Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani

1396

1001indonesia.net – Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Nawawi al-Jawi al-Bantani. Beliau merupakan ulama kebanggaan Indonesia, khususnya masyarakat Banten. Kedalaman pemahamannya dalam ilmu tafsir sebagaimana tercermin dalam Marah al-Labid li Kasyfi Ma’na Qur’an al-Majid alias Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil, menjadikan beliau dijuluki “Sayyid Ulama al-Hijaz”.

Julukan tersebut meneguhkan eksistensi Syaikh Nawawi sebagai ulama kaliber dunia. Tafsir al-Munir-nya hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam studi tafsir di Universitas al-Azhar, Kairo. Selain mahir dalam ilmu tafsir, beliau juga mempuni dalam ilmu fikih, hadis, tasawuf, akhlak, dan tauhid. Tak heran bila Louis Ma’luf mengabadikan namanya dalam kamus al-Munjid fi al-Lughah wal ‘Ulum.

Disebut al-Bantani karena Syaikh Nawawi berasal dari Banten. Sedangkan sebutan al-Jawi mengindikasikan muasalnya yang Jawah, sebutan untuk para pendatang Nusantara bahkan Asia Tenggara di Mekah karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Snouck Hurgronje menyebut mereka sebagai koloni Jawa. Keberadaan mereka di wilayah Hijaz sangat diperhitungkan seiring dengan munculnya nama-nama beken seperti, Syaikh Mahfudz at-Tirmisi, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan tentunya Syaikh Nawawi al-Bantani—ketiganya pernah mengajar di Masjidil Haram.

Di Mekah, sebelum beliau menjadi seorang alim. Ia telah belajar kepada sejumlah ulama terkenal di Haramain, di antaranya pada SyaikhAhmad Al-Nahrawi, Syaikh Sayyid Ahmad Al-Dimyati, Syaikh Sayyid Ahmad Dahlan, dan Syaikh Muhammad Khatib Al-Hambali.

Selain menjadi murid, Syaikh Nawawi juga menjadi guru banyak murid dari berbagai daerah di Indonesia, Asia dan Timur Tengah. Tidak kurang dari 200 orang menyimak setiap pengajaran Syaik Nawawi di Masjidil Haram.

Tidak sedikit orang Indonesia-Melayu yang belajar padanya, dan kebanyakan dari mereka kemudian menjadi kiai-kiai di banyak pesantren di Jawa. Sebut saja misalnya, KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Mahfudz Termas, KH. Asnawi Caringin, hingga tokoh penentu dalam peristiwa Geger Cilegon 1888, Haji Wasith dan KH. Tubagus Ismail.

Saat peristiwa pemberontakan petani Banten itu terjadi, Syaikh Nawawi memang tidak berada di Banten. Di Mekah, ia tetap menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh dan masyarakat Banten melalui orang-orang yang pergi haji. Di antaranya Haji Wasith dan KH. Tubagus Ismail.

Kepada jama’ah haji Indonesia, beliau kerap mengobarkan semangat api nasionalisme dan perlawanan terhadap penjajah. Tidak mengherankan jika kampanye anti-penjajahan yang diletupkan Syaikh Nawawi di Mekah itu, mampu membakar semangat murid-muridnya untuk melakukan pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Belanda.

Kondisi tersebut membuat Belanda panik. Mereka kemudian mengutus Snouck Hurgronje guna memata-matai gerak-gerik dan aktivitas Syaikh Nawawi dan jama’ah haji Indonesia di Mekah. Menurutnya, saat itu Banten paling banyak mengirim orang berhaji ke Mekah dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Alhasil, aktivitas haji dari koloni Jawa, dan Banten pada khususnya, dianggap menjadi ancaman serius bagi pemerintah Belanda. Sartono Kartodirdjo berpandangan, selama ada orang-orang yang naik haji, maka selama itu pula berlangsung terus hubungan-hubungan regional-politik yang esensial antara Mekah dan masyarakat-masyarakat Islam yang paling jauh sekalipun. Oleh karena itu dapat dipahami, mengapa pemerintah kolonial mengawasi dengan seksama perjalanan naik haji itu.

Di tengah kesibukannya mengajar di Masjidil Haram, Syaikh Nawawi meluangkan waktu untuk menulis. Martin van Bruinessen menyebut Syaikh Nawawi sebagai ulama produktif. Karya-karyanya banyak dibaca kalangan santri Indonesia dan dunia. Yousuf Alian Sarkis dalam Dictionary of Arabic Printed Books menyebutkan ada 38 buah karya Syaikh Nawawi yang telah diterbitkan oleh penerbit Mesir dan Arab. Sementara itu Yayasan An-Nawawi, Tanara, Banten—yayasan yang didirikan pada 1980 oleh keturuna Syaikh Nawawi—memiliki koleksi 41 judul karya Syaikh Nawawi yang sudah dicetak.

Syaikh Nawawi, kata C. Brockelmann, telah menulis paling tidak tentang 9 bidang disiplin pengetahuan, yakni tafsir, fikih, ushuluddin, ilmu tauhid, tasawuf, kehidupan nabi, tata bahasa Arab, hadist, dan akhlak . Salah satu karya Syaikh Nawawi yang sangat dikagumi ulama Mekah dan Mesir hingga kini adalah Tafsir al-Munir. Kitab yang terdiri dari 2 jilid ini pertama kali dipublikasikan di Kairo, Mesir, pada 1887 M. Karel A. Steenbrink sampai menyimpulkan, Tafsir al-Munir dalam banyak hal kecil lebih lengkap ketimbang Tafsir Anwar a-Tanzil karya Ahmad Baidhawi.

Di antara kitab-kitab Syaik Nawawi yang menjadi bacaan wajib para santri dan kiai hingga kini adalah Tafsir al-Munir, Sullam at-Taufiq, Maraqi al-‘Ubudiyyah, Nashaih al-‘Ibad, Qami’ ath-Thuggyan, Kasyifat as-Saja’, Nihayah az-Zain, ‘Uqudu al-Lujain, dan Fathu al-Majid. Banyak madrasah di Patani, Yala, Satun, dan Narathiwat di Muangthai Selatan memakai kitab karangan Syaikh Nawawi sebagai buku pegangan. Karya-karya Syaikh Nawawi juga dikaji di madrasah-madrasah di Mindanao, Filipina Selatan. Selain itu, karya-karya Syaikh Nawawi juga menyebar ke Malaysia dan dijadikan bahan bacaan standar di pesantren-pesantren. Karya-karya Syaikh Nawawi juga menyebar di kawasan Timur Tengah seperti Arab, Mesir, Afrika Utara, Yaman, Syiria, Beirut. Bahkan menurut Hamka menyebar hingga Turki dan Hidustan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × five =