Raden Mas Suryopranoto, Raja Pemogokan

760
Raden Mas Suryopranoto, Raja Pemogokan
R.M. Suryopranoto (Foto: daerah.sindonews.com)

1001indonesia.net – Raden Mas Suryopranoto merupakan salah seorang pemimpin tinggi di tubuh Sarekat Islam yang dijuluki “Raja Pemogokan” (De Staking Koning) karena kepeloporannya dalam mengorganisasi gerakan-gerakan pemogokan buruh di Tanah Air.

Lahir di Yogyakarta pada 11 Januari 1871, Suryopranoto adalah kakak Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), alias putra sulung KPH Suryaningrat. Meski lahir dari keluarga bangsawan, jejak perjuangan Soerjopranoto justru dikenal sebagai pembela rakyat kecil yang tertindas.

Lulus dari sekolah dasar ELS, ia mengikuti kursus pegawai rendah (Klein Ambtenaaren Cursus). Karena sering “membuat onar” di masyarakat Yogyakarta, ia lalu dibuang oleh Asisten Residen ke Tuban untuk bekerja di Kantor Kontrolir. Namun, ia dikeluarkan dari pekerjaan tersebut setelah menempeleng seorang atasannya yang berkulit putih karena menghina seorang pegawai pribumi.

Pada 1900, Suryopranoto mendirikan organisasi Mardi Kaskaya, semacam koperasi rakyat yang berusaha membebaskan rakyat kecil dari jeratan rentenir. Keberadaan organisasi ini membuat ruang gerak para rentenir menjadi terbatas. Terjadilah konflik terbuka. Organisasi Mardi Kaskaya dituding oleh pejabat kolonial sebagai penyebab konflik tersebut.

Oleh karena itu, dengan dalih menyekolahkannya ke Middelbare Landbouw School (MLS, Sekolah Menengah Pertanian), pemerintah kolonial mengirim Suryopranoto ke Bogor. Surat tugasnya langsung ditandatangani Gubernur Jenderal sebagai “izin istimewa”.

Di Bogor, ia tinggal di rumah orang Belanda, Van Hinloopen Labberton, seorang penganut ajaran teosofi yang membenci penjajahan dan perbedaan hak bangsa-bangsa. Suryopranoto merasa menemukan sahabat, guru, dan orangtua sekaligus.

Setahun setelah tamat dari MLS, pada 1908, Suryopranoto diperkerjakan sebagai Kepala Dinas Pertanian (Landbouw Consulent) untuk daerah Wonosobo, Dieng, dan Batus dengan tugas mengawasi perkebunan tembakau. Ia juga merangkap sebagai pemimpin sekolah pertanian.

Suatu ketika, pada 1914, rasa keadilannya terusik saat mendapati seorang Asisten Wedana yang dipecat hanya karena menjadi anggota Sarekat Islam. Sebagai protes atas tindakan yang mengekang hak berserikat dan berkumpul itu, Soerjopranoto menyobek ijazah-ijazahnya sendiri dan melemparkannya bersama bundelan kunci di hadapan atasannya (Residen Belanda) sambil meminta berhenti.

Sejak itu, ia bersumpah tidak akan lagi bekerja pada pemerintah penjajah Belanda untuk selama-lamanya, dan memberikan seluruh tenaga dan pikirannya pada perjuangan melawan penjajahan dan menegakkan hak-hak dari kaum tertindas.

Suryopranoto yang aktif di Budi Utomo merasa tidak puas karena organisasi ini tidak bersifat kerakyatan dan tidak revolusioner. Ia minta diri keluar dari organisasi tersebut setelah usulnya untuk membuatnya menjadi pergerakan rakyat ditolak. Selanjutnya, pada 1915, ia mengembangkan aktivitasnya sendiri secara langsung di kalangan rakyat jelata dengan mendirikan Barisan Kerja (Arbeidsleger) Adhi Dharma (kebaktian yang luhur).

Adhi Dharma bergerak dalam bidang pemberdayaan sosial-ekonomi, meliputi tabungan, koperasi, pertukangan, pendidikan, kesehatan, dan advokasi, yang kesemuanya didasarkan atas semangat gotong-royong. Semua aktivitas ini ditujukan untuk: 1) menggugah jiwa rakyat kecil akan kesadaran harga dirinya, 2) merupakan persiapan penggalangan gerakan rakyat jelata, gerakan buruh dan tani.

Ia juga aktif dalam organisasi Sarekat Islam. Karena semangat dan kemampuannya, segera ia menduduki tempat di pucuk pimpinan organisasi tersebut sebagai orang kedua setelah Tjokroaminoto.

Dalam kongres Sarekat Islam di Surabaya pada 1919, Soerjopranoto mengemukakan bahwa perjuangan menjadikan alat-alat produksi menjadi milik umum tidak harus dicapai dengan aksi bersenjata, tetapi bisa dengan aksi moral, lewat protes-protes, dan jika perlu dengan “pemogokan” yang kesemua itu harus dilakukan secara serentak.

Gagasan itu kemudian praktikkan sendiri dengan memimpin pemogokan umum di kalangan pekerja pabrik-pabrik gula yang pertama di tanah air. Sebelumnya, pada 1917, Soerjopranoto bergabung dengan serikat buruh pertama yang didirikan di Indonesia, Personel Fabrieks Bond (PFB), di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lewat serikat buruh ini, pemogokan buruh pertama kali dilakukan pada 20 Agustus 1920, di pabrik gula Madu Kismo. Pemogokan ini begitu luas dan hebat sehingga oleh De Express disebut sebagai “De Staking Koning” (Raja Pemogokan). Yang dihadapi sebagai lawan pada waktu itu adalah Politiek Economische Bond (PEB), yaitu kumpulan tuan-tuan pabrik di bawah pimpinan Engelenberg dan Brugers.

Selama menjadi pemimpin SI, Soerjopranoto berulang kali masuk penjara karena aktivitas dan tulisan-tulisannya. Sekali ia dipenjarakan di Malang selama 3 bulan (1923), kedua di Semarang selama 6 bulan (1926), dan ketiga kalinya di Bandung (Sukamiskin) selama 16 bulan (1933), dengan peringatan untuk keempat kalinya akan diganjar 4 × 16 bulan.

Pasca-kemerdekaan, ia aktif menjadi guru Taman Siswa, juga sesekali memberikan kursus pada para pemuda. Ia menerbitkan dua buku, tentang sosialisme dan ilmu tata negara. Setelah tahun 1949, ia berhenti dari aktivitas kerja, aktivitasnya hanya menjadi simpatisan PSII dan anggota kehormatan Kongres Rakyat.

Suryopranoto meninggal pada 15 Oktober 1959 di usia 88 tahun. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional RI (1959) dan bintang Mahaputra Tingkat II Republik Indonesia (1960).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × one =