pengusaha, pribumi pertama yang memiliki gagasan mengenai emansipasi wanita, dan terutama sebagai tokoh pionir dalam gerakan kebangkitan nasional Indonesia (Takashi Shiraishi, 1987).

Riwayat Thirto Adhi Soerjo

Tirto Adhi Soerjo dilahirkan di Blora tahun 1880—ada yang menyebut ia dilahirkan tahun 1875—dalam lingkungan keluarga bangsawan. Nama kecilnya R.M. Djokomono. Sebagai anak seorang bupati, ia dapat bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School).

Tirto kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) di Batavia. Namun, ia tidak menamatkannya. Suatu hal yang sebenarnya patut disyukuri karena dengan demikian ia mendapat kesempatan lebih luas untuk berperan pada bangsanya di bidang lain.

Tirto kemudian aktif dalam bidang jurnalistik. Ia bergabung dengan surat kabar Pemberita Betawi. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur Pemberita Betawi (1901–1903), Tirto mengasuh kolom “Dreyfusiana” untuk menyuarakan aspirasi pembebasan kaum terjajah, dengan mengambil aspirasi dari perkembangan intelektualisme Eropa. Secara reguler, dalam kolom tersebut, Tirto mengungkap penyalahgunaan kekuasaan oleh Belanda dan para pegawai sipil pribumi.

Kata “Dreyfusiana” yang dijadikan nama kolom itu tidak lain merujuk pada “Kasus Dreyfus” yang terkenal pada akhir abad ke-19 di Prancis, yang melahirkan “manifeste des intellectuals” (manifesto para intelektual), dan menjadi tonggak sejarah bagi gerakan intelektual di Eropa (Yudi Latif, 2011).

Pada 1903, Tirto kemudian pindah ke Bandung dan menikah. Ia menikah pertama kali dengan putri bangsawan Cianjur bernama Raden Ayu Siti Suhaerah. Kemudian ia menikah dengan R.A. Siti Habibah.

Selama di Bandung, ia melanjutkan aktivitas jurnalistiknya dengan mendirikan surat kabar mingguan Soenda Berita (1903-1905) dengan bantuan modal dari R.A.A. Prawiradiredja, Bupati Cianjur.

Pada 1905, Tirto mengembara ke Maluku. Di sana, ia bertemu dan menikah dengan seorang putri Raja Bacan, Princess Fatimah, seorang perempuan cerdas lulusan MULO yang mahir berbahasa Belanda. Kelak, ia membantu suaminya sebagai anggota redaksi Medan Prijaji.

Sepulang dari Maluku, pada 1907, Tirto mendirikan mingguan Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan. Ia juga mulai menerbitkan Poetri Hindia pada 1908. Inilah surat kabar pertama bagi perempuan pribumi.

Pada 1908, ia memulai sebuah gagasan bentuk perniagaan, yakni dengan meminta pelanggan membayar lebih dahulu dengan imbalan memiliki saham perusahaan yang ia dirikan yang bernama NV Medan Prijaji. Perusahaan ini juga membangun percetakan sendiri, mendirikan Hotel Medan Prijaji di Batavia, dan berdagang batik.

Pemula yang Menjadi Suluh

Tirto Adhi Soerjo menyadari banyak kekeliruan pada perjuangan bangsa Indonesia. Perang Diponegoro, perang Aceh, juga perang di Bali telah berakhir dengan kemenangan kaum imperialis. Tirto ingin merumuskan suatu bentuk perjuangan lain.

Bagi Tirto, pertama-tama yang harus diperjuangkan adalah pendidikan bagi rakyat agar mereka sadar akan nasib dirinya sebagai bangsa yang terjajah. Upaya membangun kesadaran kebangsaan ini ia lakukan dengan dua jalan, yaitu melalui organisasi modern dan surat kabar.

Berdasarkan pemikiran tersebut, Tirto mendirikan Sarekat Prijaji pada 1906. Perhimpunan ini merupakan organisasi pribumi yang bersifat modern pertama di Hindia Belanda. Awalnya beranggotakan 700 orang. Namun, organisasi ini tidak bertahan lama. Tirto merasa kesulitan untuk menggerakkan para anggotanya yang terdiri atas para priyayi dan pejabat pemerintah yang masih tunduk terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Ia  kemudian menjadi salah satu pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor. Resminya perhimpunan ini didirikan pada 1909, meski ada juga yang berpendapat bahwa sebenarnya perhimpunan ini sudah berdiri sejak 1905. Tujuan utama dari perhimpunan ini ialah untuk memperbaiki kondisi-kondisi buruk yang dialami oleh para pengusaha/pedagang pribumi sehingga bisa mengejar paling tidak kemajuan yang dicapai para pedagang keturunan China, atau bahkan yang dicapai oleh orang Eropa.

Pada 1912, Tirto membantu pendirian Sarekat Islam (SI). Perhimpunan ini didirikan oleh H. Samanhudi, seorang pedagang batik lokal yang berlatar belakang Sekolah Pribumi Kelas Dua (Tweede Klasse School). Tirto membantu merumuskan statuta perhimpunan itu.

SI berawal dari SDI yang muncul di Surakarta pada 1911. Perhimpunan ini memang memiliki kesamaan dengan SDI sebelumnya yang didirikan di Bogor dalam tujuannya untuk membela pedagang Muslim lokal, khususnya dalam menghadapi persaingan dalam industri batik di Jawa Tengah.

Di sisi lain, Tirto merupakan pribumi pertama yang dengan sadar menggunakan pers sebagai sarana propaganda dan pembentukan kesadaran kebangsaan.  Sejak 1894–1895, Tirto sudah mengirimkan tulisannya ke surat kabar berbahasa Belanda (Takashi Shiraishi, 1987). Melalui tulisannya, ia menyuarakan ketidakadilan kaum penjajah.

Sampai suatu ketika tidak ada surat kabar yang mau menerima artikelnya. Pada 1903, Tirto mendirikan Soenda Berita, surat kabar pertama yang dibiayai, dikelola, diedit, dan diterbitkan oleh Pribumi (Pemela Allen, 2004). Surat kabar ini juga menjadi surat kabar berbahasa Melayu pertama dan menjadi titik tolak kelahiran pers pribumi.

Kemudian, ia menerbitkan jurnal Medan Prijaji yang kemudian menjadi surat kabar terkemuka masa itu dan menjadi forum yang terbuka bagi berbagai kalangan. Berbeda dengan Soenda Berita yang menghindari bidang politik, Medan Prijaji menyuarakan kritikan-kritikan pedas terhadap kebijakan pemerintah kolonial dan penguasa pribumi yang bersifat diskriminatif dan menyediakan advokasi bagi masyarakat yang membutuhkan. Surat kabar ini disebut sebagai surat kabar nasional pertama.

Pemerintah kolonial lama-kelamaan merasa terganggu dengan apa yang ditulis Tirto. Ia dinilai terlalu vokal. Oleh karena itu, ia kemudian dibuang ke beberapa tempat. Terakhir, ia dibuang ke Ambon selama 6 bulan. Saat kembali ke pulau Jawa pada 1915, ia telah kehilangan semua yang ia miliki. Medan Prijaji diberedel, badan usaha yang ia bangun telah hancur. Ia kemudian tinggal di Hotel Medan Prijaji yang saat itu sudah dimiliki oleh R. Goenawan. Pada 17 Desember 1918—ada yang menyebut tahun 1917—Tirto Adhi Soerjo meninggal akibat penyakit disentri.

Kiprah yang dimainkan Tirto Adhi Soerjo mengingatkan kita pada R.A. Kartini. Mereka berdua sama-sama merupakan tokoh yang sangat penting perannya dalam kesadaran awal kebangsaan Indonesia.

Hasil perjuangan Kartini secara nyata memang tidak seberapa. Ia baru bisa mendirikan sekolah bagi putra putri kabupaten. Namun, surat-surat yang ditinggalkannya—yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht pada 1911—mempunyai pengaruh sangat besar. Surat-surat itu menyadarkan pembacanya akan penderitaan bangsa akibat budaya patriarkis dan feodalisme, juga betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan Hindia.

Seperti Kartini, Tirto adalah seorang pemula, tetapi ia telah menjadi suluh bagi bangsanya. Ia telah menjadi setitik cahaya harapan bagi bangsa yang sedang diselimuti kegelapan.

***

Belajar sejarah bukan sekadar menghafal nama dan peristiwa. Karena kalau demikian orang hanya menjadi ensiklopedia berjalan. Mengenang pahlawan juga tidak hanya dengan memberi anugerah sebagai pahlawan nasional semata. Pahlawan sejati toh tidak butuh “tepuk tangan penonton”.

Menghargai pahlawan juga tidak perlu harus meniru-niru sosoknya seperti yang terjadi pada peringatan Kartini. Sejauh yang saya ingat, Kartini tidak pernah menulis tentang pentingnya memakai kebaya dalam surat-surat yang ditinggalkannya. Menghargai jasa-jasa pahlawan adalah tentang bagaimana generasi sekarang memahami apa yang menjadi cita-cita mereka demi kemajuan seluruh bangsa dan meneruskan untuk mewujudkannya.

LEAVE A REPLY

8 − three =