Topeng Betawi, Pertunjukan Seni Sekaligus Penolak Bala

46
Tari Topeng Betawi
Foto: Perpek.com

1001indonesia.net – Pertunjukan Topeng Betawi biasanya diadakan saat ada hajatan. Selain sebagai seni pertunjukan, yang sedang berhajat mengelar kesenian Topeng Betawi dengan harapan agar keluarga dijauhkan dari malapetaka.

Topeng Betawi merupakan kesenian khas masyarakat asli Jakarta. Para penarinya mengenakan kebaya khas Betawi dengan kain yang diikatkan pada pinggulnya dan mahkota berwarna-warni yang disebut kembang topeng.

Sebuah topeng menutupi wajah mereka. Topeng itu tidak memiliki pengikat tali pada kepala. Topeng tersebut dipakai dengan cara menggigitnya. Topeng kayu itu memiliki bentuk mata tertutup, hidung yang mancung, dengan bibir merah.

Topeng Betawi bukanlah pertunjukan seni tari biasa. Di masa silam, masyarakat Betawi percaya tarian ini juga berfungsi sebagai penolak bala. Warga yang menggelar hajatan akan mengundang kelompok kesenian Topeng Betawi dengan harapan keluarganya akan terhindar dari bencana atau malapetaka.

Namun seiring berjalannya waktu, kepercayaan bahwa kesenian ini dapat dijadikan sarana penolak bala semakin luntur. Saat ini, Topeng Betawi menjadi kesenian biasa atau sebagai sarana hiburan atau pengisi acara saja.

Simbol

Tiga warna topeng yang digunakan dalam Tari Topeng Betawi menandakan karakter manusia. Topeng putih menjadi simbol kesakralan dan juga kelembutan perempuan. Ketika mengenakan topeng dengan warna ini, penari akan bergerak anggun dan lemah lembut.

Berbeda halnya dengan topeng berwarna merah muda. Penari yang mengenakan topeng merah muda akan bergerak dengan lebih riang, atraktif, dan agresif. Warna ini melambangkan  sikap perempuan yang genit dan selalu ingin diperhatikan.

Sementara itu, topeng merah menyimbolkan kegagahan, keangkuhan, dan kekuatan.  Para penari yang mengenakan topeng ini mengarah pada gerakan kepalan tangan dan memasang kuda-kuda.

Tarian

Saat ini, Tari Topeng Betawi biasanya dikaitkan dengan tema yang dibawakan pada acara tertentu, seperti cerita legenda, kritik sosial, maupun kehidupan masyarakat. Semua itu disampaikan melalui gerakan para penarinya.

Gerakan Tari Topeng Betawi mengandalkan gerak tangan, pinggul, dan ketahanan kaki. Para penari menurunkan badan mereka sehingga ketahanan kaki sangat diperlukan.

Tangan pun sangat lentur dan luwes karena gerakan-gerakannya selalu menyertakan gerakan atau putaran pada bagian tangan mereka. Gerakan pinggul mereka pun seakan menggoda para penonton untuk berteriak.

Seiring perkembangan waktu, tarian topeng khas Betawi ini semakin banyak memiliki variasi. Beragam jenis tarian yang berasal dari Tari Topeng Betawi dikemas dalam sebutan lain, seperti Tari Enjot-enjotan, Tari Topeng Canting, Tari Topeng Ekspresi, Tari Topeng Putri, dan masih banyak varian lainnya.

Tari Topeng Betawi mendapat pengaruh dari budaya Sunda lewat gerakan yang mirip Tari Jaipong. Selain itu, pengaruh budaya Tiongkok terlihat dari kostum yang dikenakan penari yang mirip dengan pemain opera Tiongkok.

Di Indonesia, topeng sendiri telah muncul sejak zaman prasejarah, digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita para leluhur. Selain Tari Topeng Betawi, Indonesia juga memiliki tarian sejenis dari Cirebon, Bali, Malang, dan Magelang.

Baca juga: Jipeng, Kesenian Kolaboratif Tanjidor dan Topeng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × four =