Tapir Asia, Mamalia Langka Bertubuh Unik

180
Tapir Asia
Foto: edgeofexistence.org

1001indonesia.net – Tapir asia (Tapirus indicus) merupakan yang terbesar dari keempat jenis tapir dan satu-satunya yang berasal dari Asia. Nama indicus merujuk pada Hindia Timur, yaitu habitat alami jenis ini. Kini spesies ini telah tersebar dan dapat dijumpai di berbagai kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara.

Umumnya tapir memiliki ukuran tubuh sekitar 225 cm. Dari semua jenis yang ada, tapir asia memiliki tubuh paling kecil dibandingkan jenis yang lain. Panjang tubuh tapir asia biasanya hanya sekitar 1,8 meter, meski ada beberapa individu yang tubuhnya mencapai 2,4 meter.

Tinggi tubuh tapir asia, jika dihitung dari telapak kaki sampai punggung, antara 90 cm sampai 107 cm. Bobot tubuhnya antara 250 kg hingga 320 kg. Tubuh hewan ini terhitung berat karena memiliki massa otot lebih besar bila dibandingkan dengan spesies lainnya.

Ukuran tubuh tapir betina cenderung lebih besar pejantan. Meski begitu, ciri fisik antara keduanya tetap sama, yakni bertubuh gemuk, berotot, serta memiliki ekor pendek. Matanya berbentuk oval dan tidak sangat serasi dengan tubuhnya.

Kaki depan tapir memiliki empat kuku, tetapi ujung kuku yang keempat (belakang) tidak menyentuh tanah. Itu sebabnya, jejak kaki tapir hanya menunjukkan jejak tiga kuku. Sedangkan kaki bagian belakang hanya memiliki tiga kuku.

Tapir dikenal memiliki bentuk fisik yang unik. Bentuk fisik hewan ini dianggap sebagai gabungan dari beberapa jenis satwa lain. Sekilas penampakan tubuh tapir mirip babi, tetapi jika diamati lebih jeli ternyata bagian telinganya mirip telinga badak.

Moncong atau belalai pada tapir adalah bagian paling unik dan sekaligus menjadi ciri khas satwa langka ini. Moncong tapir elastis, lentur, dan cukup panjang, meski tak sepanjang belalai gajah. Biasanya tapir akan merapatkan moncongnya di tanah saat berjalan.

Selain moncongnya, warna tubuhnya juga cukup menarik karena di bagian bahu sampai pantatnya memiliki warna terang antara putih hingga abu-abu menyerupai pelana. Sedangkan bagian tubuh lainnya berwarna hitam, kecuali ujung telinga yang juga memiliki warna putih. Kombinasi warna ini memudahkan tapir untuk melakukan kamuflase di hutan.

Bukan hanya bentuk fisiknya yang memiliki penampilan khas, namun cara hidup atau perilaku tapir yang unik juga cukup menarik untuk diamati. Karena memiliki indera penglihatan yang kurang bagus, tapir sangat bergantung pada indera pendengaran dan penciuman.

Tapir merupakan hewan soliter atau hidup sendiri, pengecualian pada betina yang masih merawat anaknya. Hewan ini aktif mencari makan pada malam hari. Mereka berkomunikasi dengan membuat suara yang menyerupai siulan.

Seperti kebanyakan binatang soliter lainnya, tapir juga mempunyai kebiasaan untuk menandai wilayah kekuasaannya. Biasanya satwa ini akan menandai area tertentu di darat sebagai tempat kekuasaannya. Namun pada kenyataannya daerah kekuasan tersebut juga sering kali tumpang tindih dengan teritori tapir yang lain.

Cara tapir menandai wilayah kekuasaanya cukup lazim seperti yang dilakukan binatang lainnya. Satwa ini akan mengencingi tanaman yang ada di sekitar kawasan teritorialnya. Selain itu untuk memperluas wilayah kekuasaannya, hewan besar ini akan menyusuri jalur lain yang ditumbuhi tanaman selain yang telah dibuatnya sendiri.

Tapir sering disebut sebagai binatang nokturnal karena aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada waktu malam hari. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena tapir juga cukup sering melakukan pergerakan di siang hari. Akan tetapi pada waktu tertentu ia lebih banyak menghabiskan waktu sejenak untuk tidur siang.

Ketika matahari mulai terbenam tapir akan beranjak beraktivitas untuk mencari makanan. Kegiatan tersebut mulai dihentikan ketika matahari perlahan terbit. Perilaku ini menunjukkan bahwa tapir tidak bisa disebut sebagai binatang malam sepenuhnya. Maka dari itu satwa bermoncong ini lebih cocok disebut sebagai binatang krepuskular.

Walaupun hidup soliter, tapir melakukan komunikasi dengan individu lainnya. Cara berkomunikasinya dilakukan dengan mengeluarkan suara cicitan atau siulan yang cukup keras.

Tapir adalah binatang yang memiliki kemampuan memanjat sekaligus berenang. Satwa ini biasa menghabiskan waktu dengan berdiam di dekat aliran sungai atau sumber air, kemudian mandi atau berenang. Sedangkan untuk urusan memanjat tapir sanggup mendaki tebing yang cukup curam.

Foto: suara.com

Apabila merasa terancam tapir mampu untuk berlari dengan cepat. Hal ini cukup menarik, karena satwa ini memiliki bobot tubuh yang berat dibanding keluarga dalam satu genusnya. Tidak hanya itu, tapir juga memiliki kemampuan untuk membela diri dengan berkelahi. Kekuatannya terletak pada rahangnya sangat kuat dan dilengkapi gigi-gigi tajam.

Tapir dikenal sebagai salah satu satwa yang memiliki sifat pemalu, terutama apabila bertemu dengan manusia. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika hewan ini sulit dijumpai di alam liar. Apabila tapir merasa ada manusia di sekitarnya, maka ia akan bersembunyi di semak-semak.

Masa kawin satwa ini terjadi pada bulan April dan Mei. Masa kehamilan berlangsung selama 390 hari. Anakan tapir yang lahir memiliki berat berkisar 9-10 kg.

Tapir muda dari semua jenis berbulu cokelat dengan garis-garis dan bintik-bintik putih. Pola pada bayi ini berubah menjadi pola warna tapir dewasa antara empat hingga tujuh bulan setelah kelahiran. Anak tapir disapih antara umur 6 dan 8 bulan dan binatang ini menjadi dewasa pada umur tiga tahun. Kematangan seksual terjadi setelah tapir berumur 3 tahun.

Tapir merupakan hewan pemakan tumbuhan tetapi bukan termasuk ke dalam hewan ruminansia. Pakan tapir terdiri dari berbagai macam rumput, daun tumbuhan air dan ranting. Tapir sering menggunakan hidungnya untuk menarik ranting dan daun untuk dimasukkan ke dalam mulut. Hewan ini mencari makan pada rute yang sama.

Berdasarkan data yang diperoleh dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), tapir yang bernama latin Tapirus indicus saat ini berstatus Endangered (EN). Status yang diberikan sejak tahun 2008 tersebut menunjukkan bahwa kondisi tapir di alam liar mempunyai potensi terancam dalam waktu yang akan datang.

Pada sekitar tahun 80-an spesies ini memang sudah berstatus Endangered, akan tetapi status tersebut turun menjadi Vulnerable (VU) atau rentan pada 1996. Kemudian di tahun 2002 kembali naik menjadi Endangered dan turun menjadi Vulnerable di tahun 2003. Selanjutnya sejak 2008, tapir dianggap sebagai binatang yang status populasinya terancam punah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.