Masjid Agung Surakarta, Sejarah Masjid Tua di Kota Solo

126
Masjid Agung Surakarta, Sejarah Masjid Tua di Kota Solo
Foto: indonesiakaya.com

1001indonesia.net – Masjid Agung Surakarta atau lengkapnya Masjid Agung Keraton Surakarta merupakan salah satu dari tiga masjid kuno yang ada di Solo. Dua yang lain adalah Masjid Al Wustho Mangkunegaran dan Masjid Laweyan. Jam kuno yang masih berfungsi serta dua buah bedug besar menambah keunikan dari masjid bersejarah ini.

Masjid Agung Surakarta terletak di sebelah barat alun-alun utara Keraton Surakarta. Dibangun oleh Sunan Paku Buwono III tahun 1763 dan selesai tahun 1968 membuat masjid ini menjadi masjid tertua kedua di Solo setelah Masjid Laweyan. Masjid ini masuk dalam kategori Masjid Jami, yaitu masjid berukuran besar yang digunakan untuk sholat berjamaah, misalnya pada sholat Jumat dan sholat Ied.

Di masa lalu, Masjid Agung Surakarta merupakan Masjid Agung Negara. Semua pegawai Masjid Agung merupakan abdi dalem dan diberi gelar oleh keraton Surakarta Hadiningrat, misalnya Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin. Segala keperluan masjid disediakan oleh keraton. Masjid Agung juga dipergunakan untuk upacara keagamaan yang diselenggarakan kerajaan.

Sejak 3 Juli 1962, masjid ini berada di bawah Departemen Agama Surakarta. Sejak itu, dana operasional masjid dibiayai oleh Departemen Agama Surakarta dan didukung oleh Pemkot Solo. Meski demikian, Masjid Agung masih aktif mendukung acara Keraton Surakarta pada upacara-upacara keagamaan, seperti pada bulan Maulid, Ramadhan, dan Syawal.

Kompleks Masjid Agung seluas 19.180 meter persegi. Dari lingkungan sekitar, kompleks masjid  dipisahkan dengan tembok pagar di sekeliling dengan tinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta bergaya tajug dengan atap tumpang tiga dan berpuncak (bermahkota). Tajug merupakan gaya bangunan tradisional Jawa yang digunakan khusus untuk bangunan masjid.

Memasuki masjid, tampak serambi masjid yang menjorok ke depan (tratag rambat). Bagian depan serambi tersebut membentuk kuncung. Sebelum memasuki masjid, pengunjung membasuh kaki pada kolam air yang mengelilingi serambi masjid.

Masjid Agung terdiri atas serambi, ruang shalat utama, pawestren (ruang shalat putri), balai musyawarah, tempat wudu, dan pagongan. Yang disebut terakhir  merupakan pendopo masjid, yang pada hari-hari biasa digunakan untuk istirahat pengunjung. Ketika bulan Maulud atau pada acara Sekaten, pagongan dipakai sebagai tempat gamelan keraton.

Selain itu, ada istal dan garasi kereta, gedung Pendidikan Guru Agama Negeri, menara azan, tugu jam istiwak, dan gedang selirang yang digunakan sebagai tempat pengurus masjid.

Di bagian belakang Masjid Agung Surakarta terdapat kompleks pemakaman. Salah seorang keturunan Susuhunan yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini adalah KPH Noto Kusumo yang merupakan putra Paku Buwono III.

Setiap hari ratusan pengunjung datang untuk menunaikan ibadah sholat dan beristirahat di serambi masjid karena letaknya yang strategis, yaitu dekat pusat kota dan di samping Pasar Klewer. Puncak kunjungan adalah pada saat Garebeg Sekaten dan Garebeg Syawal .

Lihat juga: Upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta

Saat itu, ribuan orang dari pelosok Surakarta, juga dari luar kota Surakarta, untuk mengikuti upacara Sekaten dan mengejar berkah dari gunungan tumpeng yang diarak dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Surakarta. Ada keyakinan dari masyarakat bahwa gunungan yang sudah didoakan di Masjid Agung memiliki berkah sehingga menjadi rebutan.

Lihat Juga: Gunungan dalam Upacara Garebeg Kesultanan Yogyakarta

LEAVE A REPLY

four × two =