Teater Koma, Tak Mengenal Kata Henti

543
Teater Koma
Pertunjukan Teater Koma berjudul "Republik Petruk". (Foto: Teater Koma)

1001indonesia.net – Teater Koma adalah kelompok teater yang dikenal sangat produktif dan berhasil secara komersial. Hampir semua pertunjukannya dipenuhi penonton. Bahkan akibat membludaknya penonton, beberapa jadwal pertunjukan diperpanjang hingga lebih dari dua minggu.

Nama Teater Koma mengandung arti selalu bergerak, tanpa mengenal titik, singkatnya “teater tanpa selesai.” Kelompok teater ini berusaha untuk terus mencari wujud dan isi teater yang lebih kaya dan penuh warna dengan belajar dari teater-teater terdahulu.

Sebab itu, teater-teater rakyat, seperti lenong, ketoprak, masres (sejenis ketoprak di Cirebon), wayang orang, wayang golek, wayang kulit, tarling (gitar dan suling), dan cemeng (semacam ubrug) memengaruhi dan memperkaya bentuk Teater Koma.

Nano Riantiarno (Foto: Teater Koma)
Nano Riantiarno (Foto: Teater Koma)

Kelompok teater ini berdiri pada 1 Maret 1977. Teater Koma memulai kegiatannya dengan mementaskan karya Nano Riantiarno, sutradaranya, Rumah Kertas. Dan memang, hampir seluruh pertunjukan Teater Koma berasal dari naskah tulis—baik karya asli maupun saduran naskah asing—karya Riantiarno.

Sebelum aktif di Teater Koma, Riantiarno merupakan anggota kelompok Teater Populer yang dipimpin Teguh Karya.

Melihat minimnya pementasan yang diselenggarakan Teater Populer karena Teguh Karya yang sibuk sekali dalam dunia perfilman, ia memutuskan untuk meninggalkan Teater Populer. Hal ini ia lakukan setelah melalui proses perenungan yang panjang, agar ia bisa tetap setia pada jalur teater sebagai bentuk ekspresi keseniannya.

Karya-karya Nano dimulai dari kegelisahannya untuk mencari sesuatu yang lain, untuk menempati celah kosong di antara bentuk-bentuk teater yang semakin mapan dan jenuh.

Berangkat dari kegelisahan itu, Nano melakukan observasi ke berbagai daerah, baik di dalam maupun luar negeri. Sampai akhirnya ia memiliki anggapan bahwa tidak ada perbedaan antara teater modern dengan tradisional.

Ia juga sadar betapa kayanya teater tradisional Indonesia. Sayangnya, meski beberapa di antaranya bertahan sampai saat ini, posisinya hanya sebagai warisan semata. “Kekuatannya jarang ditimbang, apalagi dieksplorasi. Hanya sedikit yang kenal. Itu pun sering cuma sebatas kulit saja.”

Nano berkeinginan untuk melahirkan kembali teater Indonesia, tapi tidak selalu berpatokan pada teori Barat. Ia kemudian banyak mempelajari teater-teater tradisional Indonesia. Ia ingin teater rakyat tersebut menjadi bahan utama bagi pertunjukan teaternya kelak.

Dan memang, pertunjukan Teater Koma berciri kuat pada bentuknya yang mempertahankan pola dramaturgi klasik, ditambah unsur tari dan nyayi.

Di sisi lain, Nano juga beranggapan bahwa teater dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teater harus mampu membaur dan mengakrabi masyarakat. Hal ini tampak jelas pada tema-tema yang digarap dalam pertunjukannya yang secara transparan sangat dekat dengan persoalan kemasyarakatan sehari-hari.

Teater adalah pemaparan pemikiran, kritik dan otokritik. Salah satu upaya pencarian jalan menuju kebahagiaan. Teater bisa mengandung berbagai pertanyaan yang seringkali tak terjawab. Tapi teater harus akrab dengan masyarakatnya. Menjadi magnit, dibutuhkan. Sebab, sumber teater adalah kehidupan dan alam semesta. Kisah manusia menjadi titik pusatnya.

Nano Riantiarno

Transparasi ini sering membuat pertunjukan Teater Koma diganjal oleh pihak yang berwajib.

Bahkan sejak tahun keduanya, drama Maaf, Maaf, Maaf yang dipentaskan di kampus Universitas Indonesia tahun 1978, dilarang oleh pihak berwajib walau sudah mendapat undangan dari UGM Yogya, Unpad Bandung, dan Surabaya.

Di kemudian hari, Teater Koma mendapatkan lagi beberapa pelarangan yang membuatnya mengalami kerugian secara finansial hingga ratusan juta rupiah.

Bagi Nano, teater merupakan cara kreatif untuk mengungkapkan hasil renungan serta kritik terhadap permasalahan masyarakat. Inilah yang membuat pertunjukan yang dimainkan oleh Teater Koma selalu memiliki korelasi positif dengan isu-isu yang terjadi di masyarakat.

Itu sebabnya, Nano begitu setia menggarap masalah-masalah yang berkaitan dengan orang-orang kecil yang terpinggirkan, seperti gelandangan, pelacuran, dan sebagainya. Ia merasa harus selalu berdiri di pihak orang-orang kecil, orang-orang tersisih, orang-orang yang tanpa pilihan hidup.

Dalam sejarahnya, teater ini mulai dengan 12 orang (yang kemudian disebut sebagai angkatan pendiri). Saat ini, anggota yang dimilikinya sudah berkembang hingga ratusan orang, sebagian menjadi anggota aktif, sebagian lagi bergabung saat dibutuhkan.

LEAVE A REPLY

six − 2 =