Wayang Golek, Seni Pertunjukan Boneka Kayu

897
Wayang Golek, Seni Pertunjukan Boneka Kayu
Wayang golek adalah salah satu jenis wayang yang populer di wilayah Jawa Barat. (Foto: pariwisatabandung.info)

1001indonesia.net – Wayang golek merupakan salah satu varian wayang yang ada di Nusantara. Seni pertunjukan boneka kayu ini usianya lebih muda dari wayang kulit. Sunan Kudus-lah yang pertama kali memperkenalkan boneka kayu sebagai ganti dari wayang yang terbuat dari kulit kerbau sekitar tahun 1583. Pertunjukan boneka kayu ini populer di wilayah Sunda.

Wayang golek lahir pada masa kerajaan Demak di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Saat itu, Sunan Kudus menggunakan pertunjukan boneka kayu dalam bahasa Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam.  Pertunjukan ini kemudian mulai berkembang di Jawa Barat saat Kesultanan Mataram Islam melakukan ekspansi ke Tanah Pasundan.

Sama seperti wayang kulit, dalam wayang golek, dalang memiliki peranan yang paling penting. Ia yang memainkan wayang yang terbuat dari kayu tersebut dan ia pulalah yang membawakan narasi dan membacakan dialog. Dalam menjalankan perannya, dalang dibantu oleh para nayaga (yang memainkan gamelan) dan sinden.

Pertunjukan wayang golek oleh Ki Asep Sunandar Sunarya. (Foto: seleb.tempo.co)
Pertunjukan wayang golek oleh Ki Asep Sunandar Sunarya. (Foto: seleb.tempo.co)

Cerita sumber wayang golek pun sama dengan wayang kulit, yaitu kisah Ramayana dan Mahabharata atau Bharatayuda dengan bahasa Sunda dan diiringi oleh gamelan. Lakon yang biasa dimainkan dalam pertunjukan boneka kayu ini adalah lakon carangan, lakon hasil improvisasi dalang yang masih merujuk pada cerita utama.

Karena dalang memainkan peran inti dalam pertunjukan maka bagus tidaknya pertunjukan wayang golek tergantung dari kualitas dalang. Kualitas dalang diukur dari bagaimana ia mampu memberikan suasana yang baru dengan improvisasinya dan mampu membawakan cerita dengan baik dan menarik. Di antara para dalang wayang golek, dua di antaranya sangat terkenal dan diakui kualitasnya, yaitu Asep Sunandar Sunarya dan Cecep Supriadi.

Saat ini, seperti nasib kesenian tradisional lainnya, nasib wayang golek pun kurang menggembirakan. Popularitasnya di kalangan generasi muda kalah jauh dibanding kesenian lainnya, semisal lagu dangdut. Di tambah lagi tidak ada tempat khusus bagi pertunjukan wayang golek. Permintaan masyarakat terhadap pertunjukan ini pun semakin jarang. Hal ini membuat pelaku kesenian tradisional ini semakin sulit untuk bertahan.

Menanggapi situasi ini, beberapa pelaku kesenian menyadari pentingnya kesenian wayang ini untuk mengikuti perkembangan zaman. Para dalang dituntut untuk kreatif dan melakukan terobosan agar generasi muda kembali meminati pertunjukan boneka kayu ini. Di antaranya dengan menyingkat waktu pertunjukan dan menggunakan peranti teknologi untuk mendukung pertunjukan.

Tentu menjadi tantangan tersendiri bagaimana terobosan yang dilakukan tidak menghilangkan keanggunan dan keagungan seni pewayangan ini.

LEAVE A REPLY

five × 4 =