Tambang Batubara Ombilin, Warisan Budaya Dunia UNESCO

312
Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto
Gedung kantor PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit Pertambangan Ombilin, Sawahlunto, Sumatera Barat yang dibangun pada 1916. (Foto: traverse.id)

1001indonesia.net – Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto merupakan kawasan cagar budaya penting yang dimiliki Sumatera Barat. Jejak kejayaan pertambangan batubara di masa silam ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Lokasi pertambangan batubara tertua di Asia Tenggara ini terletak di lembah yang dikelilingi perbukitan dalam jajaran Bukit Barisan. Wilayah ini terbentang seluas 89,71 hektare di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Segar, Barangin, dan Kecamatan Silungkang.

Sawahlunto, sekitar 90 km dari Padang, pernah berjaya hampir seabad lamanya sebagai kawasan tambang batubara. Pada awal abad ke-20, Sawahlunto yang dulu hanya sebuah desa kecil dan terpencil di tengah hutan belantara, dengan penduduk sekitar 500 orang itu, kemudian berkembang sangat pesat menjadi pusat pertambangan batubara di masanya.

Perkembangan kota ini dimulai sejak ditemukannya tambang batubara oleh Pemerintah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, tepatnya oleh ahli geologi WH. de Greve pada 1868. Greeve memperkirakan kandungan mutiara hitam di Sawahlunto mencapai 205 juta ton.

Cadangan batubara itu tersebar, di antaranya di daerah Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Lurah Gadang, dan Tanjung Ampalu.

Berdasarkan penemuan itu, dirintislah pembangunan tambang batubara pada 1876. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menanamkan modal sekitar 5,5 juta gulden untuk membangun pemukiman dan fasilitas penambangan di Ombilin.

Dibangun juga jalur kereta api sejauh 100 kilometer, dari Sawahlunto ke Teluk Bayur (saat itu bernama Emma Haven atau Emmahaven) di Kota Padang. Lokomotif dan peralatan penambangan didatangkan langsung dari Jerman.

Pada 1891, penambangan pertama dilakukan di Desa Sungai Durian. Nilai investasi yang ditanamkan Kerajaan Belanda ketika itu sangat besar, sekitar 20 juta gulden. Setahun kemudian, produksi pertama dari tambang ini menghasilkan sebanyak 47.833 ton batubara. Batubara yang diproduksi pun memiliki kualitas yang sangat baik.

Saat itu, perusahaan tambang batubara Ombilin merupakan satu-satunya di Hindia Belanda. Hingga tahun 1930-an, produksi batubara Sawahlunto telah memenuhi 90 persen kebutuhan energi di Hindia Belanda. Dengan perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan sarana industri pertambangan, Sawahlunto menjadi kota besar di pantai barat Sumatera setelah Padang waktu itu.

Usaha penambangan ini mencapai puncak kejayaannya antara tahun 1920-1921. Ketika itu jumlah pekerja mencapai ribuan orang. Juga ada hampir seratus orang Belanda atau Indo yang menjadi pimpinan, ahli, dan staf kunci lainnya di perusahaan pertambangan itu.

Kota Lama Tambang Batu Bara Sawahlunto
Patung pekerja tambang batubara di Lubang Mbah Suro di Kota Lama Tambang Sawahlunto, Sumatera Barat. (Foto: KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Namun, Sawahlunto juga pernah kehilangan harapan saat tambang batubara yang menopang kehidupan kota terus merosot, puncaknya pada 1988. Seperti yang dilansir Kompas.com, kondisi itu membuat kota ini pernah dijuluki kota mati. Hingga akhirnya, sejumlah pihak menawarkan ide untuk memanfaatkan apa yang tersisa dari kegiatan tambang, terutama bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.

Kemudian lahirlah Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Visi Misi Kota Sawahlunto. Dengan adanya perda ini, kawasan kota tua Sawahlunto kemudian diubah menjadi wisata tambang. Wilayah yang sebelumnya kosong dan tertinggal kini dibenahi, sedangkan sisa kegiatan tambang dikelola agar menjadi tujuan wisata.

Selain itu, bangunan-bangunan di sekitar tambang yang sudah menjadi cagar budaya dimanfaatkan untuk menarik pengunjung. Kota tua Sawahlunto juga menawarkan wisata sejarah di beberapa obyek penting. Salah satunya adalah Museum Gudang Ransoem.

Museum Gudang Ransoem Sawahlunto
Museum Gudang Ransoem (Foto: Wikipedia)

Museum ini dulunya digunakan sebagai tempat memasak makanan bagi ribuan kuli, termasuk orang-orang rantai, sebutan untuk narapidana dan tahanan politik yang dipaksa untuk bekerja sebagai kuli penambang batubara.

Bangunan ini memiliki dua buah gudang besar dan tungku pembakaran. Tempat ini mempekerjakan sekitar 100 orang karyawan dan setiap harinya memasak lebih dari 65 pikul nasi atau setara 3.900 kilogram nasi untuk pekerja tambang batubara (orang rantai), keluarga pekerja tambang (orang kawalan), dan pasien rumah sakit.

Bangunan ini kemudian beralih menjadi museum yang dinamakan Goedang Ransoem. Di tempat ini catatan sejarah mengenai dapur umum masih tersimpan. Di samping pintu masuk Museum Gudang Ransoem terpampang tulisan, “Memahami Masa Silam untuk Menata Masa Depan.”

Selain itu, terdapat obyek bersejarah lainnya yang menjadi bangunan cagar budaya seperti Lubang Tambang Mbah Soero. Ini adalah lubang tambang yang dibuka sekitar 1898 yang namanya berasal dari seorang mandor bernama Soero. Lubang ini ditutup oleh Belanda pada 1932.

Lubang tambang yang dapat dimasuki pengunjung berada di level pertama. Lorong sepanjang 185 meter itu sudah dipermanis dengan paving block, dilengkapi penerangan yang cukup, diberi tiang penyangga untuk penguat atap, dan dilengkapi alat sirkulasi udara. Dengan demikian, pengunjung aman dan nyaman saat menyusuri lubang bekas tambang itu.

Sebagai informasi, Tambang Batubara Ombilin merupakan satu-satunya tambang batubara bawah tanah di Indonesia.

Kota Lama Tambang Sawahlunto
Pengunjung memasuki Lubang Tambang Mbah Soero di Kawasan Kota Lama Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto. (Foto: Antara.news)

Sejak tahun 2012, pemerintah Indonesia sudah merintis upaya untuk memasukkan situs bersejarah ini sebagai warisan budaya dunia. Pada 2015, Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto terdaftar dalam World Heritage UNESCO Tentative Lists.

Akhirnya setelah penantian selama tujuh tahun, bersama 35 situs lainnya di dunia, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) ditetapkan menjadi Warisan Dunia UNESCO. Penetapan tersebut diumumkan langsung pada gelaran sesi ke-43 Pertemuan Komite Warisan Dunia pada, Sabtu, 6 Juli 2019 di Kota Baku, Azerbaijan.

Keputusan yang membanggakan bangsa Indonesia tersebut disampaikan oleh pemimpin sidang sekaligus Menteri Kebudayaan Azerbaijan, Abulfas Garayev. Dengan penetapan ini, Tambang Batubara Ombilin resmi menjadi warisan budaya dunia ke-5 milik Indonesia.

Tambang Batubara Ombilin ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO karena dinilai unggul dalam dua kategori Nilai Universal Luar Biasa (Outstandting Universal Value).

Pertama adalah kriteria II, tentang adanya pertukaran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan sepanjang masa atau dalam lingkup kawasan budaya, dalam perkembangan arsitektur dan teknologi, seni monumental, perencanaan kota dan desain lanskap.

Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi Eropa terkait dengan eksploitasi batubara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara.

Sedangkan kriteria IV tentang contoh luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur, dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

Dalam hal ini, keunikan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan contoh rangkaian kombinasi teknologi dalam suatu lanskap kota pertambangan yang dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batubara, pengolahan, dan transportasi.

Dari dua kriteria tersebut Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto mampu membawa nama Indonesia bersaing di tingkat internasional.

Selain itu, yang membuat Tambang Batubara Ombilin ditetapkan sebagai warisan dunia adalah konsep tiga serangkai yang diterapkan langsung oleh Pemerintah Belanda saat itu.

Tiga serangkai itu, meliputi industri pertambangan batu bara di Sawahlunto, sistem transportasi kereta api yang membawa keluar batubara, dan sistem penyimpanan di Silo Gunung di Pelabuhan Emmahaven yang sekarang dikenal dengan Teluk Bayur.

Tambang Batubara Ombilin

Baca juga: Jam Gadang, Ikon Wisata Sumatra Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.