Rabab Pariaman, Tradisi Pertunjukan Lisan dari Sumatra Barat

1959
Rabab Pariaman
Pertunjukan tradisional Rabab Pariaman memadukan kesenian musik dan bercerita. (foto: kabanews.com)

1001indonesia.net –  Rabab Pariaman atau Rabab Piaman merupakan tradisi pertunjukan lisan khas Minangkabau yang berkembang di daerah Pariaman, Sumatra Barat. Pertunjukan tradisional ini memadukan kesenian musik dan bercerita. Alat musik yang digunakan adalah rabab, alat musik gesek khas Minangkabau yang terbuat dari tempurung kelapa.

Daerah Pariaman berada di pesisir barat Provinsi Sumatra Barat. Saat ini, masuk dalam daerah administrasi Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Dalam sejarah geopolitik tradisional Minangkabau, Pariaman merupakan daerah “rantau”, tempat orang Minangkabau berkelana dari kampung halaman asli mereka di pedalaman.

Seperti daerah Minangkabau lainnya, orang Pariaman menganut sistem matrilineal, suatu sistem kekerabatan yang digariskan dari keturunan sang ibu. Dalam sistem ini, perempuanlah yang berhak atas harta warisan keluarga. Sistem matrilineal kemudian mendorong pemuda Minangkabau untuk meninggalkan daerah asalnya, dan melahirkan budaya merantau. [Baca juga: Matrilinealitas Minangkabau dan Budaya Merantau]

Tak hanya itu, dalam beberapa aspek budaya, kebudayaan Pariaman juga dipengaruhi oleh Aceh. Di masa silam, wilayah pesisir barat Minangkabau ini merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Aceh. Pariaman dipandang sebagai mata air Islam yang mengalir ke wilayah Minangkabau lainnya. Di Ulakan, misalnya, terdapat makam Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704), seorang ulama Minangkabau yang sangat berpengaruh. Makam tersebut dikunjungi banyak peziarah.

Tumbuhnya tradisi rabab di Minangkabau dan daerah-daerah lain terkait erat dengan sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Agama Islam dibawa oleh para pedagang dari bangsa Persia dan bangsa-bangsa sekitarnya, seperti Moroko, Turki, dan Gujarat. Para pendatang inilah yang membawa alat musik rabab untuk pertama kalinya yang kehadirannya memengaruhi orkestra etnik di berbagai daerah di Nusantara.

Tukang Rabab

Rabab Pariaman merupakan pertunjukan bercerita yang disampaikan dalam bentuk nyanyian dengan iringan musik. Penyanyi atau tukang rabab selalu laki-laki. Saat ini, tukang rabab yang tersisa sudah berusia tua karena generasi muda tidak tertarik lagi mempelajari kesenian ini.

Tukang rabab semuanya penduduk asli Pariaman. Mereka jarang menggelar pertunjukan di luar Pariaman karena tidak banyak permintaan di tempat lain. Ini disebabkan karena teks Rabab Pariaman sangat kental dengan dialek Pariaman. Penceritaan Sijobang yang disukai di daerah Payakumbuh dan sekitarnya, misalnya, disampaikan dalam dialek Payakumbuh.

Rabab

Foto: niadilova.wordpress.com
Foto: niadilova.wordpress.com

Alat musik yang dimainkan adalah rabab, alat musik gesek khas Mingangkabau. Rabab terbuat dari tempurung kelapa tua yang dibelah dan kemudian ditutup dengan kulit sapi. Pada bagian belakang tempurung terdapat lubang untuk getaran suara.

Batangnya dibuat dari bambu. Pada ujungnya dibuat alat peregang tali dari kayu. Antara ujung (peregang tali) dengan pangkalnya direntang dua tali melalui permukaan kulit kambing tersebut. Di atas kulit dipasang kuda-kuda sehingga tali yang direntang itu menjadi tegang.

Alat penggesek yang digunakan seperti alat penggesek biola. Bahannya bisa dibuat dari ekor kuda maupun benang nilon. Alat penggesek dipasang pada sebatang rotan yang dibengkokkan.

Pertunjukan

Tukang rabab duduk bersila. Rabab dipegang berdiri di depannya. Leher rabab dijepit kendur antara jempol kiri dan jari-jari lain agar ia juga dapat memetik senarnya. Ia memegang penggeseknya dengan tangan kanan.

Pertunjukan Rabab Pariaman biasanya diadakan malam hari, setelah salat isya dan berakhir tak lama sebelum salat subuh (kira-kira pukul 21.00 sampai 05.00). Tempat pertunjukannya berupa tempat berkumpul di mana saja baik di dalam ataupun di luar ruangan, terutama pada saat ada perayaan.

Meskipun pernah memiliki sifat keagamaan—digunakan sebagai sarana dakwah—Rabab Pariaman mengambil nuansa yang lebih duniawi dan tak boleh dimainkan di tempat keagamaan atau di tempat yang bersifat keagamaan. Hal ini mungkin terkait dengan isi cerita yang disampaikan kini, umumnya menyoroti perjuangan untuk keberhasilan dalam hidup. Isinya terutama mengenai seorang tokoh yang menghadapi kesulitan dalam mencapai keberhasilan. Cerita ini kemudian mendapatkan tanggapan dari penonton.

Tidak ada batasan antara penonton dan pemain dalam pertunjukan Rabab Pariaman. Penonton diharapkan ikut terlibat. Reaksi berbentuk teriakan dan komentar. Pada pesta perkawinan, misalnya, beberapa tamu duduk di sekeliling tukang rabab, yang lain akan duduk jauh untuk bermain kartu dan domino. Namun, mereka terus mendengarkan dengan bantuan pengeras suara. Sambil melempar kartu dan dominonya, mereka menjawab keras syair tukang rabab. Kaum perempuan juga mendengarkan pertunjukan, tetapi tidak ikut serta secara aktif.

Biasanya Rabab Pariaman merupakan pagelaran tunggal. Tukang rabab bertindak sebagai pemusik dan penyanyi sekaligus, mirip dengan tradisi tanggomo di Gorontalo. Namun, pertunjukan juga bisa melibatkan dua tukang rabab. Kadang-kadang tukang rabab akan membawa teman atau seorang ahli atau muridnya untuk membiasakannya menghadapi penonton.

Dendang dan Kaba

Teks Rabab Pariaman terdiri atas dua unsur, yakni dendang dan kaba (cerita). Dendang berbentuk pantun (syair berbaris empat atau lebih) dengan sistem persajakan a-b-a-b. Sama seperti pantun pada umumnya, syair terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi. Sampiran merupakan pengantar, sementara maksud syair terkandung dalam bagian isi. Jumlah baris dalam syair selalu genap, kecuali bila ada ulangan pada baris tertentu, tergantung pada irama.

Isi dendang mengenai perjuangan hidup, seperti kisah mengenai kemiskinan yang mengakibatkan kekasih berpaling ke orang yang lebih kaya, nasib malang ketika di rantau, ataupun perasaan rindu kampung halaman. Ketegangan diredakan dengan suntikan syair yang lucu yang disebut pantun jenaka. Keseluruhan cerita bernuansa sedih. Sampai taraf tertentu, isi dendang merupakan cerminan kenyataan sosial yang dialami lelaki Minangkabau.

Nada dendang berbeda-beda, diberi nama seperti lagu pelayaran, lagu ampek-ampek, dan lagu dendang panjang. Pengaruh nada itu nyata bukan hanya pada aspek musiknya, namun pada berbagai jenis kata-kata pengisi yang digunakan.

Sementara kaba adalah cerita. Ada sejumlah kaba yang dipertunjukkan dalam Rabab Pariaman, jumlah yang relatif tetap sepanjang sejarahnya. Sebagian besar kaba bergaya klasik, dimainkan dengan latar kerajaan dengan tokoh yang berkekuatan gaib. Perlu beberapa malam untuk menyampaikan seluruh cerita. Kecenderungannya adalah memilih hanya satu episode yang dapat diselesaikan dalam satu malam.

Hanya ada satu kaba nonklasik dalam tradisi Rabab Pariaman, yaitu Kaba Siti Baheram. Orang percaya kaba ini berdasarkan peristiwa nyata yang terjadi pada 1916 di Sungai Pasak (sebelah timur Kota Pariaman).

Ceritanya mengenai lelaki muda yang kecanduan berjudi dan tega menyakiti ibunya serta membunuh keluarga perempuannya untuk mendapatkan warisan demi membiayai perjudiannya. Dalam masyarakat matrilineal Minangkabau, warisan diturunkan melalui garis perempuan, hingga tak ada perempuan lagi. Akibat kejahatan serta kutukan ibunya, hidup lelaki muda itu berakhir di tiang gantungan.

Kaba tidak menggunakan nada sebanyak dendang. Karena itu, iramanya relatif tak berubah sampai akhir. Tema cerita kebanyakan berkisar seputar pertentangan dalam istana kerajaan.

Teks Rabab Pariaman berbentuk prosa liris. Setiap baris mengandung delapan hingga dua belas suku kata, di luar kata-kata pengisi. Aturan ini berhubungan dengan semua teks dalam pertunjukan Minang, baik kaba maupun bentuk lain. Bahasanya sangat konotatif, resmi, kuna, dialektik, penuh ungkapan perlambang, sindiran, contoh, parabel, dan alegori. Rabab Pariaman tidak menggunakan bahasa percakapan sehari-hari tetapi resmi dengan sifat sastra dan dipengaruhi dialek Pariaman.

Kesenian ini sangat populer sangat populer di era 1950 sampai 1980-an di masyarakat Miangkabau. Namun, setelah era 1990-an, Rabab Pariaman mengalami kemunduran, bahkan di daerah asalnya sendiri. Saat ini, tak ada generasi muda yang mempelajarinya sehingga keberadaan kesenian tradisional ini terancam kepunahan.

Derasnya budaya modern memengaruhi selera anak muda membuat mereka tak tertarik lagi pada kesenian tradisional. Selain itu, kesenian Rabab Pariaman yang menyampaikan segala sesuatu dalam bentuk tersamar akan terdengar aneh di telinga orang muda Minangkabau sekarang.

Bisa jadi, sifat tradisi Rabab Pariaman yang menyampaikan cerita dan pesan dalam bentuk kiasan atau tersamar ini menjadi alasan mengapa sulit sekali bagi orang muda zaman sekarang untuk mempelajari seni tradisional ini.

*) Terima kasih pada Dr. Suryadi (pengajar dan peneliti di Universiteit Leiden, Belanda) yang tulisan-tulisannya menjadi sumber utama artikel ini. Di antara karya beliau mengenai Rabab Pariaman sebagai berikut:

  • Suryadi, “Rabab Pariaman,” dalam John H. McGlynn dan Karin Johnson, Indonesian Heritage: Bahasa dan Sastra, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Suryadi, “Siti Baheram: Dari Peristiwa Nyata Ke Kaba,” http://niadilova.blogdetik.com/2009/11/09/%E2%80%9Csiti-baheram%E2%80%9D-dari-perstiwa-nyata-ke-kaba
  • https://niadilova.wordpress.com/2017/03/13/rabab-pariaman-senjakala-sebuah-genre-sastra-lisan-minangkabau/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × two =