Kartini dan Kebaya, Kenangan atas Putri Pejuang dari Jepara

1347

1001indonesia.net – Raden Ajeng Kartini (1879-1904), kita mengenalnya sebagai seseorang yang memperjuangkan emansipasi kaum wanita. Ialah yang dengan segala kepekaan dan keprihatinannya sadar akan nasib bangsa dan kaumnya yang terbelakang di tengah berkuasanya kolonialisme dan feodalisme, lalu melawan dengan pena hingga suaranya dapat terdengar jauh dan bergema hingga sekarang.

Tapi, seberapa jauh sebenarnya generasi muda sekarang mengenal apa yang diperjuangkannya? Pertanyaan itu semakin menguat saat saya menyaksikan bagaimana para siswa-siswi sekolah atas anjuran guru mereka merayakan Hari Kartini dengan mengenakan pakaian adat.

Ya, Kartini memang mengenakan kebaya sebagai pakaian kesehariannya seperti yang tampak pada fotonya yang tertempel di ruang kelas atau yang ada dalam buku pelajaran sejarah. Tapi, apa yang sebenarnya guru-guru harapkan dengan meminta para siswinya untuk meniru apa yang ia kenakan?

Tentu untuk lebih mengenalkan sosok wanita agung itu kepada anak-anak. Namun, memotivasi anak-anak sekolah untuk meneladani dan meneruskan perjuangan beliau tidak cukup hanya dengan menyuruh mereka mengenakan pakaian adat.

Memangnya apa yang diperjuangkan Kartini? Apa yang bisa kita teladani darinya? Yang pasti bukan pakaian kebaya yang ia kenakan.

Sadar Akan Kondisi Bangsanya

Lahir dari keluarga yang tergolong bangsawan paling terkemuka dan memiliki kekuasaan tidak membutakan mata Kartini akan nasib bangsanya yang terbelakang dan terjajah. Ia mampu merasakan nasib rakyat jelata yang terjerat kemiskinan meski ia berada dalam tembok tebal kabupaten yang memisahkannya dari mereka.

Kartini juga tidak membanggakan kebangsawanannya. Ya, ia bangga pada leluhurnya, khususnya pada kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro yang menjadi pelopor dalam memberikan pendidikan Barat pada putra-putrinya. Ya, ia bangga dilahirkan sebagai orang Jawa. Menurutnya, “Rakyat Jawa dan puisi terjalin erat satu sama lain,” dan “orang Jawa yang paling tidak berarti pun puitik” (Pramoedya Ananta Toer, 2003).

Namun, Kartini tidak memahami kebangsawanan sebagai golongan istimewa yang mesti dijunjung oleh rakyat kebanyakan. Ia bahkan merasa risih dengan penghormatan yang diberikan padanya meski secara adat yang berlaku saat itu, penghormatan tersebut sudah menjadi haknya. Ia menentang paham feodalisme Jawa yang memandang nilai seorang manusia ditentukan oleh tingkat kebangsawanannya.

Kartini justru mengerti bahwa dalam kedudukannya sebagai keluarga bangsawan melekat tanggung jawab untuk memajukan rakyatnya. Oleh karena itu, ia ikut memikirkan pemecahan terhadap persoalan yang dihadapi bangsanya. Hal tersebut tampak dalam tulisannya, dan inilah sesungguhnya makna di balik pemberian gelar pahlawan nasional kepadanya.

Kartini hidup saat feodalisme dan kolonialisme seiring sejalan menguasai tanah air. Harus diakui bahwa pendidikan Barat yang diterimanya yang membuat ia lebih jelas melihat kondisi bangsanya. Kartini adalah salah satu dari sedikit orang pribumi saat itu yang berkesempatan menyelami pemikiran Barat sedalam-dalamnya melalui buku-buku berbahasa Belanda yang ia baca.

Melawan melalui Tulisan

Sebagai seorang putri bupati, Kartini sadar betul tanggung jawab yang ia emban terhadap penderitaan rakyat. Namun, ia bukanlah orang yang punya kekuasaan, massa, apalagi uang yang bisa ia gunakan untuk mengubah keadaan masyarakat. Bahkan untuk bergaul dan mengenal langsung rakyat jelata pun ia tidak diperbolehkan. Kartini hidup sebagai wanita pada saat feodalisme membelenggu dengan sangat kuatnya gerak kaum perempuan.

Maka, ia melakukan apa yang bisa ia lakukan. Ia menulis. Ia menuangkan segala perasaan dan pemikirannya ke dalam surat-surat yang ia tujukan pada sahabatnya nun jauh di negeri Belanda.

Menulis adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya massa dan kuasa seperti Kartini.

Kartini tentu tidak mengetahui bahwa surat-suratnya kelak akan dikumpulkan oleh seseorang, dibundel menjadi satu buku dan diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Tentu ia juga tidak memaksudkan ungkapan perasaan dan pikiran dalam surat-suratnya itu akan dibaca umum dan menginspirasi banyak orang. Namun, kita bisa mengenang pikiran dan tekad seorang wanita yang ingin memperjuangkan nasib bangsa dan kaumnya.

Kartini memang tak sehebat Laksamana Malahayati dari Kesultanan Aceh yang mampu memimpin 2000 pasukan dan berhasil membunuh Cournelis de Houtman dalam pertarungan satu lawan satu di geladak kapal. Ia tidak pula seberani Cut Nya Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan Nyi Ageng Serang yang secara terang-terangan menentang pemerintahan pendudukan Belanda.

Namun, perjuangan tidak selalu berarti perjuangan fisik. Keberanian tak selalu berarti perlawanan langsung. Apa yang ditekadkan dan kemudian ia tuliskan dalam surat-suratnya—meski tekad tersebut belum terwujud dalam kenyataan—adalah juga bentuk perjuangan.

Dalam surat-suratnya pula, Kartini membela martabat bangsanya yang dipandang rendah dan dinilai kurang beradab oleh bangsa penjajah. Ia juga menceritakan bagaimana ia sangat mencintai kesenian bangsanya.

Dan, cinta tersebut tidak berhenti dalam bentuk tulisan semata. Ia menunjukkannya dalam tindakan nyata dengan bergabung dalam perkumpulan “Oost en West” (Timur dan Barat) yang salah satu tujuannya adalah mengembangkan kerajinan rakyat.

Di sisi lain, ia mau mengakui dengan jujur kelemahan adat bangsanya yang dinilainya kaku dan kurang berperikemanusiaan karena menilai orang berdasarkan keningratannya.

Bukankah ini juga bentuk keberanian.

Kita pun bisa melihat keberaniannya dalam kutipan berikut yang menggambarkan tekadnya untuk berjuang melalui tulisan:

Aku yang tiada mempelajari sesuatu pun, tak tahu sesuatu pun, berani-beraninya hendak menceburkan diri ke gelanggang sastra! Tapi bagaimanapun, biar kau tertawakan aku, dan aku tahu kau tak berbuat begitu, gagasan ini tak akan kulepas dari genggamanku. Memang ini pekerjaan rumit; tapi barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia.

Itulah tekad Kartini untuk terjun ke dalam dunia sastra. Dengan tulisan-tulisan yang ia buat, Kartini ingin “… bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban Rakyat kami.”

Demikianlah Kartini, wanita agung berbudi luhur yang hari lahirnya rutin diperingati setiap tanggal 21 April. Terima kasih pada para pendidik yang mengenalkan sosok putri Indonesia ini melalui gerakan berpakaian kebaya atau baju adat lainnya. Namun, berpakaian kebaya saja rasanya tidak cukup untuk menangkap keteladanannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + three =