Sorongi’is, Ritual Potong Gigi Wanita di Flores

307
Sorongi’is
Sumber: sergapntt.mlblogs.com

1001indonesia.net – Daerah-daerah di Indonesia memiliki beragam cara khas dalam mengantarkan remaja menuju dewasa. Di Flores, terdapat ritual potong gigi yang disebut Sorongi’is. Ritual pendewasaan bagi kaum perempuan ini merupakan bagian dari rangkaian upacara adat menuju pernikahan.

Sorongi’is merupakan ritual meratakan gigi dengan batu asahan. Biasanya ritual ini dilakukan pada usia praremaja atau remaja, tergantung pada kemampuan orangtua anak. Ritual ini dilakukan oleh suku Dhawe di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Sebelum menuju ritual ini, pihak keluarga harus menjalani beberapa rangkaian acara adat. Malam sebelum pelaksanaan ritual, pihak keluarga bersama para undangan melaksanakan tandak. Bersama-sama mereka menari, bernyanyi, dan berpantun mengelilingi api unggun sambil berpegang tangan.

Syair-syair yang dinyanyikan mengisahkan tentang arwah nenek moyang dan sejumlah ajaran-ajaran adat dalam kehidupan. Sesekali, tarian dan nyanyian itu diselingi dengan pantun yang diucapkan secara berbalasan dari kaum perempuan dan laki-laki.

Terkadang pantun bernada humor sehingga mengundang tawa dari para hadirin. Untuk menambah hangatnya suasana, seorang petugas akan terus menghidangkan sirih pinang dan moke (minuman khas Flores) kepada para peserta tandak. Dalam bahasa setempat, acara tandak ini disebut wai sekutu.

Remaja putri yang akan dipotong giginya juga disertakan dalam tandak. Dalam balutan busana adat, dia menutup mulutnya dengan selempang. Selama mengikuti proses ini, dia tidak boleh berkomunikasi secara langsung dengan siapa saja.

Dalam acara ini, remaja putri itu diberikan kesempatan maksimal lima kali berputar mengelilingi api unggun bersama peserta tandak yang lain. Dia kemudian dibawa kembali ke dalam kamar untuk beristirahat. Acara tandak berlangsung semalam suntuk. Acara berakhir seiring terbitnya matahari.

Sebelum ritual Sorongi’is dimulai, sesajian kepada leluhur harus dihaturkan. Umumnya sesajian terdiri atas nasi, daging, sirih pinang, dan moke. Sesajian ini merupakan ungkapan rasa syukur pada leluhur sekaligus untuk memohon berkah keselamatan dan kelancaran penyelenggaraan acara.

Ketika tiba saatnya, remaja putri yang akan mengikuti ritual dituntun keluar rumah menuju rumah kerabat tempat ritual berlangsung. Ritual potong gigi ini memang tidak dilaksanakan di rumahnya sendiri, melainkan di rumah tetangga yang masih memiliki pertalian darah.

Sebelum berangkat, remaja itu diberkati dulu. Salah satu tetua adat akan memberkatimya dengan sapaan adat dan percikan beras sebanyak lima kali ke arah badannya. Ritual pemberkatan ini disebut resa kuras.

Setelah itu, remaja putri tadi diayun oleh ayahnya sebanyak lima kali di atas seekor babi yang diletakkan di depan rumah. Pada hitungan yang kelima, remaja tersebut diayun melewati babi. Dia kemudian berjalan menuju rumah kerabat tempat dilaksanakannya ritual potong gigi.

Sorongi'is
Sumber: Istimewa

Di rumah itu sudah menanti petugas potong gigi yang telah siap dengan sebuah batu asah kecil. Petugas ini pun harus berasal dari anggota keluarga.

Remaja perempuan yang akan akan melaksanakan ritual potong gigi disuruh berbaring. Petugas potong gigi kemudian menggosok berulang kali gigi remaja tersebut sampai rata.

Tentu bukan hal yang nyaman baginya saat giginya digosok dengan batu asahan. Ia harus menahan rasa ngilu pada giginya selama proses berlangsung.

Setelah dirasa permukaan gigi telah rata, gigi yang telah digosok kemudian diobati. Obat yang digunakan berupa buah pinang yang masih mentah. Untuk menghilangkan rasa ngilu pada gigi, si gadis diminta mengunyah buah pinang.

Ritual Sorongi’is  merupakan puncak dari semua rangkaian pendewasaan perempuan Flores di Nagekeo. Perempuan yang telah menjalani ritual ini dianggap telah dewasa secara hukum adat. Nanti saat ia memasuki usia siap pinang, hukum adat sudah merestui jika ada lelaki yang datang meminang.

Seluruh rangkaian acara ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keluarga harus menyiapkan segala kebutuhan acara, seperti sapi, kerbau, babi, ataupun kambing sebagai hewan kurban. Biasanya jauh-jauh hari pihak keluarga sudah menyiapkan segala yang diperlukan dalam pelaksanaan ritual ini.

Baca juga: Tradisi Kerik Gigi Suku Mentawai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 19 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.