Sirih Pinang, Sejarah dan Maknanya dalam Budaya Nusantara

210
Sirih Pinang
Kebiasaan menyirih telah dilakukan masyarakat Nusantara sejak 3.000 tahun lalu. (Foto: ANTARAKALTENG)

1001indonesia.net – Sirih pinang lekat dengan budaya Nusantara sejak dulu. Kebiasaan menyirih sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat Asia Tenggara, termasuk kepulauan Nusantara. Pada beberapa dekade lalu, diperkirakan sekitar 600 juta orang di dunia mengunyah sirih pinang, meski jumlah itu semakin menurun seiring perkembangan zaman.

Selain sebagai “makanan”, sirih pinang juga digunakan dalam upacara adat dan keagamaan. Sirih pinang hadir dalam hampir semua ritual masyarakat Nusantara; dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Konon, tanaman sirih (Piper betle Linn.) merupakan tanaman merambat asli Indonesia, termasuk dalam jenis Piperaceae. Tanaman ini tumbuh subur di sepanjang Asia tropis hingga Afrika Timur, dan menyebar hampir di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, India, hingga Madagaskar. Di Indonesia, sirih menjadi identitas flora Provinsi Kepulauan Riau.

Daun Sirih
Daun Sirih (Foto: deherba.com)

Manginang

Menginang atau menyirih adalah istilah yang dipakai untuk menyebut kebiasaan
mengunyah paduan daun sirih, pinang, dan kapur. Asal usul dari tradisi menyirih tidak diketahui dengan pasti, namun beberapa penelitian mengindikasikan bahwa kebiasaan mengunyah sirih pinang telah ada sejak 3.000 tahun lalu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Meskipun kebiasaan mengunyah sirih tersebar luas di India Selatan dan China Selatan pada abad ke-15, namun tampaknya kebiasaan ini berasal dari Asia Tenggara (Reid, 2014). Ini dikuatkan oleh dugaan bahwa sirih dan pinang merupakan tanaman asli kepulauan Nusantara.

Adapun bukti arkeologi tertua keberadaan sirih ditemukan pada Gua Roh di bagian utara-barat Thailand. Temuan tersebut diperkirakan merupakan sisa-sisa tanaman sirih dari tahun 10.000 SM.

Bisa dibilang, di masa silam, kebiasaan mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bisa dianggap sebagai penghinaan. Ini berkaitan erat dengan makna sirih sebagai simbol persahabatan dan rasa hormat.

Menariknya, di sepanjang daerah di Indonesia bahan untuk menyirih hampir serupa. Secara umum ada tiga unsur utama dari bahan nyirih, yaitu buah pinang, daun atau bunga sirih, dan kapur sirih. Terkadang kapur sirih didapatkan dari melumat cangkang kerang. Di beberapa daerah, paduan sirih, pinang, dan kapur dilengkapi dengan gambir dan tembakau.

Seorang pedagang menjajakan sirih pinang di Pasar Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagakeo. (Foto: POS-KUPANG.COM/ GORDI DONOFAN)

Salah satu fungsi dari kebiasaan menyirih adalah untuk merawat gigi. Diketahui, daun sirih mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai zat antibakteri. Masyarakat Indonesia percaya menyirih dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka-luka kecil di mulut, menghilangkan bau mulut, dan menghentikan pendarahan gusi.

Daun sirih juga digunakan sebagai antimikroba terhadap Streptococcus mutans, yaitu bakteri yang paling sering mengakibatkan kerusakan pada gigi. Sebab itu, menyirih juga bermanfaat sebagai obat kumur.

Baca juga: Sorongi’is, Ritual Potong Gigi Wanita di Flores

Nyirih dari masa ke masa

Panjangnya usia tradisi nyirih masyarakat Nusantara setidaknya tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8 M) dan Candi Sojiwan (abad ke-9 M). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya yang ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih.

Banyak referensi dari Tiongkok yang menulis penggunaan dan ekspor pinang dari daerah yang diduga adalah Indonesia saat ini pada masa Dinasti Tang (7-10 M).

Sirih Pinang
Meski sudah banyak yang meninggalkan tradisi menyisih, di berbagai daerah di Indonesia masih dapat dijumpai kebiasaan ini. (Foto: goodnewsfromindonesia.id)

Di Tiongkok sendiri, istilah pinang pada masa Dinasti Tang ialah “pin-lang“, yang diduga kuat diambil dari bahasa Melayu, “pinang“. Ini setidaknya menunjukkan area yang pernah didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo bagian barat) adalah sumber komoditas ini.

Hingga abad ke-16-17, menurut Anthony Reid (2014), telah banyak ditemukan catatan perihal tradisi nyirih yang dilakukan di hampir semua tempat di Asia tropis. Bahkan karena sirih dianggap sebagai salah satu item pengeluaran yang dianggap penting, kantung uang yang diterima oleh budak milik Belanda pada abad ke-18 disebut sebagai siriegeld (“uang sirih”).

Kuatnya tradisi nyirih ini membuat bangsa Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dulu tak luput juga mengadopsi kebiasaan ini. Persepi bahwa nyirih baik untuk kesehatan gigi tampaknya juga diyakini oleh bangsa Eropa saat itu.

Orang-orang Belanda di Batavia mulai meninggalkan kebiasaan nyirih pada pertengahan abad ke-18, sekalipun kaum perempuannya masih melakukan itu hingga abad ke-19. Kebiasaan ini menghilang setelah muncul tren baru dalam kebiasaan nyirih, yaitu menjejalkan tembakau ke mulut setelah keluar air liur pertama. Kebiasaan nyirih tampak mulai menjijikkan bagi orang Eropa.

Manjelang berakhirnya abad ke-19, perbedaan kultural bangsa Eropa dengan bangsa Indonesia menjadi semakin tajam. Kini bagi orang Eropa, kebiasaan nyirih dan meludahkan bekas tembakau penyumpal mulut dipandang sebagai tanda inferioritas bangsa Indonesia.

Memasuki abad ke-20, sejalan dengan penyebaran pendidikan barat tampaknya berkaitan erat dengan mulai ditinggalkannya kebiasaan nyirih. Seluruh citra modernitas yang dikontruksi oleh pendidikan Belanda bertentangan dengan aktivitas nyirih.

Di Bugis dan Makassar, misalnya, pada 1900 hampir semua orang nyirih, tapi pada 1950 hampir tak ada satu pun orang melakukannya. Ketika orang Bugis dan Makassar membeli sirih, itu dilakukan untuk persyaratan ritual perkawinan dan bukan dikonsumsi.

Di Jawa, Bali, dan Sumatra, sebagai dampak dari kolonialisme dan modernisasi, surutnya kebiasaan menyirih berlangsung secara gradual. Sejak 1903, hanya sedikit bupati Jawa yang nyirih, meskipun piranti peralatan menyirih masih dibawa-bawa dalam acara formal dan ritual adat.

Rokok ditengarai berperan pada surutnya kebiasaan menyirih di masyarakat. Sejak abad ke-19-20, konsumsi rokok dicitrakan sebagai bagian dari modernitas. Sedangkan nyirih semakin terlihat sebagai perilaku yang jorok dan tidak higienis. Sehingga kemudian banyak orang yang beralih dari kebiasaan menyirih menjadi perokok.

Simbol persaudaraan dan rasa hormat

Sirih pinang hadir dalam hampir semua ritual masyarakat Nusantara sebagai simbol persatuan dan kekerabatan. Di masa silam, nyirih menjadi medium tata krama untuk tamu di istana atau desa. Mirip fungsi teh, kopi, atau rokok dewasa ini.

Dulu, orang Asia Tenggara hampir tidak bisa lepas dari sirih-pinang. “Mereka makan dengan tidak hentinya sehinga tidak bisa melepaskannya dari mulut. Maka orang-orang ini bisa dikatakan selalu memamah-biak” (Reid, 2014). Dalam pergaulan, pria dan wanita akan menyuguhkan sirih-pinang dan menyirih bersama-sama.

Pada masyarakat Melayu misalnya, saat pertemuan terjadi, di situ sirih disorongkan. Kuatnya peran sirih dalam pergaulan tampak pada penggunaan istilah “sekapur sirih” untuk menyebut pembuka kata. Undangan atau jemputan memakai sirih pinang. Lantas sirih pinang menjadi unsur yang paling utama saat menyampaikan pinangan dengan cerana atau tepak.

Peran Kearifan Lokal dalam Penanganan Konflik di Indonesia
Tradisi Okomama di Kabupaten Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi simbol yang menandai adanya ikatan tali persaudaraan dan persahabatan. Tradisi ini dilangsungkan untuk meredam perselisihan yang berlangsung antar warga.

Sirih dan pinang merupakan sajian yang pertama dan utama ketika berkunjung ke rumah orang Sumba. Ketika ada tamu yang berkunjung, tuan rumah akan menggelar tikar, mempersilakan duduk, menyuguhkan sirih-pinang, menyajikan kopi Sumba, dan jika waktunya cukup senggang akan mengajak makan bersama.

Di rumah orang Sumba, ketersediaan sirih-pinang di rumah menjadi seperti kewajiban, baik itu untuk konsumsi sendiri maupun untuk tamu yang datang. Jika kebetulan tuan rumah tidak memilikinya ketika ada tamu, maka ia akan meminta ke tetangganya.

Saling meminta dan memberi sirih-pinang menjadi hal yang biasa dalam masyarakat Sumba. Begitu pentingnya keberadaan sirih-pinang, tuan rumah yang tidak mampu menyediakan sirih-pinang meski sudah berusaha meminta ke para tetangga akan meminta maaf pada tamunya.

Bagi Masyarakat Nusa Tenggara Timur, sirih-pinang juga menjadi sarana bagi penyelesaian konflik. Kehadiran sirih pinang mencairkan dan menghangatkan suasana. Hal ini sering dimanfaatkan oleh pihak penengah untuk mendamaikan pihak-pihak yang sedang bertikai. Selain itu, makan sirih pinang bersama dapat
menjadi penanda, apakah konflik yang ada sudah mereda atau belum.

Baca juga: Peran Kearifan Lokal dalam Penanganan Konflik di Indonesia

Upacara adat

Oleh karena sajian sirih merupakan hakikat sopan satun dan keramah-tamahan, arwah para leluhur juga harus diberi sesaji sirih pinang. Itu sebabnya, sesajian sirih hadir pada setiap upacara ritus yang penting. Di beberapa upacara adat penting di berbagai daerah, sirih pinang bahkan menjadi ubo rampe wajib yang harus ada.

Menyajikan sirih pinang dan menyirih bersama-sama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam upacara kelahiran, pertunangan dan pernikahan, penyembuhan, hingga kematian (Reid, 2014).

Sirih menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pernikahan adat Aceh. Daun sirih dirangkai dengan indah melambangkan keramah-tamahan dan keharmonisan. (Foto: Irwansyah Putra/Medanbisnisdaily)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.