Ubrug, Campur-Aduk Rupa-Rupa Seni, Sulap, dan Gedebus

oleh Siti Muniroh

634
Seni Teater Rakyat Ubrug
Teater Rakyat Ubrug pernah hadir tahun 1920-30-an di sekitaran Banten. Pertunjukan ini merupakan sebuah tontonan yang campur-aduk; ada lakon, musik, tari, pencak silat, gedebus (ilmu gaib), dan sulap. (Foto: mylentera.com)

1001indonesia.net – Dahulu kala, tepatnya di tahun 1920-1930-an di sekitaran Banten, terdapat rombongan seniman yang berjalan dari kampung ke kampung guna mencari tanah lapang yang ramai orang, entah di halaman stasiun, pasar, ataupun di tanah lapang lainnya. Tujuan mereka tidak lain adalah untuk mengamen.

Alat-alat musik yang dibawa oleh para Kanco (sebutan untuk orang-orang yang membawa alat-alat tersebut dengan cara digantung) di sepanjang perjalanan mencari tempat pentas, tak henti-hentinya dimainkan. Ini dimaksudkan untuk menarik warga sekitar untuk menonton pertunjukan yang akan mereka mainkan.

Ketika tiba di tempat yang mereka pilih, pertunjukan pun digelar. Sebuah tontonan yang campur-aduk; ada lakon, musik, tari, pencak silat, gedebus (ilmu gaib), dan sulap. Alur cerita tidak dipentingkan. Hanya lakon-lakon pendek penuh banyolan (komedi) yang mengutamakan tawa dan hiburan bagi penonton.

Namun, dalam pertunjukan juga terkadang diselipkan kritik-kritik sosial, seperti sindiran terhadap seseorang atau sekelompok orang yang dianggap menyimpang dari adat kebiasaan yang berlaku. Inilah kesenian ubrug; keadaan campur aduk dalam satu lokasi.

Pengertian Ubrug

Kata ubrug berasal dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug. Ada juga yang mengatakan bahwa asal mula kata tersebut adalah ‘sagebrugan’. Keduanya mempunyai pengertian yang sama, yakni campur-aduk.

Tidak hanya isi pertunjukannya yang campur-aduk, namun juga pemain, nayaga (orang-orang yang mempunyai keahlian menabuh gamelan dalam mengiringi pertunjukan, juga mempunyai istilah lain yaitu pengrawit, terdiri dari pria yang berumur 17 hingga 50 tahun bahkan lebih), dan penonton. Mereka bertumpuk di satu lokasi atau tempat pertunjukan.

Dalam Kamus Bahasa Sunda, kata ubrug berarti sebagai bangunan darurat, tempat bekerja sementara untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta. Kemudian kata tersebut digunakan sebagai nama kesenian. Mungkin karena pada masa lalu pemain ubrug sering berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan pertunjukan tersebut. Orang-orang kemudian menyebutnya sebagai pemain ubrug, pemain yang tinggal di tempat darurat.

Kesenian ini sering diistilahkan dengan topeng. Mengenai hal ini, ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa kesenian ubrug tidak sama dengan kesenian topeng. Pendapat kedua menyatakan bahwa kesenian ini konon sama saja dengan topeng. Hanya saja, istilah ubrug digunakan di wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Jawa Banten, sedangkan istilah topeng digunakan di wilayah-wilayah budaya Sunda.

Isi Pertunjukan

Pertunjukan ini biasanya dibuka dengan senandung oleh juru nandung atau disebut Ronggeng (perempuan) yang mengenakan pakain tari  lengkap dengan kipasnya. Kipas ini digunakannya saat ia bersenandung.

Pelawak atau bodor mengenakan pakaian yang disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak. Yang jelas, pakaiannya dimodifikasi sedemikian rupa untuk membuat geli penonton. Adapun kostum untuk nayaga tidak ada ketentuan. Ia hanya perlu memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain yang disesuaikan dengan perannya.

Seni Pertunjukan Ubrug

Tontonan yang campur-aduk ini diiringi alat-alat musik yang terkadang seadanya, terdiri dari gendang besar, gendang kecil, kulanter, rebana biang, dan terompet. Namun bila lengkap, alat musik lainnya ikut dimainkan, seperti kempul, gong kecil, gong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), rebab, kenong, bonang, kecrek, dan ketuk.

Bahasa yang dipakai  tergantung pada lokasi pertunjukan, yaitu Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Hal ini dikarenakan kesenian ubruq berawal mula dari Banten Selatan dan menjalar hingga ke Betawi.

Salah satu pemainnya, yang disebut panjak (penabuh, tetapi kadang menjadi penyanyi, kadang menjadi penari pula), meminta saweran (sumbangan uang secara sukarela) kepada para penonton.

Lazimnya kesenian ini adalah mengamen. Namun, pada perkembangannya, ia diminta pula bermain di acara-acara seperti pada hari raya, hajatan perkawinan, khitanan maupun hajatan lainnya.  Dengan demikian, tak jarang pula bila seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung sekalipun. Namun begitu, pertunjukan ini sering kali ramai penonton. Apalagi bila sang mandor maupun ketua RT setempat ikut bermain.

Sejarah Perkembangan Kesenian Ubrug

Hingga saat ini, belum ada catatan resmi mengenai pencipta dan tahun berapa kesenian ini mulai ada di Banten. Namun, menurut Tisna Sopandi  (Bulletin Kebudayaan Jawa Barat ‘Kawit’ No. 22 tahun 1980), kesenian ini sudah ada sebelum tahun 1918 dengan berpijak dari pengakuan pimpinan Topeng Banjet (Bang Jiun) yang berkata bahwa sebelum 1918, kesenian yang dipimpinnya ini berasal dari ubrug.

Lokasi persebaran kesenian ini antara lain di Kecamatan Cikande bagian utara, Kragilan, Carenang, Pontang, Tirtayasa, Kasemen, Ciruas, Walantaka, Taktakan, Waringin Kurung, Kramat Watu, Bojonegara, Merak, Cilegon, Anyar, Mancak, Cinangka, Ciomas, Pabuaran, Padarineang dan Pamarayan sebelah utara. Di daerah ini bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Banten.

Sedangkan yang berbahasa Sunda terdapat di Kecamatan Cikande sebelah selatan, Kopo, Cikeusal, Baros, Pamarayan Timur dan Selatan serta Petir. Di sini istilah ubrug diganti dengan istilah topeng, walaupun dalam pertunjukannya sama dengan ubrug dan tidak memakai topeng. Mungkin hal ini disebabkan karena Kabupaten Serang bagian tenggara berdekatan dengan Kabupaten Bogor tempat topeng Cisalak berada. Di Betawi sendiri, kesenian ini sudah punah. Ada yang berpendapat ubrug merupakan cikal bakal topeng Betawi, namun pendapat itu masih menjadi perdebatan.

Pada tahun 1920-an, Ronggeng yang terkenal di kesenian ini adalah Mak Kinang. Namun, ketika ia menikah dengan salah satu tokoh topeng yang bernama Pak Jiun, ia belajar menjadi ronggeng topeng. Lambat-laun ia menjadi terkenal sebagai ronggeng topeng. Dengan demikian, ubrug tidak lagi dipentaskan oleh Mak Kinang.

Selain Mak Kinang, sebagaimana lazimnya di dalam kesenian ubrug, yang dikenal adalah nama pimpinan rombongan. Di tahun 1920-an ini terdapat rombongan terkenal yang dipimpin oleh Kadul di Pasar Rebo, tepatnya di daerah Gudang Air dan juga Mak Minah di Cijantung. Ada pula rombongan lain seperti Ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagainya.

Ubrug sebagai Wadah Pelbagai Hal

Sebagaimana kesenian lainnya, ubrug dapat menjadi wadah penyampai aspirasi rakyat berupa kritikan dan masukan moral. Gaya komedinya yang menghibur, membuat kritik dan masukan moral yang disampaikan dapat mengena tanpa membuat tersinggung orang atau lembaga yang dituju. Selain itu, kesenian ini dapat menjadi wadah pemersatu antar-masyarakat.

Sumber:

  • http://merahputih.com/post/read/6-tokoh-seniman-berpengaruh-asal-banten
  • http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3438/Ubrug
  • http://lembagakebudayaanbetawi.com/artikel/seni-budaya/teater/ubrug
  • http://situs-betawi.blogspot.co.id/2009/12/ubrug.html
  • https://www.bantennews.co.id/mengenal-ubrug-kesenian-khas-banten/
  • https://asyarihafizh.wordpress.com/2015/06/19/budaya-betawi-yang-terlupakan/
  • https://wisata-indonesia-basistik.blogspot.co.id/2016/02/ubrug-teater-rakyat-banten.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =