Pala dan Bunga Pala, Rempah Asli Kepulauan Banda Maluku

1951
Buah Pala
Buah Pala (Foto: okezonepost.blogspot.com)

1001indonesia.net – Pala dan bunga pala (fuli) merupakan rempah Indonesia yang terkenal di dunia. Komoditi yang sangat bernilai ini sudah diperdagangkan sampai ke Konstantinopel sejak abad ke-6. Dulu, rempah asli Indonesia ini hanya tumbuh di gugus kepulauan Banda, Maluku.

Pala (Myristica fragans) merupakan pohon hutan yang kecil dengan tinggi sekitar 18-20 m. Tumbuh dengan baik di keteduhan pohon tinggi lainnya. Tumbuhan ini berkulit abu-abu tua, daun mengkilat berbentuk elips, bunga kecil kuning, serta menghasilkan buah berukuran dan berwarna seperti aprikot.

Ketika masak, buah akan membelah dan menampakkan biji cokelat mengkilat dengan salut bijinya atau aril (arillus) seperti jala. Warna merah cerah salut bijinya menarik kawanan merpati besar (Ducula concinna) yang menjadi pelaku utama penyebaran biji pala.

Buah dipanen dengan cara disodok dengan gala panjang dan kemudian ditangkap dengan keranjang. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berusia 7 sampai 9 tahun. Pohon mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tinggi pohonnya dapat mencapai 20 m dengan usia bisa mencapai ratusan tahun.

Begitu dijemur di bawah matahari, aril akan terkelupas dan berubah warna dari merah tua menjadi cokelat kemerahan. Sementara itu, bagian dalam pala yang wangi akan mengeras dan berubah warna dari cokelat mengkilat menjadi cokelat kelabu, seperti kayu marmer yang keras.

Proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 6-8 minggu. Setelah kering, aril dijual sebagai bunga pala dan biji bagian dalam ditumbuk menjadi tepung. Dalam perdagangan, bunga pala dinamakan fuli (mace), dalam istilah farmasi disebut myristicae arillus atau macis.

Daging buahnya (myristicae fructus cortex) dapat diolah menjadi makanan ringan dan sangat digemari oleh masyarakat, diantaranya asinan, manisan, marmalade, selai, dan kristal daging buah pala. Bijinya mengandung minyak atsiri antara 7-14%. Biji dan bunga pala digunakan sebagai penyedap dan pengawet makanan, obat, serta parfum dan kosmetika.

Bunga pala terasa sama dengan bijinya tetapi lebih halus, dan karena itu harganya lebih mahal. Kulit pohonnya tipis dan ketika digores menghasilkan cairan berwarna merah, yang ketika kering berwarna gelap sampai merah darah kering. Karena itu, disebut juga sebagai “pendarah”, yang di Indonesia digunakan pada keris yang dianggap mempunyai kekuatan gaib.

Kapan dimulainya perdagangan internasional jenis rempah ini tidak diketahui secara pasti. Rempah tercatat telah diperdagangkan di Konstantinopel sejak abad ke-6 dan dikenal orang Eropa abad ke-12. Sampai abad ke-18, kesembilan pulau Banda di Maluku, meliputi 50 km persegi, merupakan satu-satunya sumber pala dan fuli di dunia.

Sumber rempah ini tertutup bagi orang Eropa, hanya pedagang Arab dan Asia lainnya yang menjangkaunya, sampai Portugis menemukan pulau itu awal abad ke-16. Pada saat itu, Pulau Banda merupakan tempat penyaluran penting, juga bagi perdagangan cengkih dari Ternate dan Tidore, bulu burung cenderawasih, serta budak.

Kemudian, Belanda dan Inggris datang dan membangun benteng. Untuk mengatur monopoli perdagangan pala, Belanda banyak melakukan cara-cara yang tidak pantas. Mereka menebangi pohon pala yang tidak langsung berada dalam pengawasannya, membunuh banyak laki-laki Banda, dan membagi tanah di antara kelompok bekas narapidana dan petualang yang menggunakan budak belian untuk memanen pala.

Terjadi persaingan yang keras dalam perdagangan pala, cengkih, dan fuli antara Belanda dan Inggris. Persaingan yang semakin meruncing tersebut akhirnya menyebabkan sebuah tragedi yang terkenal, disebut sebagai “Pembantaian Amboyna” pada 1623. Pada peristiwa tersebut, sepuluh orang Inggris pegawai Perusahaan Hindia Timur Britania menjadi korban. Kejadian ini menimbulkan ketegangan yang berlarut di antara kedua pihak.

Baru setelah hampir 50 tahun pasca-pembantaian ini, terjadi kesepakatan di antara kedua pihak. Inggris mengambil inisiatif untuk menyerahkan Pulau Run di barat Pulau Banda untuk dipertukarkan dengan Pulau Manhattan milik Belanda. Untuk mendapatkan pala, Inggris mengambil ke Penang dan India Barat.

Saat ini, pulau Banda menghasilkan sedikit pala. Sebagian besar pala dihasilkan oleh Sulawesi, Grenada, dan Sri Lanka. Meski demikian, kita masih mungkin mengunjungi rumpun pala yang wangi di bawah kanopi pohon Canarium di Pulau Lontar, bagian dari gugus kepulauan Banda.

Begitu berharganya rempah ini di dunia sampai terdapat legenda. Dikisahkan seorang pedagang rempah dari Connecticut yang licik mengelabui pelanggan dengan membuat “pala” tiruan dari sepotong kayu usang, sehingga muncullah istilah “Negara Bagian Pala” bagi Connecticut, dan “sebiji pala kayu” sebagai metafora dari kecurangan atau penipuan.

Sumber

  • Tony Whitten dan Jane Whitten, Tetumbuhan: Indonesian Heritage IV, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Jack Turner, Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme, Depok: Komunitas Bambu, 2011.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − twelve =