MH Thamrin, Pahlawan Betawi yang Peduli Nasib Buruh

205
MH Thamrin, Pahlawan Nasional Asal Betawi
Penamaan Museum MH Thamrin menggambarkan betapa besarnya peran pahlawan asal Betawi ini dalam perjuangan Indonesia di masa kolonial Belanda. (Foto: Joko Supriyanto/Warta Kota)

1001indonesia.net – MH Thamrin atau lengkapnya Mohammad Husni Thamrin merupakan seorang politisi pada masa Hindia Belanda. Meski berasal dari keluarga berada, Thamrin memiliki kepedulian yang tinggi terhadap nasib rakyat kecil. Ia banyak memperjuangkan nasib kaum buruh, terutama saat ia menjadi anggota Volksraad.

MH Thamrin alias Mat Seni adalah anak dari pasangan Tabri Thamrin, pejabat di pemerintahan Belanda dan Nurchomah, orang Betawi. Thamrin lahir pada 16 Februari 1894.

Ia memiliki kakek bernama Ort, seorang Inggris yang menjadi salah satu pemilik hotel di bilangan Petojo. Kakeknya menikah dengan seorang perempuan Betawi bernama Noeraini. Meski lahir dari keluarga berkecukupan, Thamrin memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyat. Ia banyak menyuarakan penderitaan yang dialami rakyat.

Kepedulian atas nasib rakyat yang tertindas itu ditunjukkannya saat ia menjadi pejabat legislatif di Gemeenteraad (Dewan Kota) dan Volksraad (Dewan Rakyat). Sikap kritisnya muncul dari pendidikan modern yang ia dapatkan.

Thamrin bisa menikmati fasilitas pendidikan yang layak hingga tingkat menengah atas di Koning Willem III School te Batavia. Meskipun tidak menempuh pendidikan universitas, ia sangat cerdas. Ia belajar secara autodidak dari berbagai sumber untuk menambah pengetahuannya.

Perjalanan karier tokoh asal Betawi berdarah Inggris ini dimulai dari kantor kepatihan, kantor keresidenan, dan Maskapai Pelayaran Belanda (KPM). Perkenalan dengan sosialis bernama Daniel van der Zee (1880-1969), mengantar Thamrin yang fasih berbahasa Belanda berkarier di Gemeenteraad. Saat itu usianya masih muda, sekitar 25 tahun. Ia menjadi anggota termuda dalam dewan tersebut.

Di Gemeenteraad, ia berjuang agar pemerintah memperhatikan pentingnya perbaikan kota, khususnya perkampungan-perkampungan rakyat. Thamrin mengingatkan pemerintah kotapraja akan buruknya keadaan masyarakat yang tinggal di kampung-kampung dalam lingkungan yang tidak bersih karena sampah tidak terurus.

Perjuangan Thamrin sangat dihargai oleh warga Batavia. Pada 1923, Thamrin diangkat menjadi ketua Organisasi Kaum Betawi. Tujuan perkumpulan ini untuk memajukan perdagangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat Betawi.

Pada 16 Mei 1927, MH Thamrin diangkat menjadi anggota Volksraad. Sebagai anggota Volksraad,  ia tidak lagi sekadar memperjuangkan nasib masyarakat Betawi, tetapi juga masyarakat Hindia secara umum. Salah satu isu yang ia perjuangkan adalah tuntutan kaum buruh untuk mendapatkan hak kesehatan dan gaji yang pantas.

Suatu hari, Thamrin bersama Koesoemo Oetojo mengadakan kunjungan ke Sumatra Timur. Ia ingin melihat dari dekat keadaan buruh yang bekerja di perkebunan tembakau Deli. Ternyata, keadaan buruh sangat memprihatinkan. Mereka dituntut untuk bekerja berat, tetapi kondisi sosial mereka sangat tidak memadai. Dengan sengaja, di sekitar pemukiman para buruh dibangun tempat judi dan tempat mabuk. Banyak buruh, khususnya kuli kontrak, yang terjerat utang.

Belum lagi keberadaan Poenale Santie, sebuah ordonansi yang sangat memberatkan kehidupan para buruh. Dengan ordonansi yang dibuat pada 1880 dan diperbarui pada 1889 tersebut, pemerintah kolonial bisa memberi sanksi tanpa melalui proses pengadilan terhadap para kuli yang melanggar kontrak. Sanksi yang diberikan berupa hukuman badan, seperti dicambuk atau dirotan. Sebuah aturan yang tidak manusiawi.

Thamrin dan Koesoemo Oetojo kemudian mengangkat persoalan itu dalam sidang Volksraad pada 27 Januari 1930. Melalui pidato yang keras, Thamrin mengkritik secara tajam perlakuan buruk yang diterima para buruh. Dengan cepat, kritik tajam tersebut terdengar hingga ke luar negeri.

Eropa dan Amerika Serikat mengeluarkan reaksi keras dan mengancam akan memboikot tembakau-tembau dari Deli. Ancaman tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda terpaksa mencabut aturan yang sangat memberatkan kehidupan buruh di Sumatera Timur tersebut.

Langkah MH Thamrin tidak berhenti pada perjuangan membela nasib buruh. Ia yang menjabat sebagai wakil ketua Partai Indonesia Raya (Parindra) setelah Dokter Sutomo meninggal pada 1938 dengan gigih memperjuangkan agar istilah “Inlander” diganti dengan “Indonesia” atau “Indonesisch”.

Rasa nasionalismenya sangat besar, meskipun ia keturunan Inggris. Ia bahkan tak mau mengibarkan bendera Belanda di rumahnya saat ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Bersama Sam Ratulangi, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh lainnya, ia juga memperjuangkan penghapusan larangan sekolah swasta, seperti Taman Siswa dan Muhammadiyah, yang berhasil dicapai pada 1933.

Bersama Soetardjo, Thamrin juga pernah mengajukan petisi untuk menuntut “Indonesia berperlemen” pada 1935. Mereka tidak puas dengan keberadaan Volksraad yang cuma menjadi “tukang stempel” pemerintah kolonial saja. Tentu saja tuntutan dalam petisi yang dikenal dengan Petisi Soetardjo itu ditolak pemerintah kolonial.

Thamrin juga merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan sepak bola di Indonesia. Pada 1932, ia menyumbangkan dana sebesar 2.000 gulden untuk mendirikan lapangan sepak bola. Lapangan sepak bola tersebut menjadi yang pertama yang dibangun untuk rakyat Hindia. Letak lapangan tersebut di daerah Petojo, Batavia.

Sebelum perang Pasifik berkobar, Menteri Perdagangan Jepang Kobajashi berkunjung ke Jakarta. Tujuannya untuk menuntut konsesi yang lebih besar dalam pembelian minyak bumi dan batu bara yang dihasilkan Hindia Belanda. Koran-koran memuat pernyataan Kobajashi bahwa Jepang berminat meluaskan pengaruhnya di Hindia Timur. Untuk itu, Jepang memerlukan dukungan rakyat Hindia.

Tak pelak lagi, pemerintah kolonial Belanda mencurigai pihak-pihak yang dituduh pro-Jepang, termasuk MH Thamrin. Ia dikenai tahanan rumah pada 6 Januari 1941 karena dianggap berkhianat kepada pemerintah Belanda dan bersekongkol dengan Jepang.

Lima hari kemudian, tepatnya pada 11 Januari 1941, Mohammad Husni Thamrin meninggal secara mendadak. Ia lalu dikebumikan di Karet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − eleven =