Nyai Ahmad Dahlan, Berperan Besar dalam Gerakan Mencerdaskan Bangsa

276
Nyai Ahmad Dahlan
Siti Waligah atau yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. (Foto: Istimewa)

1001indonesia.net – Nyai Ahmad Dahlan yang bernama asli Siti Walidah merupakan istri dari KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia berperan besar dalam gerakan-gerakan mencerdaskan anak bangsa. Salah satunya melalui organisasi ‘Aisyiyah yang ia dirikan.

Nyai Ahmad Dahlan berpandangan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peran dan peluang yang sama dalam menyebarkan agama dan mencerdaskan bangsa. Menurutnya, pendidikan pertama yang diterima seorang anak adalah dari keluarganya.

Sebab itu, para wanita dan kaum ibu memiliki peran dan tanggung jawab yang besar untuk turut mendukung kemajuan masyarakat, di antaranya melalui pendidikan dan pengasuhan anak-anak mereka sendiri.

Dari pemikiran tersebutlah, pada 19 Mei 1917, dia mendirikan ‘Aisyiyah, sebuah organisasi yang menghimpun kaum ibu. Lewat ‘Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan bergerak dalam bidang pendidikan agama serta pelayanan kesehatan dan sosial.

Semula, ‘Aisyiyah bernama Sopo Tresno, sebuah perkumpulan yang berisi pengajian Al Quran berikut maknanya yang berdiri pada 1914. Perkumpulan ini juga mengajarkan baca tulis kepada pesertanya yang berasal dari beragam kalangan, mulai dari putri keraton sampai buruh batik.

Sopo Tresno kemudian berkembang menjadi organisasi perempuan dan berubah namanya menjadi ‘Aisyiyah. Nama organisasi ini diambil dari nama istri Nabi Muhammad, yaitu ‘Aisyah yang dikenal cerdas dan mumpuni. Organisasi yang resmi berdiri pada 22 April 1917 ini kemudian menjadi bagian dari Muhammadiyah, organisasi yang didirikan suaminya pada 1912.

Baca juga: Muhammadiyah, Gerakan Pembaruan Islam di Bidang Pendidikan dan Sosial

Nyai Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai pribadi yang visioner. Ia pernah mengajarkan anak-anak perempuan untuk naik sepeda. Kegiatan itu sebenarnya tak lazim pada masa itu, tapi Nyai Ahmad Dahlan memiliki maksud tertentu dengan melakukannya. Ia ingin agar perempuan berani keluar dari kungkungan tradisi dan mampu berkontribusi secara luas, tak hanya di wilayah domestik semata.

Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 3 Januari 1872. Ia putri dari Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadli bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim, seorang ulama keraton Yogyakarta. Tokoh wanita ini meninggal dunia pada 31 Mei 1946, setahun setelah Indonesia merdeka. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Agung Yogyakarta.

Selama hidupnya, Nyai Ahmad Dahlan dikenal sebagai pemuka agama agama yang terkenal. Ia terus aktif dalam organisasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, bahkan setelah kepergian suaminya pada 23 Februari 1923.

Atas jasa-jasanya, pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan nasional pada 10 November 1971 sesuai Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971.

Baca juga: Kiai Haji Ahmad Dahlan, Ulama Pembaru dan Pendiri Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.