Taufiq Ismail, Penyair Angkatan ‘66

789
Taufiq Ismail, Penyair Angkatan ‘66
Taufiq Ismail (Foto: kabarkampus.com)

1001indonesia.net – Taufiq Ismail dikenal sebagai penyair angkatan ’66. Puisi-puisinya sarat dengan kritik sosial. Penyair kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 ini bahkan menjadi salah seorang yang menandatangani Manifes Kebudayaan.

Kecintaannya terhadap puisi tumbuh saat dirinya duduk di bangku SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Waktu itu, ia sudah mulai menulis puisi, dan dimuat di majalah Kisah dan Mimbar Indonesia.

Kegemarannya menulis puisi makin menjadi-jadi saat ia menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia di Pekalongan. Di perpustakaan itu, ia banyak membaca karya sastra, seperti karya-karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, William Saroyan, dan Karl May. Tentu tidak hanya karya sastra, juga buku-buku agama, politik, dan sejarah dibacanya.

Taufiq Ismail kemudian memperoleh beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship pada 1956–1957. Dia termasuk angkatan pertama dari Indonesia yang mengikuti program ini di Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS.

Di sana, ia meneruskan kegemarannya membaca karya sastra, di antaranya karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, dan Walt Whitman. Termasuk pula novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway yang sangat disukainya.

Sedari kecil memang Taufiq Ismail sudah gemar membaca. Dia sendiri hidup pada lingkungan keluarga yang suka membaca. Ayahnya, A. Gaffar Ismail, adalah seorang Kyai pejuang yang mendirikan PERMI. Ibunya, Sitti Nur Muhammad Nur, sangat fasih dalam menafsir al-Qur’an. Mereka berdua suka membaca dan memiliki perpustakaan di rumahnya.

Di perpustakaan keluarganya itulah, dirinya mulai terbiasa membaca berbagai buku. Kegemaran membaca inilah yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi seorang penyair dan pengarang.

Lulus SMA, ia kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan Universitas Indonesia di Bogor dan lulus tahun 1963. Semasa kuliah dia aktif dalam berbagai kegiatan. Pernah pula menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961), serta Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).

Pad 1962, ia menjadi guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea. Setahun kemudian juga mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis Bogor hingga tahun 1965. Taufiq juga tercatat sebagai asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (1961–1964).

Pada tahun 1964 itulah, dia dipecat dari pegawai negeri dan batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Pasalnya, dirinya turut menandatangani Manifes Kebudayaan yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno.

Dua tahun kemudian, bersama Mochtar Lubis, P.K. Ojong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian melahirkan majalah sastra Horison. Taufiq Ismail juga termasuk salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ).

Sejak 1966, ia menjadi kolumnis harian KAMI hingga tahun 1970. Pada 1971–1972 dan 1991–1992, ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.

Tercatat, dia pernah belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir. Lantaran pecah Perang Teluk, dirinya pulang kembali ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

Pada 1993, dia diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.

Taufik Ismail juga menjalin kerja sama dengan para musisi. Sejak 1974, atas kerja samanya dengan para musisi—terutama dengan Himpunan Musik Bimbo, Chrisye, Ian Antono dan Ucok Harahap—Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Ia juga pernah mewakili Indonesia pada acara baca puisi dan festival sastra di berbagai kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan bahkan Afrika. Puisi-puisinya pun telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.

Beberapa kumpulan puisi yang diterbitkannya di antaranya: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999); Ketika Kata menjadi Warna (1995); Tirani dan Benteng (1993); Kenalkan, Saya Hewan (1976); Sajak Ladang Jagung (1973); Buku Tamu Musim Perjuangan (1972); dan lain-lain.

Selain sebagai sastrawan, Taufik Ismail juga aktif menerjemahkan buku. Karya terjemahan yang telah dihasilkannya antara lain Banjour Tristesse karya Francoise Sagan (1960), Cerita tentang Atom karya Mau Freeman (1962), serta Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karya M. Iqbal yang di terjemahkan bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad (1964).

Atas karyanya, penyair yang memiliki gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah ini memperoleh penghargaan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, meliputi Augerah Seni dari Pemerintah RI (1970), Culture Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), Pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994), Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor, Malaysia (1999), dan Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003).

LEAVE A REPLY

fourteen − nine =