Syaikh Yusuf al-Makassari, Tokoh Indonesia yang Diakui Dunia

Nelson Mandela Menyebutnya Sebagai Putra Terbaik dari Afrika Selatan

740

1001indonesia.net – Salah satu putra terbaik Indonesia yang pernah ada dan diakui dunia yang hidup di abad 17 adalah Syaikh Yusuf al-Makassari. Jejaknya melampaui batas-batas negara dan benua: Sulawesi Selatan, Jawa Barat, hingga Arabia, Sri Lanka, dan Afrika Selatan.

Syaikh Yusuf al-Makassari tak hanya dikenal sebagai dai, ulama, dan ahli tarekat, tapi juga pejuang anti-kolonial. Bersama kesultanan Banten, Syaikh Yusuf menentang penjajahan Belanda meski harus diasingkan ke Ceylon, Sri Lanka, dan dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan.

Ketokohannya, kata Taufiq Ismail, sudah lebih dari seorang Pahlawan Nasional. November 1995, Presiden Soeharto kala itu, menjadikannya Pahlawan Nasional dan Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pada 1994 telah lebih dulu menganugerahi Syaikh Yusuf sebagai Pejuang Kemanusiaan. Mandela menyebutnya putra terbaik Afrika Selatan. Dan oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan, ia digelari “Tuanta Salamaka ri Gowa” atau Guru Kami yang Agung dari Gowa.

Syaikh Yusuf al-Makassari dilahirkan di Tallo, pada 3 Juli 1626 M, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 H. Menurut silsilah yang disimpan oleh anak cucunya di Makassar (Takalar dan Sudiang), ayah Syaikh Yusuf bernama Abdullah Khaidir.

Dalam risalahnya, Hasyiyah fi Kitaab al-Anbaai fi I’raab Laa Ilaaha Illallah, juga disebutkan ayahnya bernama Abdullah. Ibunya bernama Siti Aminah, memiliki hubungan darah dengan raja-raja Gowa. Ia meninggal di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699 pada umur 72 tahun.

Ketika Syaikh Yusuf berusia 18 tahun, ia berangkat menuju Mekah melalui pelabuhan Somba Opu menumpang kapal Melayu. Oleh karena jalan pelayaran niaga pada waktu itu mesti melalui laut Jawa dan transit di Banten (Jawa Barat), maka ia pun ikut singgah di pusat bandara kesultanan Banten. Setelah kurang lebih 23 tahun mengembara Yaman, Arab Saudi, Syria, dan Turki, ia kembali ke tanah air pada tahun 1668.

Di Tanah Air, Syaikh Yusuf dianggap menjadi duri dalam daging oleh Belanda. Di Banten, Syaikh Yusuf menjadi ulama besar. Sultan Ageng Tirtayasa mengangkatnya menjadi qadli (hakim) dan guru tarekat.

Karena kondisi Banten saat itu sedang mengalami peperangan dengan Belanda, Syaikh Yusuf diangkat oleh Sultan sebagai panglima perang. Sejak saat itulah pasukan Banten yang dipimpin Syaikh Yusuf berulang kali memukul mundur pasukan Belanda. Karena dituduh menjadi penyebab terjadi pemberontakannya di Jawa, pada 1694, Syaikh Yusuf dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan.

Sebagai ulama pengembara dari satu daerah ke daerah lain, dan dari satu negara ke negara lain, membuat Syaikh Yusuf bukan lagi milik orang Bugis di Sulawesi Selatan. Tapi sudah milik masyarakat Banten, Muslim Sri Lanka dan Afrika Selatan. Karena jasanya yang begitu besar untuk Islam, Azyumardi Azra menyebut Syaikh Yusuf sebagai “pembangkit” atau “penghidup” Islam di Afrika Selatan. Ialah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Ceylon dan Afrika Selatan.

Ia juga, oleh Taufik Ismail, disebut inspirator bagi pejuang anti-apartheid di abad ke-20. Dalam hal ini Nelson Mandela tak segan-segan menyebut Syaikh Yusuf “putra Afrika, pejuang teladan kami”. Mandela yang terlahir dengan nama Rolihlahla Mandela mampu menggulingkan pemerintahan rasis yang diberlakukan kaum kulit putih di awal abad ke-20 sampai dengan awal 1990-an.

Bagi warga Cape Town, Syaihk Yusuf tidak hanya diakui sebagai ulama dan pendakwah, namun juga pejuang bagi rakyat Afrika. Daerah tempat tinggal Syaikh Yusuf di Cape Town diberi nama sebagai kawasan Macassar untuk menghormati tempat asalnya.

Kampung Macassar ini terletak di Distrik Stellenbosch, kawasan perkebunan anggur, 40 kilometer dari jantung kota Cape Town. Hingga kini, keturunan Syaikh Yusuf yang terdapat di kampung Macassar, Afrika Selatan, masih ada.

LEAVE A REPLY

ten + twenty =