Silat Beksi, Seni Bela Diri dari Betawi

116
Silat Beksi
Silat beksi banyak berkembang di wilayah Jakarta Selatan dan Tangerang. (Foto: Dhodi Syailendra/Tangerangraya.id)

1001indonesia.net – Silat Beksi merupakan salah satu aliran bela diri tradisional khas Betawi. Aliran pencak silat ini berasal dari Dadap, Tangerang. Seiring waktu, beksi tak sekadar sarana bela diri dan olahraga, tetapi menjadi bagian dari berbagai seni budaya Betawi lainnya, seperti sastra, musik, dan seni pertunjukan.

Orang Betawi kerap menggunakan istilah main pukulan untuk bela diri. Kata main menunjukkan bahwa bela diri ini merupakan permainan (salah satu genre dalam tradisi lisan), sedangkan kata pukulan dipakai karena bela diri ini ternyata lebih mengutamakan pukulan ketimbang tendangan.

Di Betawi pun ada juga yang lebih akrab menggunakan kata jurus atau maen jurus untuk bela dirinya.

Betawi sendiri memang memiliki beragam aliran main pukulan, sebut saja Cingkrik, Sabeni, Pengasinan, dan masih banyak lagi. Setiap perguruan dan aliran memiliki ciri khas masing-masing.

Pada beksi, jurusnya sangat mudah diciri dari gerakan pukulannya yang banyak menggunakan pukulan jarak dekat. Beksi memiliki pukulan keras, cepat, dan posisi tangan yang terbalik, dalam bahasa Betawi disebut sebagai pukulan celentang.

Sejarah silat beksi

Konon beksi merupakan bela diri yang diajarkan pertama kali oleh seorang pria keturunan Tionghoa bernama Lie Cheng Oek. Alkisah, Lie Cheng Oek yang tinggal di daerah Dadap memiliki sawah yang bertetangga dengan Saiman. Pada satu hari, mereka cekcok mengenai irigasi sawah. Saiman menyalahkan Lie Cheng Oek karena sawahnya tidak mendapatkan air. Pertarungan pun terjadi.

Diperkirakan peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan atau akhir abad ke-17. Pada masa itu, terdapat peraturan tidak tertulis, bagi orang yang kalah berkelahi, ia harus belajar pada orang mengalahkannya.

Ternyata Saiman kalah. Karena merasa sudah tua, Saiman mengirimkan putranya yang bernama Marhali sebagai pengganti untuk belajar maen pukulan pada Lie Cheng Oek. Ketika Marhali berguru kepada Lie Cheng Oek, ia tidak pernah diajarkan jurus, tetapi hanya disuruh membantu mengairi sawah dan melakukan beberapa pekerjaan lainnya.

Saiman protes. Ternyata menurut Lie Cheng Oek pekerjaan yang diberikan kepada Marhali tersebut ialah cara melatih kekuatan fisik, sebagaimana pukulan beksi yang mengutamakan kekuatan fisik dan kecepatan.

Di kemudian hari, Ghozali beserta dengan keponakannya, H. Hasbullah, belajar ilmu bela diri yang dipelajari Marhali dari Lie Cheng Oek ini.

Sebagai hasilnya, Hasbullah dan dua murid lainnya (Nur dan Simin) membentuk tiga perguruan Beksi yang ada sekarang ini, yaitu Silat Beksi H. Hasbullah, Silat Beksi Engkong Nur, dan Silat Beksi Engkong Simin.

Perguruan silat beksi banyak terdapat di daerah Jakarta Selatan, seperti Ulujami, Kampung Sawah, Petukangan, dan Kebayoran Lama, serta di daerah Tangerang, seperti Kreo, Pisangan, Ciledug, Ciputat, Bintaro, Pamulang, dan Kampung Utan

Bukan buat gaya-gayaan

Bagi pesilat beksi (pebeksi) sejati, keterampilan main pukulan bukanlah untuk gaya-gayaan. Gres Grasia Azmin mengungkapkan, beksi dan agama ibarat golok dan sarungnya. Golok haruslah selalu diberi sarung dan di­simpan.

Begitu juga beksi. Ia haruslah disimpan baik-baik dan digunakan hanya pada saat dibutuhkan. Sarung beksi ialah agama. Dengan agama, segala hawa nafsu, sifat congkak, rakus, dan lainnya bisa dikendalikan.

Agama Islam memang menjadi fondasi Beksi. Latihan-latihan beksi diawali dan diakhiri dengan doa secara Islam. Ritual yang ada dalam beksi pun kental dengan ajaran Islam.

Dulu, seorang anak (laki-laki) Betawi diwajibkan menguasai dua hal, yaitu ngaji dan maen pukulan. Ada ungkapan, anak Betawi “kudu bisa silat dan salat”. Dinyatakan juga, “di atas bale bace Alquran, turun dari bale maen pukulan’.

Artinya, seorang laki-laki Betawi harus menguasai ilmu agama dan bela diri. Kedua hal tersebutlah yang direkatkan sebagai ciri identitas laki-laki Betawi.

Dengan demikian, silat beksi tak semata sebagai sarana bela diri dan olahraga, tetapi juga menyangkut aspek rohani. Selain itu, beksi juga menjadi bagian dari seni dan budaya orang Betawi. Maen pukulan menjadi bagian dari berbagai seni budaya Betawi, seperti lenong, komedi Betawi, teater topeng, dan lainnya.

Baca juga: Tari Cokek, Berpadunya Budaya Tionghoa, Sunda, Betawi, dan Pencak Silat dalam Gerak Tubuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.