Tanggomo, Sastra Lisan yang Berperan sebagai Media Jurnalistik

975
Tanggomo, Sastra Lisan Gorontalo
Foto: artikelsains.com

1001indonesia.net – Tanggomo merupakan sastra lisan Gorontalo, Sulawesi Utara, yang dilantunkan secara berirama dengan atau tanpa iringan musik. Isinya terutama merupakan kisah yang sedang hangat atau peristiwa menarik setempat.

Selain peristiwa aktual, tanggomo juga merekam peristiwa sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan, dan pendidikan. Tradisi lisan yang keberadaannya semakin langka ini berfungsi ganda, yakni memberikan informasi dan pengetahuan pada masyarakat sekaligus juga sebagai hiburan. Di Sumatra Barat terdapat tradisi sejenis yang disebut bakaba.

Secara harfiah, tanggomo berarti menampung. Pencerita tanggomo, yang disebut ta motanggomo atau patanggomo, menampung berbagai peristiwa baik yang aktual maupun sejarah, kemudian menyampaikan dengan cara semenarik mungkin kepada khalayak penonton.

Pewarta

Di masa silam, seorang ta motanggomo berfungsi layaknya seorang jurnalis. Ia mencari dan mengumpulkan laporan peristiwa. Ia menyelidiki, mencatat, memperhatikan, dan mendengarkan keterangan dari orang lain. Ia mengunjungi pihak berwenang dalam penyelidikannya. Setelah semua fakta jelas dan lengkap, ia akan menuliskan ceritanya dalam syair yang menarik untuk ia sampaikan kepada masyarakat.

Bagi masyarakat setempat, peran ta motanggomo adalah pengumpul dan pembaca berita yang akan membuat mereka tak ketinggalan peristiwa penting yang terjadi di daerahnya. Jauh sebelum adanya surat kabar ataupun media elektronik, tanggomo menjadi sumber untuk mendapatkan informasi peristiwa-peristiwa aktual.

Namun, tanggomo tidak hanya sekadar merekam peristiwa yang terjadi dan kemudian menyebarkannya. Di samping menyediakan informasi bagi pendengar, tanggomo juga memuat dimensi hiburan. Si pencerita dituntut juga untuk menyampaikan beritanya semenarik mungkin dalam bentuk syair.

Sumber Sejarah

Tidak hanya peristiwa aktual, ta motanggomo juga mengambil sumber-sumber lain sebagai bahan syair. Sumber-sumber tersebut antara lain:

  • dongeng, mitos, dan legenda, sebagian besar merupakan rekaan tapi berdasarkan pada peristiwa sejarah;
  • peristiwa rekaan, diciptakan dalam rekaan sang ta motanggomo sendiri;
  • ajaran agama atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa selain berfungsi sebagai berita dan hiburan, tanggomo merupakan catatan lisan yang merekam peristiwa sejarah, membuatnya menjadi salah satu sumber sejarah penting. Beberapa peristiwa sejarah penting dapat ditelusuri melalui tanggomo, termasuk pertempuran, pembunuhan, bencana alam, skandal, kecelakaan, kisah perjalanan, dan peristiwa yang berhubungan dengan penjajahan.

Sementara kisah yang berasal dari mitos, legenda, dan fabel berisi tentang keindahan alam, makhluk halus, dan orang yang bernasib baik. Kisah-kisah yang berasal dari agama dan kepercayaan umumnya menggambarkan asal-usul kehidupan manusia, tugas orang yang hidup di dunia, kehidupan di alam baka, dan nasihat bagi orang muda.

Seni Penyajian

Pelatihan untuk menjadi ta motanggomo dapat diperoleh dengan dua cara, secara langsung dan tak langsung. Penerimaan langsung (motidupapa) mengharuskan sang calon tinggal dan bekerja di sisi gurunya, mempelajari langsung bagaimana gurunya memperoleh keterampilan. Ia harus mengikuti cara gurunya menyampaikan cerita. Awalnya seorang ta motanggomo muda mengandalkan ingatan atau hafalan. Namun, setelah ia meninggalkan gurunya, ia harus mengandalkan kreativitasnya sendiri.

Penerimaan tak langsung dilakukan dengan belajar secara mandiri dengan mendengarkan tanggomo yang dituturkan oleh ta motanggomo di pasar, di pesta, di jalan, ataupun di rumah. Ta motanggomo semacam ini bebas menuturkan dan menggelar pertunjukan dengan gayanya sendiri. Ia tidak mengandalkan hafalan, tetapi daya cipta.

Pada pertunjukan cuma-cuma, pencerita yang diajari maupun yang belajar sendiri menggunakan daya cipta atau kreativitasnya masing-masing. Mereka boleh mengganti, menambah, mengurangi jalan ceritanya, untuk menyesuaikan dengan suasana. Sebab itu, panjang pertunjukan bisa berbeda-beda.

Pertunjukan tanggomo dibagi ke dalam beberapa episode dan subepisode. Penceritaan selalu diawali dengan kata Bismila yang menandakan eratnya tradisi ini dengan kepercayaan agama masyarakat setempat.

Peralihan antar-episode maupun subepisode ditandai oleh jeda singkat atau perubahan pola irama. Awal dari episode atau subepisode ditandai dengan penggunaan kata keterangan dan kata penghubung, seperti “maka, maka kemudian, maka setelah itu, kemudian tiba-tiba, dan tak lama kemudian.”

Dalam penuturan, ta tanggomo membuat ceritanya tampak lebih nyata dengan bermacam cara dan gaya. Penceritaan bisa dilakukan dengan iringan alat musik, seperti gambus (semacam kecapi, enam senar), kecapi (sitar), dan rebana. Jika tidak ada alat musik, pendongeng menggunakan gerakan tangan, kepala, muka, permainan suara, nada, dan irama untuk menghidupkan cerita. Ta tanggomo juga menggunakan berbagai gaya bahasa, misalnya paralelisme, pembalikan, elipsis, dan analogi untuk meningkatkan daya tarik cerita dan menguatkan makna.

Karena setiap pencerita mengandalkan juga daya kreativitasnya maka terjadi keragaman dalam penceritaan, baik jenis cerita yang dituturkan maupun cara penyampaiannya. Pada dasarnya, penuturan merupakan penciptaan cerita. Variasi penceritaan terjadi seturut situasi dan kondisi penonton serta waktu penuturan.

Pencerita dapat memperpanjang atau mempersingkat ceritanya sesuai tanggapan pendengarnya dan waktu yang tersedia. Dalam menyampaikan cerita, pelaku tanggomo harus menciptakan dan menghidupkan cerita, di samping menanggapi pendengar. Biasanya variasi terdiri atas perpanjangan, penambahan, penghilangan, penggantian, dan perubahan unsur-unsur cerita.

Saat ini, meski tradisi lisan tanggomo masih bisa ditemui, tapi keberadaannya nyaris punah. Sastra lisan ini semakin ditinggalkan oleh generasi mudanya. Padahal, pertunjukan sastra lisan ini sangat unik dan menarik. Tanggomo juga bisa dijadikan sarana melestarikan dan mengembangkan bahasa tutur asli Gorontalo.

Sumber:

  • Nani Tuloli, “Tanggomo,” dalam John H. McGlynn dan Karin Johnson, Bahasa dan Sastra, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/2015/12/17/tanggomo-gorontalo/
  • http://properti.kompas.com/read/2011/02/14/21502014/Membangkitkan.Tradisi.Lisan. Gorontalo
  • http://regional.kompas.com/read/2017/04/18/11000501/tanggomo.tradisi.lisan. gorontalo.yang.makin.sulit.ditemukan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − 6 =