Jam Gadang, Ikon Wisata Sumatra Barat

232
jam gadang
Jam Gadang (Foto: itiakladomudo.com)

1001indonesia.net – Jam Gadang merupakan salah satu ikon pariwisata terpenting di Sumatra Barat. Menara jam yang terletak di pusat Kota Bukittinggi ini memiliki sejarah yang panjang.

Jam Gadang dibangun pada 1926, hasil rancangan Yazid dan Sutan Gigi Ameh. Mereka diminta Rook Maker, Contoleur Fort de Kock (Sekretaris Kota Bukittinggi) saat itu, untuk membangun dan meletakkan 4 jam besar berdiamater 80 sentimeter. Dalam bahasa Minang, gadang berarti besar.

Konon, 4 jam besar itu dihadiahkan Ratu Belanda pada Rook Maker pada masa pendudukan Belanda. Didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda, jam-jam itu dibawa melalui pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Mesin yang digunakan pada Jam Gadang sangat langka. Diyakini hanya ada dua di dunia. Kembarannya terpasang di Big Ben, London, Inggris. Oleh pembuatnya, mesin yang bekerja secara manual tersebut diberi nama Brixlion. Yang menarik, pembuatnya bukan dari Inggris, melainkan seorang bangsawan asal Amerika bernama Forman.

Bangunan Jam Gadang setinggi 26 meter dengan denah dasar seluas 13 x 4 meter. Menara jam ini dibangun tanpa besi penyangga dan adukan semen. Campuran material bangunannya terdiri atas kapur, putih telur, dan pasir putih.

Peletakan batu pertama Jam Gadang dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra pertama Rook Maker. Anggaran pembangunannya mencapai 3.000 gulden.

Keempat jam dipasang di pucuk bangunan menara, di keempat sisinya. Jadi, waktu bisa dilihat dari keempat penjuru mata angin.

Di awal berdirinya, bagian atap jam ini berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur. Pada masa pendudukan Jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda. Setelah Indonesia merdeka, atap menaranya diganti menjadi bergonjong empat mirip dengan atap rumah adat Minangkabau.

Satu hal yang unik adalah penulisan angka Romawi pada Jam Gadang yang tidak biasa. Angka empat seharusnya ditulis dengan simbol IV, tapi pada jam tersebut ditulis dengan simbol angka satu berjajar empat (IIII).

Keanehan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Banyak orang menjadi penasaran untuk melihat langsung menara jam yang menjadi landmark Kota Bukittinggi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × four =